
"Pergi!"
"Pergi kau dari sini!"
"Jangan sentuh aku. Aku mohon ...."
"Aira."
Evan memeluk gadis dalam pangkuannya itu dengan erat. Rahangnya mengeras melihat betapa menyedihkannya keadaan Aira.
Kedua matanya menyorot tajam ke arah Noah yang berdiri di depan mobilnya. Pria itu mengetuk kaca mobil Evan berkali-kali agar Evan membiarkannya berbicara dengan Aira.
Laki-laki itu tidak mau menyerah ingin berbicara dengan Aira. Noah bahkan tidak mempedulikan teriakan Aira yang sangat ketakutan saat melihatnya.
"Dasar brengsek!"
Evan menggeram marah.
"Evan, buka pintunya. Aku ingin bicara dengan Aira!"
"Evan!"
"Evan!" teriak Noah.
Aira semakin mendekap tubuh Evan saat teriakan Noah dan bunyi ketukan mobil terus terdengar.
"Pergi! Aku mohon ...." Suara Aira kembali terdengar. Gadis itu semakin mempererat pelukannya pada Evan.
Evan perlahan menurunkan tubuh Aira dari pangkuannya.
"Kau tunggu sebentar."
Tubuh Aira terlihat bergetar saat Evan melepas pelukannya.
Gadis itu masih terlihat ketakutan.
"Tenanglah! Aku hanya sebentar."
Tanpa menunggu lama, Evan langsung membuka pintu mobil dan mendorongnya dengan kasar.
Noah yang tidak siap, hampir saja terjungkal. Evan bergerak cepat menarik kerah baju Noah.
"Dasar bajingan! Tidakkah kau lihat kalau Aira sangat ketakutan saat melihatmu?" Sebuah pukulan mendarat di pipi Noah.
Laki-laki itu meringis. Namun, dia sengaja tidak ingin membalas perbuatan Evan.
"Aku hanya ingin bertemu dengannya. Aku ingin meminta maaf padanya."
"Aira tidak butuh maafmu, Noah. Dia hanya ingin kau pergi sejauh mungkin dari hidupnya!"
"Aku hanya ingin bicara sebentar dengannya, Evan, aku mohon ...."
"Apa kau tidak lihat? Dia bahkan ketakutan saat melihatmu!" Tangan Evan terkepal ingin kembali menghajar Noah. Namun, diurungkannya saat dia teringat Aira yang masih ketakutan dalam mobilnya.
Pria itu kemudian melepaskan Noah. Mendorong laki-laki itu dengan kasar.
"Aira sangat ketakutan saat melihatmu, Noah. Apa kau tidak kasihan padanya?"
"Semua perbuatan yang telah kau lakukan padanya meninggalkan luka yang sangat dalam dan juga trauma, seharusnya kau sadar itu, Noah!"
"Aku tahu, karena itu aku ingin bicara dengan dia. Aku ingin meminta maaf padanya, Evan!"
"Sudah lama aku mencarinya, baru hari ini aku bisa bertemu dengan dia. Aku benar-benar ingin minta maaf, Evan. Aku ingin bicara sama dia!"
"Tapi Evan, aku-"
Evan bergegas kembali ke dalam mobilnya tanpa memedulikan ucapan Noah.
"Evan!"
"Kalau benar kau mencintai Aira, beri perempuan itu waktu agar dia bisa memaafkanmu, Noah!"
"Kamu pikir gampang melupakan perbuatan tidak bermoral seperti yang telah kau lakukan padanya? Kamu sudah merenggut masa depannya juga semua kebahagiaannya, Noah. Tidak mudah bagi Aira untuk memaafkanmu!"
"Kamu benar-benar pria brengsek! Aku sengaja mengalah padamu agar kau bisa menjaganya dengan baik tapi ternyata kau justru menghancurkannya!"
"Dasar brengsek!"
"Aku menyesal telah memberikan Aira padamu karena ternyata kau lebih-lebih bajingan dari aku!
"Evan-"
"Pergilah! Jangan kau coba-coba mendekatinya lagi!"
Evan menyorot tajam ke arah Noah. Pria itu kemudian bergegas meninggalkan Noah yang terus berteriak padanya.
"Evan!"
"Evan, tunggu!"
Evan masuk ke dalam mobilnya. Laki-laki itu menatap iba pada Aira yang kini meringkuk di jok mobil.
Tidak tega melihat Aira, pria itu langsung tancap gas meninggalkan pantai. Niat hati ingin menghibur Aira, tetapi dia justru bertemu dengan pria brengsek yang telah menghancurkan hidup Aira.
***
Evan membaringkan tubuh Aira ke atas ranjang. Perempuan itu tertidur dalam perjalanan pulang.
Merasa tidak tega untuk membangunkan Aira, Evan kemudian membawa perempuan itu ke apartemennya, karena dia tidak tahu tempat tinggal Aira yang sekarang.
Kalau aku tahu kalau pria itu hanya menyakitimu, saat itu aku pasti tidak akan pernah meninggalkanmu Aira. Meskipun saat itu kau sangat membenciku.
Bersambung.
Bab kali ini ditulis mama Nazwa Talita. Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel mama Nazwa Talita dulu.
Judul Novel : MAAFKAN AKU, ISTRIKU.
Perjuangan Abimanyu untuk mendapatkan kembali cinta Renata, sang istri yang telah berulang kali disakitinya.
Tidak mencintai gadis yang menjadi wasiat terakhir ibunya membuat Abimanyu seringkali menyiksa dan menyakiti hati Renata hingga berkali-kali.
Akankah Bima bisa kembali mendapatkan cinta istrinya? Sementara hati Renata telah mati rasa akibat perbuatan Abimanyu yang telah menyebabkan buah hati dan ibunya meninggal dunia.
"Mas Bima-"
"Panggil aku Tuan seperti biasanya, karena kau hanyalah seorang pembantu di sini!"
"Ta-tapi Mas, kata Nyonya-"
"Ibuku sudah meninggal. Aku menikahimu karena keinginan ibuku, Jai kau jangan berharap dan bermimpi kalau aku akan menuruti keinginan ibuku untuk menjagamu!"
"I-iya, Tu-Tuan ...."