SHE WAS UGLY

SHE WAS UGLY
Bab 25. Makan siang



Asik berbicara hingga mereka tak menyadari sudah sampai di perusahaan. Noah membantu Aira membuka seatbelt ketika wanita itu tidak bisa membukanya karena macet. Noah sedikit mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Aira, hingga nafas wanita itu menerpa wajahnya.


Noah menelan salivanya kasar, buah tanpa pohon yang ia lihat tadi kini berputar di pikirannya.


"Pa ... Pak Noah," gugup Aira karena tubuh mereka begitu dekat, jika ada yang melihatnya ,mungkin mereka akan mengira sedang berciuman.


Noah menoleh, hingga hidungnya hampir menyentuh hidung Aira. Waktu seakan berhenti saat itu juga, tatapan mereka terkunci satu sama lain. Tatapan Noah turun pada bibir pink Aira yang sangat menggoda. Bisikan setan mulai terdengar di telinga Noah apa lagi memikirkan buah semangka Aira yang tak sengaja ia lihat tadi.


Cium Noah ini kesempatan yang bagus untuk mu!


Bisikan itu terus terdengar ditelinga Noah, hingga menumbuhkan keberanian. Ia semakin mendekatkan wajahnya. Aira memejamkan mata saat benda kenyal mereka hampir menyatu.


"Sh*iitt!" umpat Noah saat ponselnya berdering membuyarkan suasana romantis itu. Ia segera menjauhkan tubuhnya kemudian menjawab panggilan dari seseorang.


"Terimakasih pak sudah mau menjemput saya," ucap Aira buru-buru turun dari mobil Noah, jujur saja sekarang jantungnya berdetak sangat cepat karena gugup, dan bodohnya ia menanti sesuatu terjadi.


Ribuan kupu-kupu serasa mengelitik perutnya, entah karena apa. Sepanjang memasuki perusahaan Aira tak henti-hentinya menangkup pipinya sendiri untuk menetralkan kegugupan, juga menyembunyikan rona merah yang menyembul di wajahnya.


"Aira jangan baper seperti ini, ingat pak Evan pernah melakukannya, dan semua itu berhasil menyakiti hatimu." Aira mencoba mengigatkan dirinya.


Tak beda jauh dari Noah, laki-laki itu salting sendiri mengingat kejadian baru-baru itu. Noah mengambil jalan lain menuju ruangannya.


"Apa semenyenangkan ini jatuh cinta?" gumam Noah tak percaya, merasai detak jantungnya yang berbeda saat bertemu dengan wanita lain.


Hingga siang hari, Noah tak bisa fokus bekerja, dipikirannya hanya ada Aira dan Aira, padahal wanita itu sedang sibuk bekerja di ruangan lain. Tak bisa menahan rasa mengebu di dada, akhirnya Noah mengunjungi ruangan Aira dengan alasan pekerjaan.


"Aira saya ada jadwal makan siang dengan klien apa kau mau ikut?" tanya Noah membuat Aira mendongak.


"Jadwal?" beo Aira, bukannya kalau ada jadwal, semua ia yang mengurus? Kenapa tiba-tiba Noah ada jadwal tanpa sepengetahuannya?


"Apa saya harus ikut pak? Pekerjaan saya belum selesai," lanjut Aira.


"Baik pak saya akan ikut," putus Aira.


Tanpa Aira sadari Noah mengembangkan senyum, akhirnya ia berhasil mengajak Aira makan siang bersama. Keduanya makan siang tak jauh dari kantor.


"Pak kenapa kliennya belum datang?" tanya Aira setelah makanan siap saji tetapi orang yang di tunggu belum juga datang.


"Dia baru mengabari tidak bisa datang karena kepentingan mendadak," alibi Noah padahal memang awalnya ia berbohong.


"Terus bagaimana dengan makannya pak?"


"Bagaimana lagi, kita sekalian makan siang aja, dari pada terbuang sia-sia," santai Noah.


"Iya juga ya pak, kenapa nggak kepikiran." Aira menertawakan kekonyolannya sendiri.


"Aira!" panggil Noah ditengah-tengah aktivitas makan mereka. Aira mendongak. "Apa kamu tidak berniat membuka hati untuk orang lain?"


"Untuk sekarang sepertinya tidak pak, saya ingin fokus berjalan dan menata hati dengan baik. Kenapa?" tanya Aira balik.


"Tidak, saya hanya bertanya."


****************


Selamat membaca kakak² tersayang, semoga part ini menghibur untuk kalian.


Salam hangat dari "Cinta dan Masa lalu"


Author: Susanti 31