
Evan langsung menepis tangan Aira yang menyentuh jerry. Aira yang belum menyadari kesalahannya memandangi Evan.
"Cepat berdiri! Kamu telah membuat jerry bangun," gumam Evan.
Aira berdiri perlahan. Ia mengucek matanya. Saat ini baru tampak jelas wajah Bos Evan, pria yang beberapa hari ini mengisi kepalanya. Aira tersenyum memperlihatkan gigi berkawatnya.
"Maaf, Pak. Ada yang bisa saya bantu," ucap Aira gugup.
"Apa yang kamu lakukan. Kenapa mencium lantai."
"Maunya mencium Bapak. Tapi pasti bapak tak mau," gumam Aira pelan tapi masih dapat didengar oleh Evan.
"Apa yang kamu katakan?"
"Nggak ada,Pak."
"Cepat siapkan berkas-berkas untuk rapat. Setelah itu langsung ke ruangan. Rapat akan di mulai."
Evan meninggalkan Aira dengan menggerutu."Sialan, keliatan banget jerry ini kurang belaian dan kasih sayang. Baru disentuh dikit aja langsung bangun."
Aira berjalan dengan meraba menuju bangkunya. Aira ingat masih ada menyimpan kaca mata lamanya di tas. Ia meraih tas dan mengambil kaca matanya.
Berkas-berkas buat rapat segera ia siapkan. Aira mengambil bedak dan lipstik dari dalam tas miliknya. Aira ingat pesan Evan, jika ia harus berdandan buat rapat.
Aira menghidupkan ponselnya dan mencari vidio tutorial cara merias wajah. Dengan percaya diri Aira mengikuti vidio itu. Setelah Aira selesai memoles wajah, ia mengambil berkas dan membawanya.
Aira dengan percaya diri berjalan memasuki ruangan meeting. Aira melihat banyak pria tampan rekan kerja bosnya Evan. Ia menjadi gugup dan gemetar.
Karena gugup ia tidak melihat ada alas kaki hingga kakinya tersangkut diujung keset dan terjatuh.
Evan yang melihat Aira terjatuh langsung berdiri dan mendekati gadis itu. Ia menutupi tubuh Aira. Evan teringat posisi Aira yang pernah jatuh dihadapannya. Evan langsung menolong Aira berdiri sebelum wanita itu melakukan kekacauan lebih lanjut.
"Cepat berdiri!" ucap Evan mengulurkan tangannya. Aira yang di tolong Evan menjadi salah tingkah. Jantungnya berdebar menyentuh tangan Evan.
Rekan bisnis Evan memandangi gadis itu dengan senyum tertahan. Mereka memperhatikan wajah Aira dengan seksama. Merasa heran karena biasanya sekretaris Evan berwajah cantik dan bentuk badan ibarat seorang model.
"Siapa wanita ini, Pak Evan," ucap salah seorang rekan kerja Evan.
"Sekretaris baru saya. Kenalkan namanya Aira."
Aira mengulurkan tangannya, tapi tak ada satupun dari rekan kerjanya Evan yang menyambut uluran tangan Aira.
Aira menarik tangannya lagi karena ia menyadari tak ada yang mau menyambut uluran tangannya.
Agar tak banyak pertanyaan dari rekan kerjanya, Evan meminta Aira memulai rapat. Tampak wajah tak percaya dari para rekan kerjanya Evan.
Saat Aira memberi presentasi, semua rekan kerja Evan terdiam. Baru mereka menyadari kenapa Evan menerima Aira sebagai sekretarisnya. Ternyata Aira sangat pintar.
Setelah memberi presentasi Aira menunggu pertanyaan dari para rekan bisnis Evan. Semua pertanyaan yang ditujukan dapat Aira jawab dengan baik.
Dua jam rapat selesai dan berjalan baik. Kecerdasan Aira membuat mereka akhirnya memutuskan untuk bekerja sama.
Evan sangat senang karena akhirnya dapat memenangkan tender. Evan ingin berterima kasih dengan gadis itu. Ia mengajak Aira makan malam.
Evan tak mengira di sisi lain keluguan wanita itu tersimpan otak yang cerdas.
"Makanlah! Nggak akan kenyang jika kamu hanya melotot memandangi makanan itu."
"Sendoknya mana, Pak?" tanya Aira akhirnya.
"Makanan ini tidak menggunakan sendok."
"Lalu kita makan dengan tangan aja. Kenapa Bapak nggak ngomong dari tadi." Aira langsung mencomot makanan dengan tangannya. Melihat tingkah Aira, Evan langsung memukul tangan Aira.
"Kamu ini berasal dari planet mana sih? masa makanan goni aja nggak ngeri. Cuci tanganmu! jorok banget." Aira mencuci tangannya.
"Aku memang nggak pernah makan ini,Pak."
"Sini! duduk dekat aku. Biar diajari. Memalukan jika nanti ada pertemuan di luar kantor, kamu nggak tau cara makannya. Kamu ini kalau otak bisa diandalkan tapi kalau penampilan nihil."
Aira meraptakan tubuhnya. Evan mengajarkan cara memegang garpu dan pisau. Saat ia mengajari Aira, tangan Evan menyentuh sesuatu yang padat berisi.
Evan melepaskan tangannya yang memegang tangan Aira dan melihat benda apa yang tadi tersentuh. Evan baru menyadari jika yang disentuhnya adalah gunung kembar milik Aira.
Gila benar, masih padat dan berisi. Ternyata di balik baju longgar yang biasa ia pakai tersimpan aset yang bernilai tinggi.
Evan menggelengkan kepalanya menyadari pikirannya yang sudah mulai ngawur. Aira memandangi Evan dengan heran.
"Bapak kenapa?"
"Oh, nggak ada apa-apa."
"Kenapa menggelengkan kepala."
"Jangan kepo. Kamu ini mau tau urusan orang aja. Teruskan makannya! Jangan banyak tanya."
Setelah makan malam Evan mengantar Aira ke kost. Awalnya Aira menolak, tapi karena Evan memaksa, Aira menerimanya.
Aira langsung membersihkan tubuhnya begitu sampai di tempat kost. Setelah mandi Aira duduk di kursi yang berada dekat jendela.
Langit yang cerah ditaburi bintang-bintang membuat duaan malam ini tampak sangat indah. Aira tersenyum sambil memandangi bulan yang bersinar hingga menerangi bumi.
Pak Evan tampan sekali, apakah aku bisa menaklukan hatinya. Senyumnya sangat menawan, dan suaranya merdu sekali. Sadar ... sadar Aira, kamu tak mungkin bisa meluluhkan hati pak Evan. Dia pria yang sangat tampan, tak mungkin sudi menerima cintaku. Tapi bukankah cinta itu buat. Ia tak melihat fisik dan rupa.
Aira bicara sendiri dengan hatinya. Ia tak bisa imenipis rasa sukanya pada pria itu.
Bukankah cinta itu anugerah. Seharusnya aku bersyukur masih di anugerahi cinta. Aku akan mencoaba menyembuhkan luka hati pak Evan. Tidak ada yang mengetahui kemana ia kan berlabuh. . Siapa tau pak Evan menyukai aku
Ditempat lain tampak Evan yang mondar mandir di balkon kamarnya. Ia masih saja terus memikirkan cara untuk membuat Abel kembali padanya.
Evan telah bertekat akan manfaatkan keluguan Aira untuk mendapatkan kembali cinta Abel. Mulai besok ia akan menebar pesonanya.
Mulai besok aku harus mulai mendekati Aira. Gadis itu bisa aku manfaatkan untuk membuat Abel kembali padaku lagi. Abel itu milikku, tak ada seorangpun yang bisa mengambilnya dariku.
Bersambung.
Aduh, ini novel tersulit yang mama kerjakan, karena mama terbiasa menulis berbagi cinta dan novel yang mengandung bawang.
Selamat menikmati novel yang bab kali ini mama sendiri yang memeluknya. Moga makin cinta dengan novel ini. Lope-lope sekebon ❤❤❤❤❤