
"Apakah anda yakin?" tanya Dokter tersebut kepada Aira mendengar permintaan Aira.
Ab*or*si sebenarnya bukanlah pilihan yang tepat bagi Aira, namun mengandung anak tanpa seorang ayah itu benar-benar adalah sebuah tekanan hidup bagi seorang Aira yang mencoba merubah nasib hidupnya setelah terpuruk dimasa lalu.
Dan orang yang berhasil membuatnya bangkit dari masa lalunya malah membuatnya hancur dan menyeretnya pada masalah yang rumit seperti ini
Merapal wajah ragu dari Aira, dokter tersebut menghela napas panjang kemudian meraih sebuah kartu nama dari dalam sakunya dan memberikannya kepada Aira.
"Mungkin ini adalah keputusan yang berat, pulanglah dulu, pikirkan ini dengan matang, jika kau sudah ada keputusan kau bisa menghubungi aku," ujar sang Dokter menyerahkan sebuah kartu nama kepada Aira.
Aira terdiam, kemudian mengambil kartu nama tersebut dari tangan Dokter kemudian kembali berdiri, ia merasa dia benar-benar perlu waktu saat ini.
"Terimakasih Dok,"
Aira berjalan keluar dari ruangan dokter tersebut dengan langkah gontai setelah mengetahui hal apa yang menimpanya, kini dia tengah mengandung anak dari Noah.
Aira keluar dari area rumah sakit dan berjalan menyusuri trotoar jalan, ia tidak ingin langsung pulang, dia ingin memberi self healing bagi dirinya sendiri sebelum batinnya berkata bahwa dia harus menerima kenyataan.
"Kenapa hidupku harus seberat ini?" tanya Aira membatin kemudian melanjutkan langkah gontainya.
Saat Aira tiba didepan sebuah minimarket, dia melirik masuk kedalam dan teringat ucapan dokter untuk minum susu hamil, entah dorongan dari mana Aira berjalan masuk kedalam minimarket tersebut dan berjalan mencari rak susu ibu hamil.
Disaat Aira hendak mengambil susu tersebut sebuah tangan tanpa menggenggam tangan lainnya yang membuat Aira membalikkan badannya.
"Evan?"
"Aira? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Evan menurunkan kacamata yang sedang dia pakai. "Susu ibu hamil?"
Aira melepas tangan Evan dan langsung pergi. "Maaf aku harus pergi."
Aira berjalan tergesa-gesa, sampai dia tidak sadar bahwa surat hasil pemeriksaannya jatuh dari dalam tasnya yang tidak tertutup sempurna.
Evan melihat surat tersebut kemudian membaca isinya, manakala ia mengetahui bahwa Aira tengah mengandung, betapa terkejutnya Evan saat itu.
"T-tapi? Tapi anak siapa?" tanya Evan dalam hati.
Evan segera berlari mengejar Aira, dia mencari keberadaan Aira sampai dia menemukan Aira yang sedang berjalan cepat di trotoar.
Aira hendak berlari namun terlambat saat Evan sudah mengekang tangannya. "Lepaskan aku!"
"M-maaf, bukannya aku ingin ikut campur dalam masalahmu. Tapi siapa ayah dari anak dalam kandunganmu?" tanya Evan menyerahkan surat pemeriksaan Aira yang terjatuh tadi.
Aira terdiam, dia menatap Evan yang masih penasaran dengan kondisi Aira. "Noah."
Jleb! Berapa hancurnya hati Evan mendengar itu, ia sudah belajar mengikhlaskan Aira yang pernah dia sia-siakan, dan merasa bahwa Noah adalah sosok yang pantas bagi Aira, namun ternyata Noah sendiri yang menghancurkan sosok wanita yang Evan sadari bahwa saat ini Evan sangat mencintai Aira, bukan karena penampilan tapi karena keteguhan hati dan renungan Evan selama ini.
"Dia-"
Aira perlahan menangis, sebelum Evan menyelesaikan kalimatnya, Aira menangis sesenggukan dihadapan Evan. "Aku akan menggugurkan anak dalam kandungan ini."
Mendengar itu Evan langsung menarik Aira kedalam pelukannya dan memeluknya erat, Aira yang tertekan hanya bisa pasrah dengan deraian air mata. "Jangan lakukan itu Aira, anak dalam kandunganmu tidak bersalah, bukan juga salah takdir, ini semua adalah kehendak, memang mengandung bukanlah kemauanmu tapi kau harus sadari bahwa mengugurkannya bukanlah pilihan."
Aira terdiam dalam tangisnya, Evan dengan ragu dan tidak enak hati, bukannya mengambil kesempatan, namun reflek dia mengusap rambut Aira berusaha menenangkan hati wanita yang dia cintai itu.
Evan seperti merasakan sakit yang dirasakan Aira, jika waktu bisa di putar, ia tidak akan pernah menyia-nyiakan Aira dalam hidupnya dan membiarkan Aira terjebak bersama pria bernama Noah.
"Tenangkan dirimu, aku ada bersamamu," jawab Evan mempererat pelukannya.
•
•
•
TBC
BAB INI DITULIS OLEH RIDZ uhuyyy si Anak Lanang nya Mama Reni yang paling bungsu dan ganteng.
Mampir di Novelnya Ridz dong kakak-kakak, SUAMI PENGGANTIKU BOSS MAFIA :)
Cita" hari ini adalah jadi Fans nya Evan