SHE WAS UGLY

SHE WAS UGLY
Bab 8. Dinner yang gagal.



Aira menatap tak percaya pada deretan gaun yang dipilih Evan untuknya. Sementara, beberapa pegawai butik yang mengantar Aira ke kamar ganti terlihat begitu iri melihat perempuan yang menurut mereka sangat kampungan itu begitu beruntung.


Aira menatap dirinya di depan cermin.


'Apa dia sudah gila? Menyuruhku memakai baju kurang bahan begini?'


Gaun malam itu sangat pas melekat di tubuh Aira. Perempuan itu terlihat sangat seksi karena gaun itu sangat terbuka di bagian dada dan punggungnya.


Dada Aira yang lumayan besar bahkan menyembul seolah ingin keluar dari sarangnya. Bukan hanya itu, gaun panjang itu juga mempunyai belahan yang cukup tinggi, hingga paha mulus Aira pun terekspos dengan jelas.


Aira buru-buru melepaskan gaun itu. Wajahnya bersemu merah, merasa malu pada dirinya sendiri.


'Kalau model bajunya seperti ini, mending tidak usah memakai baju sekalian. Apa mereka itu bodoh? Katanya butik terkenal, tapi bajunya nggak ada yang bagus," gerutu Aira kesal.


Perempuan itu beberapa kali mencoba gaun pilihan Evan, tetapi tidak ada satupun yang cocok untuk dipakainya. Dia beberapa kali memanggil pegawai yang menunggunya di depan ruang ganti, membuat mereka semakin kesal.


'Dasar orang udik!' Salah satu pegawai itu mengumpat dalam hati. Dia sangat kesal melihat tingkah Aira yang hanya mengacak-acak baju mahal itu tanpa mencobanya.


"Maaf, Nona. Kenapa Nona tidak mencobanya terlebih dahulu? Siapa tahu gaun ini cocok buat Nona." Salah satu pegawai memperlihatkan gaun pilihan Evan yang paling mahal dan terlihat sangat mewah juga elegan.


"Gaun ini sangat bagus. Aku yakin, gaun ini pasti sangat cocok untuk Nona."


"Gaun seperti ini kau bilang bagus? Yang benar saja? Apa kau tidak melihat kalau gaun ini robek di bagian dada dan punggungnya?" ucap Aira kesal.


"Katanya butik terkenal, tapi bikin baju aja nggak bisa. Gimana sih?"


Kedua pegawai yang sedari tadi menemani Aira melongo mendengar ucapan perempuan itu.


"Gaun ini nggak ada yang bagus! Aku mau pakai yang lain saja."


Aira mengacak-acak tumpukan gaun mahal yang dipilih Evan untuknya. Gadis kampung itu tidak tahu, kalau harga satu helai gaun itu bahkan lebih mahal dibandingkan gajinya selama sebulan menjadi sekretaris.


"Aira! Apa kau sudah si-"


"Kau belum ganti baju?" seru Evan kaget.


Sudah setengah jam berlalu, tetapi perempuan itu belum memakai gaun yang dia pilih tadi.


"Semua gaun yang Bapak pilih sangat jelek. Aku tidak mau memakainya."


"Apa maksudmu?"


"Memangnya Bapak tidak lihat? Semua gaun itu robek."


"Robek?" Pandangan Evan beralih pada kedua pegawai butik yang memegang tumpukan gaun yang sengaja dia pilihkan untuk Aira.


"Nona ini tidak mau mencobanya karena merasa tidak cocok dengan modelnya, Tuan. Bukan karena robek." Salah satu pegawai menjelaskan pada Evan.


Evan menghela napas. Dia lupa, kalau di hadapannya ini adalah Aira, bukan Abel yang terbiasa memakai gaun terbuka, hingga memperlihatkan lekuk tubuh indahnya.


"Baiklah! Tetap tunggu di sini. Aku akan memilihkannya untukmu," ucap Evan sedikit kesal.


***


Aira terlihat sangat berbeda dengan gaun malam berwarna hitam yang sedikit terbuka di bagian punggungnya. Perempuan itu terlihat risih karena tidak terbiasa memakai pakaian yang terbuka.


Gaun yang dipakainya saat ini adalah gaun terakhir pilihan Evan yang terpaksa harus dia pakai malam ini. Dari sederetan gaun malam yang dipilih Evan, hanya gaun ini yang menurut Aira lebih pantas dia pakai.


Setelah dari butik, Evan kembali membawa Aira ke salon untuk memperbaiki penampilan gadis itu. Malam ini dia tidak ingin gagal membuat Abel cemburu. Evan ingin membuktikan pada perempuan itu kalau dirinya juga sudah mempunyai kekasih.


Evan sedikit terkejut saat melihat penampilan Aira. Gadis itu sungguh terlihat berbeda. Aira terlihat sangat cantik dengan gaun malam dan polesan makeup yang membuat perempuan itu terlihat semakin mempesona.


Namun, Aira tetaplah Aira. Meskipun dia terlihat sangat cantik, tetap saja sikapnya tidak berubah.


"Pak Evan, aku sangat


cantik, bukan?" ucap Aira dengan begitu pedenya.


"Tapi kau harus ingat, Aira, kau tidak boleh mempermalukan aku di sana."


"Tentu saja. Tapi ...."


"Tapi apa?" tanya Evan tidak sabar.


"Aku akan pergi ke sana jika Pak Evan benar-benar menjadikan aku sebagai pacar sungguhan."


"Apa maksudmu, Aira?"


"Aku tidak mau jadi pacar pura-pura Bapak," jawab Aira sedikit gugup.


"Baiklah! Mulai sekarang kau adalah pacarku sungguhan," jawab Evan asal.


"Benarkah? Jadi Bapak mau menjadi pacarku sungguhan?" Aira menatap wajah tampan Evan yang sedang serius mengemudi dengan wajah berbinar.


"Hmm ...."


***


Evan dan Aira sampai di depan restoran mewah. Mereka berdua keluar dari mobil, kemudian melangkah beriringan masuk ke dalam restoran.


Aira memeluk lengan Evan dengan senyum mengembang di bibirnya. Perempuan itu kini sangat bahagia karena mulai sekarang, dia adalah pacarnya Evan.


Aira tidak tahu, kalau Evan hanya asal bicara, yang penting rencananya tercapai.


Evan tersenyum saat melihat perempuan yang sampai saat ini masih dicintainya itu sudah berada di sana.


Abel dan kekasihnya ternyata datang lebih awal dari waktu yang sudah ditentukan.


"Aira."


"I-iya, Pak.


"Jangan memanggilku Bapak."


"Ta-tapi ...."


"Panggil aku 'Sayang'."


"Hah?"


"Sekarang kau adalah pacarku, jadi kau harus memanggilku 'Sayang'."


"Ba-baiklah, Sayang." Aira tersenyum malu-malu. Jantungnya berdetak dengan cepat.


Evan tersenyum ke arah Aira, membuat gadis itu langsung klepek-klepek serasa mau pingsan. Aira memegangi dadanya yang berdebar-debar.


"Ingat, Sayang, sekarang kau adalah pacarku," bisik Evan di telinga Aira, saat mereka sampai di depan Abel dan kekasihnya.


"Hai, Bel." Evan menjabat tangan Abel dan pria tampan di samping perempuan itu.


"Kenalin, ini Aira, kekasihku."


Aira tersenyum kemudian menjabat tangan Abel dan juga kekasihnya.


"Dia kekasihmu?" tanya Abel sambil menatap Aira dari ujung kepala sampai kaki. Wajahnya terlihat kesal, tetapi dia segera menutupinya dengan senyuman.


"Iya. Kami baru beberapa hari ini jadian."


"Benarkah?" Abel menatap Evan dengan kesal.


'Kenapa dia begitu cepat menemukan penggantiku?'


Abel menatap Evan, sang mantan kekasih yang terlihat sangat tampan seperti biasanya. Perasaannya sangat kesal karena Evan ternyata sudah mendapatkan pengganti dirinya.


Sementara, Evan menarik sudut bibirnya. Merasa yakin kalau rencananya untuk membuat Abel cemburu akan berhasil.


Beberapa menit kemudian, makanan yang mereka pesan datang. Aira tersenyum sumringah, apalagi saat mencium aroma makanan yang menggugah selera. Apalagi, perut Aira terasa lapar sedari tadi.


Namun, senyum Aira langsung menghilang saat melihat makanan yang saat ini sudah tersaji di atas meja. Makanan adalah makanan yang sama seperti yang Aira makan bersama Evan di restoran tadi siang.


Aira menatap Evan yang terlihat mengangguk sambil tersenyum ke arahnya.


"Ingat, Sayang, pakai pisau motongnya, bukan pakai tangan." Evan mengingat kejadian di restoran tadi siang.


Aira mengangguk sambil tersenyum. Baru dipanggil Sayang saja, tubuhnya gemetar.


Mereka berempat menikmati makan malam itu dengan sesekali tertawa.


Evan terus memperhatikan Abel yang sedari tadi tidak berkedip menatapnya. Thomas, kekasih Abel tampak serius menyantap makan malamnya. Sambil sesekali menatap ke arah layar ponselnya.


Sementara itu, Aira terlihat kesusahan memotong daging steik di piringnya. Saking kesal, Aira menggunakan tenaganya untuk memotong daging itu.


Namun, belum sempat daging itu terpotong, tangannya yang memegang garpu terpeleset karena piringnya licin. Alhasil, steik yang belum berhasil dia potong terlempar, hingga tak sengaja mengenai seseorang yang duduk tak jauh dari Aira.


Bak film komedi yang sering Aira tonton di rumah kontrakannya, daging steik itu ternyata terlempar mengenai kepala lelaki botak bertubuh mini yang baru saja selesai makan dan berdiri tak jauh dari Aira.


Daging yang masih berukuran lebar itu tanpa sengaja menempel di kepala plontos pria itu.


"Aira!" Wajah Evan merah padam karena merasa sangat malu.


Sementara Aira segera beranjak dari duduknya dan mengambil daging yang masih menempel di kepala pria berkepala botak itu.


"Maafkan, Saya. Saya tidak sengaja. Tangan Aira yang memegang daging mengusap kepala botak pria itu untuk membersihkan kotoran di kepalanya, tetapi bukannya bersih, semua noda di tangannya justru menempel di kepala pria itu.


"Aira!" Evan menggeram marah melihat tingkah Aira. Semua orang tertawa melihat kejadian itu. Bahkan ada beberapa orang yang merekam kejadian itu.


Evan mendekati Aira yang terlihat ketakutan. Namun, sebelum Evan sampai di depan Aira, pria berkepala botak itu mendorong Aira, hingga tubuh Aira terjatuh. Namun, sebelum terjatuh, tubuh Aira tidak sengaja menimpa pelayan restoran yang sedang membawa makanan pesanan pelanggan.


Semua makanan tumpah mengenai Aira dan seorang pelayan yang ikut terjatuh karena pria botak itu mendorong tubuh Aira cukup keras.


"Dasar perempuan bodoh!"


"Brengsek!" maki laki-laki berkepala botak dengan tubuh pendek itu. Dia merasa marah karena merasa dipermalukan oleh Aira.


Sementara, Evan melihat kejadian itu dengan wajah merah padam menahan malu dan amarah.


Berbeda dengan Abel yang tertawa puas sambil mendekati Evan.


"Jadi dia, perempuan yang kau pilih sebagai penggantiku, Evan? Aku benar-benar sangat terkejut!"


Mendengar perkataan Abel, Evan mengepalkan tangannya.


Sedangkan Thomas yang merasa kasihan melihat Aira, segera mendekati gadis itu dan menolongnya.


Beberapa pelayan restoran mencoba menenangkan pria botak yang masih memaki Aira.


Aira menangis, menatap orang-orang yang kini mentertawakannya. Ekor matanya melirik Evan yang hanya berdiri dengan wajah penuh amarah tanpa bermaksud untuk menolongnya.


**Bersambung.


Bab ini ditulis oleh penulis yang memiliki nama pena Nazwa Talita dengan judul novel on going DENDAM. Jangan lupa mampir juga kenovelnya**.