
Aira mengerjakan semua dengan serius, hingga tak menyadari jika Noah telah berada di sampingnya. Noah memperhatikan cara kerja Aira yang begitu cekatan.
Merasa ada yang memperhatikan Aira berpaling dari laptopnya.
"Bapak! Buat kaget aja. Kenapa berdiri di samping saya. Nggak capek?"
"Oh, itu tadi ... saya ...." Noah tampak gugup tak tau harus berkata apa. Ia juga kaget saat Aira menegurnya karena asyik memperhatikan gadis itu dan cara kerjanya.
"Sebaiknya kamu makan dulu. Saya udah belikan makanan buat kita berdua." Noah memperlihatkan dua kantong berisi makanan dan minuman.
Aira mematikan laptop dan menyusul Noah duduk di sofa yang ada diruangan itu.
Noah meletakkan semua makanan yang ia beli diatas meja. Saat sedang menyantap makanan mata Noah selalu melirik ke arah Aira. Masih terbayang gundukan kembar Aira yang tadi tanpa sengaja ia lihat.
Noah memandangi wajah cantik Aira. Hasratnya langsung naik saat melihat bibir Aira yang terlihat begitu seksi bergerak-gerak.
Laki-laki itu menelan saliva. Kedua matanya melirik ke arah minuman di depan Aira.
'Sial! Kenapa perempuan itu semakin hari semakin terlihat menarik?
'Hasratku langsung naik hanya dengan melihat wajahnya.'
Noah menghembuskan napas panjang. Mencoba menetralkan perasaannya.
Sementara Aira, gadis itu masih tidak menyadari kalau saat ini Noah sedang memperhatikannya.
Aira mengambil gelas berisi jus jeruk itu ke hadapannya. Bibirnya menempel, menyedot minuman itu sampai habis.
Aira tersenyum manis pada Noah.
"Terima kasih, Pak. Makanannya enak banget," ucap Aira sambil tersenyum malu saat melihat piring bekas makannya yang terlihat bersih.
"Sama-sama. Harusnya aku yang berterima kasih karena kamu mau menemani saya makan malam."
"Kenapa Bapak tidak pulang saja?"
"Ini sudah malam lho, Pak."
"Seharusnya kata-kata itu buat kamu."
Aira tersenyum. Gadis itu membereskan bekas makan mereka berdua.
"Sebaiknya kita pulang saja. Hari sudah malam, Aira. Kau bisa menyelesaikan pekerjaanmu besok pagi." Noah mengikuti langkah perempuan itu.
"Sebaiknya Bapak pulang saja, pekerjaan saya masih banyak." Aira menunjuk tumpukan berkas diatas mejanya.
"Kalau kamu memang tidak ingin pulang, biar saya menemani kamu di sini."
"Tapi, Pak-"
"Jangan membantah!" tukas Noah.
"Baiklah, terserah Bapak saja."
Aira kembali duduk. Dia kemudian mengambil satu persatu berkas yang menumpuk di atas meja.
Kedua matanya fokus pada layar laptop. Sementara kedua tangannya bergerak dengan cepat di atas keyboard.
Sementara itu, Noah menatap Aira dengan tatapan tak terbaca. Wajahnya terlihat memerah, seiring hasratnya yang mulai naik.
Tubuh bagian bawahnya bahkan sudah menegang.
Noah menatap Aira dari atas sampai bawah. Kedua matanya menelanjangi tubuh Aira.
Aira yang tak sadar sedang diperhatikan, tetap fokus pada pekerjaannya.
Namun beberapa menit kemudian, Aira terlihat gelisah. Gadis itu merapikan rambutnya yang tergerai kemudian mengikatnya tinggi-tinggi, hingga leher jenjangnya terlihat.
Noah menelan saliva saat melihat leher putih mulus Aira. Jiwa kelakiannya semakin bangkit membuatnya mengerang frustasi.
Kedua mata Noah menatap nanar ke arah Aira. Berulang kali dia menelan salivanya.
Aira semakin gelisah. Tubuhnya merasa kepanasan. Gadis itu bahkan tanpa sadar membuka beberapa kancing kemejanya, hingga belahan dadanya terlihat.
Gadis itu seolah tidak sadar dengan apa yang dia lakukan.
"Panas." Suara Aira terdengar seperti ******* di telinga Noah.
Hasratnya semakin naik. Pria itu melirik ke arah bagian bawah tubuhnya.
'Sial!'
"Panas ...." Aira terdengar mendesah. Wajah perempuan itu memerah. Tangannya bergerak membuka kancing kemejanya.
Aira benar-benar seperti kehilangan kendali dalam dirinya.
Noah tersenyum smirk.
"Ada apa, Aira?"
Noah mendekati Aira. Netranya melirik ke arah pintu.
"Ada apa?"
"Panas ...." Suara Aira terdengar lirih.
"Mungkin AC nya tiba-tiba rusak, karena itu kau merasa kepanasan."
Noah menatap wajah Aira yang terlihat merona, membuat Noah semakin tidak tahan ingin mendekap perempuan itu dan membawanya ke atas ranjang.
'Sabar, Noah. Sebentar lagi, perempuan itu pasti akan menjadi milikmu!'
Noah menyentuh wajah Aira. Perempuan itu mendongak, merasakan sensasi aneh yang menjalar di tubuhnya.
"Pak Noah."
"Hmm ...."
"Panas ...." Aira mendesah saat tangan Noah membelai wajahnya.
"Pak Noah ... panas."
"Shitt!"
Dengan gerakan cepat, pria itu mengangkat tubuh Aira kemudian membawa gadis itu ke ruang pribadinya.
Noah membaringkan tubuh Aira.
Kedua matanya yang sudah diliputi oleh gairah, menatap Aira yang saat ini tanpa sadar mulai membuka satu persatu kancing kemejanya.
Noah tersenyum smirk. Laki-laki itu mendekati Aira, kemudian dengan rakus membungkam mulut Aira dengan bibirnya.
.
Woooww deg-degan aku nulisnya.
Si Noah ternyata ....
Bab ini aku yang tulis. Jangan lupa mampir juga di Novel terbaru aku.
DENDAM
Setelah disiksa, dikhianati, dan dibuang di suatu tempat dalam keadaan tak bernyawa, Gendis bertekad mengubah takdir demi membalas dendam pada Arga Demian, pria tampan berhati iblis yang pernah menjadi kekasih rahasianya.
Akankah Gendis berhasil membalaskan dendam dan sakit hati pada pria yang selama ini terus bersemayam di hatinya? Ataukah dia justru kembali terjebak dan terjerat pada pesona Arga Demian dan kembali menjatuhkan hatinya pada pria itu?