
Sikap Evan yang semakin hari semakin hangat padanya, membuat Aira begitu yakin untuk mengungkapkan perasaanya hari ini. Aira tak henti-hentinya tersenyum, senyuman secerah pagi yang indah, berjalan santai memasuki lobi perusahaan.
Senyuman yang menurutnya cantik, malah membuat karyawan lain yang melihatnya tertawa, apa lagi saat melihat gigi berpagar hitam layaknya rumah di pinggir jalan.
Aira menghembuskan napas panjang sebelum membuka pintu ruangan Evan, berjalan mendekat masih dengan senyumnya.
"Pak Evan aku ...."
"Ah kebetulan kau ada di sini, aku ingin mengatakan sesuatu padamu," potong Evan cepat sembari berdiri dan mengajak Aira duduk di sofa.
Batin Aira mulai menerka-nerka, apa sebenarnya yang akan pak Evan katakan, hingga mengajaknya duduk di sofa.
'Mungkinkah pak Evan mau mengatakan cintanya pada ku? Tidak-tidak, pak Evan tidak mungkin jatuh cinta sama aku. Tapi kalau benar itu terjadi, aku akan menerimanya dengan senang hati.'
Alis Evan terangkat dengan ekspresi datar menyertai saat melihat Aira seperti orang gila, sebentar mengeleng, sebentar tersenyum geli.
'Apakah keputusan aku sudah benar?'
Batin evan kembali bermonolog, ragu akan keputusan yang akan ia ambil, jangan sampai bukannya membuat Abel cemburu, malah ia mempermalukan diri sendiri.
"Pak Evan, boleh aku minum dulu?" izin Aira menunjuk air mineral di atas meja, rasa gugup membuatnya haus apa lagi sedari tadi Evan diam saja. Tanpa menunggu jawaban, Aira menyambar air minum itu.
"Aira hari ini kamu jadi pacar aku!"
Byur
Air di mulut Aira seketika menyembur layaknya air hujan membasahi wajah tampan Evan.
"Sh*it," umpat Evan.
"Maaf ... pak, maaf." Aira buru-buru berdiri dan mendekat, mengambil tisu di atas meja lalu melap wajah tampan Evan. Ia sedikit menarik dagu laki-laki itu agar segera mendongak.
'Apa lagi ini? Kemarin aku tak sengaja menyutuh buah tak berpohon itu, dan hari ini aku hampir menciumnya.'
Evan menyingkirkan tangan Aira dari wajahnya, bangkit lalu kembali duduk di kursi kebesarannya.
"Kau dengar tadi? Mulai hari ini kamu jadi pacar aku," ulang Evan. Ingat itu bukan permitaan, kerena sampai kapanpun seorang Evan tidak akan melakukannya.
Terlalu bahagia akan Kalimat Evan, Aira langsung mengiyakan tanpa mencernanya baik-baik. Baginya, menjadi pacar Evan sebuah anugerah, rasa suka yang selama ini ia rasakan tidak bertepuk sebelah tangan.
"Aku akan menaikkan gajimu karena bersedia membantuku," ujar Evan membuat Aira melongo.
"Ya membantu. Aku ingin membuat Abel cemburu dan kembali padaku, dan kau akan membantuku untuk itu," jawab Evan.
Aira tersenyum menyedihkan, rasa bahagia yang baru saja ia rasakan kini berubah menjadi kekecewaan. Evan mengajaknya pacaran bukan karena cinta, tetapi untuk membuat mantan pecarnya kembali.
Sudah kepalang, ia terlanjur basah, membuatnya memutuskan untuk menyemplung semakin dalam. Menjadi pacar pura-pura, ia akan melakukan itu untuk Evan, berharap suatu saat nanti kepura-puraan itu bisa berubah menjadi suka. Aira tidak akan mundur mendapatkan hati Evan.
"Ada yang ingin kau katakan?" tanya Evan di jawab gelengan oleh Aira.
"Kosongkan jadwal kita hari ini, aku ingin mengajak Abel Dinner malam nanti, dan kau akan ikut,"
"Aku ikut?"
"Tentu saja kau ikut, kau pacarku sekarang, jadi kemanapun aku pergi kau akan selalu ikut terutama jika bertemu dengan Abel," Jawab Evan.
"Ta ... tapi ...," gugup Aira.
"Kau tidak perlu khawatir dan gugup seperti itu! Kita akan ke salon untuk mengubah penampilanmu agar sedikit lebih berkelas saat bertemu Abel. Jadi segera kosongkan jadwal hari ini!" perintah Evan.
Dengan patuh Aira melaksanakan perintah Evan, mengosongkan seluruh jadwal metiing yang tidak terlalu penting dan dipindahkan ke hari berikutnya, setelah itu mereka pergi berdua menju salon yang lumayan mewah dan tentu saja mahal.
Lama Evan menunggu Aira di permak habis layaknya baju, hingga wanita itu benar-benar selesai. Ia tersenyum tipis, lumayan cantik dari penampilan sebelumnya, dan semoga saja sekretarisnya itu tidak membuat masalah nanti.
Sembari menunggu waktu yang telah di tentukan Abel, Evan terlebih dahulu membawa Aira ke sebuah restoran dengan ruangan VIP untuk mengajarkan wanita kampungan itu cara makan baik dan benar, mulai dari cara menggunakan garpu juga pisau.
Evan ingin pertemuan malam ini dengan Abel berjalan sesuai rencana, Abel cemburu karena melihatnya sudah punya pacar, dan meminta kembali.
"Aira! Bisakah kau tidak kaku seperti itu saat memegang pisau?"
"Aku tidak terbiasa pak, lagian pisaunya terlalu kecil juga piringnya terlalu licin," jawab Aira dengan polosnya, berusaha memotong steik.
Lelah memegang garpu juga pisau, Aira meletakkan garpu itu, lalu memegang steik dengan tangan kirinya. Memotong steik layaknya pedagang ayam di pinggir jalan, setelah itu tersenyum tanpa dosa pada Evan.
"Selesai pak," ujarnya, mengambil garpu lalu memakan Steik yang sudah ia potong.
******
Hay aku Susanti salah satu Author yang ikut colab, bab ini aku yang tulis moga aja suka😊.
Salam dari Sarjana Perbucinan, authornya Hay pak guru dengan nama Pena Susanti 31.