
Tidak bisa fokus bekerja setelah bertengkar dengan Evan yang terus memakinya, Aira izin pulang lebih cepat. Akan tetapi, tujuannya bukan ke rumah, melainkan ke sebuah tempat yang tak pernah Aira kunjungi sebelumnya.
Aira menemukan tempat itu berbekal Google maps di ponselnya.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Aira menginjakkan kaki di tempat haram yang sering dikunjungi pria hidung belang perempuan-perempuan nakal untuk mendapatkan mangsa atau sekedar melampiaskan naf*su sesaat.
Suara musik terdengar memekakkan telinga saat kaki Aira melangkah semakin dalam.
Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah, tatapannya tertuju pada meja bartender yang tak jauh dari pintu, Aira mendudukan diri di sana.
"Berikan aku segelas minuman," pintanya pada bartender.
"Kau yakin, Nona?" tanya Bartender meneliti penampilan Aira yang jauh dari kata nakal.
"Yakin, apa kau juga akan menghinaku?"
"Ah, bukan seperti itu Nona," jawab Bartender menyiapkan segelas minuman mengandung kadar Alkohol lumayan tinggi pada Aira.
Penampilan tak menjamin seseorang baik atau buruk, dan mungkin saja wanita di depannya hanya ingin menutupi diri. Begitulah pikiran Bartender muda itu.
Lama Aira duduk di meja bartender, menghabiskan beberapa gelas minuman yang terasa pahit juga panas di tengorokannya. Tak ada yang mendekati Aira atau menggodanya.
Mungkin karena melihat penampilan wanita itu yang tidak menarik. Apalagi, sedari tadi Aira cengar-cengir sendiri memperlihatkan pagar hitam di dalam mulutnya.
Merasa pelangannya semakin kacau, Bartender muda itu membopong Aira keluar dari tempatnya bekerja.
Menyetop taksi lalu mendorong tubuh Aira masuk serta melempar tasnya setelah mengambil beberapa uang sebagai bayaran minuman yang telah dihabiskan Aira.
"Nona, boleh saya tau di mana alamat rumah Anda?" tanya sopir taksi.
"Kenapa kau menanyakan alamat rumahku? Apa kau juga ingin menghina dan membuliku seperti yang lain? Aku tidak akan memberitahumu," racau Aira antara sadar dan tidak.
"Nona bagaimana saya akan mengantar Anda jika tidak tahu alamat rumah Anda?"
"Kau ingin mengantarku pulang ke rumah? Kenapa kau baik sekali padaku? Kau tidak sedang merencanakan sesuatu, kan? Atau kau ingin aku menjadi pacar pura-puramu juga?" tanya Aira menepuk-nepuk pundak sopir taksi itu.
"Ya Allah, aku ingin pulang bertemu anak dan istriku, kenapa aku harus mendapat penumpang seperti ini?" batin sopir taksi mengadukan nasibnya, merasa sial mendapat penumpang seperti Aira.
"Pak, apa kau ingin mengantarku pulang?"
"Tidak! Saya akan manjual Nona," jawab sopir taksi itu kesal.
"Antar aku pulang pak, aku tidak mau di jual, rumahku di ...."
Sopir taksi itu nengerutu tak habis-habisnya, Aira baru menyebutkan alamat rumah setelah dia melewati perempatan, hingga dia terpaksa harus putar balik lagi.
***
Aira tertawa mengejek, menertawakan dirinya lewat pantulan cermin, sembari menunjuk-nunjuk layaknya menghina seseorang.
"Lihatlah Wajah dan penampilanmu, pantas saja kau di hina seperti itu!"
"Gigi ini ...." Aira tersenyum didepan cermin, memperlihatkan pagar hitam di mulutnya.
"Sangat jelek!"
Saat akan berjalan ke tempat tidur, kaki Aira tersandung kaki meja, membuat wanita itu terjatuh ke lantai. Tidak kuat untuk bangun, Aira malah tidur telentang di lantai tanpa alas.
"Kalau kau tidak ingin dihina, maka rubahlah penampilanmu, Bodoh!" makinya pada diri sendiri.
Malam itu, Aira terus bicara sendiri dan tiba-tiba seolah mempunyai dua kepribadian karena mabuk berat.
"Ya! Aku harus mengubah penampilanku, setidaknya melepas pagar gigiku kata pak Evan," sahut Aira.
Aira terus meracau seorang diri, hingga tertidur di lantai.
Sinar matahari mulai masuk ke kamar wanita itu, menerpa wajah hingga menyilaukan mata. Aira membuka matanya perlahan-lahan sembari memegangi kepalanya yang teras pusing.
"Kenapa kepalaku sakit sekali?" gumamnya berusaha berdiri.
Gadis itu terlihat kaget melihat wajah juga penampilannya yang berantakan karena efek mabuk semalam.
"Sepertinya aku sudah gila karena pak Evan."
Bukannya berangkat kerja, wanita itu termenung di meja riasnya yang hanya terdapat lipstik juga bedak baby di sana, sambil meneliti wajahnya yang jauh dari kata cantik.
"Kenapa semua perempuan bisa terlihat sangat cantik sementara aku tidak bisa?" gumam Aira.
"Apa aku harus belajar make up untuk cantik dan bisa menarik hati pak Evan kembali?"
Aira mengambil benda pipihnya di atas meja, mengirimkan surat izin cuti online satu hari. Dia akan merubah penampilannya sebisa mungkin, berbekal benda pipih di genggamannya.
Tanpa sarapan dan mandi, Aira mencari situs make up yang bisa dia pelajari, hingga pilihannya tertuju pada salah satu konten.
Aira memperhatikan apa-apa saja yang dipakai di dalam konten itu, tak lupa Aira mencatatnya.
"Soflent? Apa itu? Benda kecil yang di masukkan ke mata. Bagaimana jika tidak bisa keluar?" gumam Aira. "Tidak ... tidak ...."
"Aku akan membeli kaca mata yang lebih tipis daripada harus memakai benda berbahaya itu." Monolognya.
Bersambung
Bab kali ini kembali ditulis oleh Author dengan nam pena Susanti 31 dengan novelnya yang sedang on going CINTA DAN MASA LALU.