
Evan mendekati Noah dan Aira. Pria itu sangat penasaran saat melihat Aira dan Noah terlihat begitu mesra.
'Jadi ini alasan kamu menolak ajakanku Aira?'
Sementara Noah, pria itu sengaja memeluk Aira saat melihat saat dia melihat Evan mendekat ke arah dirinya dan Aira.
"Selamat malam, Pak Evan." Noah menyapa Evan tanpa melepaskan tangannya yang melingkar pada pinggang Aira.
Pria itu hanya menganggukkan kepalanya menatap Evan. Evan yang awalnya ingin menyalami Noah, langsung kembali menarik tangannya.
"Selamat malam juga, Pak Noah, Nona Aira."
Noah tersenyum tampan. Begitupun Aira yang terlihat begitu cantik. Evan menatap lengan Aira yang saat ini melingkar di pinggang Noah.
Perasaannya sangat kesal melihat perempuan itu begitu mesra dengan bosnya.
"Pak Noah, bisakah saya meminjam Nona Aira sebentar? Ada masalah pribadi yang ingin saya tanyakan padanya." Evan menatap Noah, sambil melirik ke arah Aira yang masih tersenyum manis menatap Noah.
"Masalah pribadi?" tanya Noah heran.
"Iya, Pak Noah. Saya ingin mengatakan sesuatu padanya." Evan menyunggingkan senyum manisnya pada Noah dan Aira.
'Apa-apaan dia? Apa dia sengaja ingin mempermalukan aku?'
Aira menatap Evan yang masih tersenyum padanya.
"Sayang, apa kau mengenal Pak Evan sebelumnya?" Noah menatap Aira. Pria itu merapatkan tubuhnya pada Aira, seolah mengisyaratkan sesuatu.
Aira yang langsung mengerti isyarat dari bos tampannya itu, hanya menyunggingkan senyum.
Sementara Evan begitu terkejut saat mendengar ucapan Noah yang begitu mesra pada Aira.
'Sayang ... kenapa Noah memangil Aira dengan panggilan sayang? Apa mereka berdua benar-benar sepasang kekasih?'
Evan terlihat kesal. Namun, sebisa mungkin dia menyembunyikan kekesalannya.
"Sayang, apa benar kau sudah mengenal Pak Evan sebelumnya? Kenapa dia bilang kalau dia ingin membicarakan masalah pribadi denganmu?" ulang Noah. Wajah tampannya mendekat ke arah Aira.
Melihat Noah yang begitu mesra memperlakukan Aira, Evan mengepalkan tangannya.
Dalam hati dia merasa tidak terima. Kenapa di saat Aira berubah begitu cantik, perempuan itu justru memilih pria lain dibandingkan dirinya?
"Maafkan aku, Sayang, aku belum sempat memberitahumu kalau aku sudah mengenal Pak Evan sebelumnya." Tangan Aira terulur membelai wajah tampan Noah. Wajah cantiknya terlihat merasa bersalah, tetapi justru terlihat menggemaskan di mata Noah.
Pria itu memegang tangan Aira yang menempel di wajahnya kemudian mengecup lembut tangan perempuan itu.
"Baiklah! Karena kamu begitu manis malam ini, aku memaafkanmu. Tapi lain kali, aku tidak suka kalau kamu menyembunyikan sesuatu dariku." Noah menatap wajah Aira yang merona karena perbuatannya.
Sebuah senyuman tercetak di wajah tampannya, sementara Evan yang melihat mereka berdua, semakin terbakar amarah.
Pria itu mati-matian menahan amarah di dadanya.
"Kalau boleh tahu, di mana Pak Evan mengenal kekasih saya sebelumnya?"
Suara Noah mengagetkan Evan.
"Kekasih?"
"Maksud Pak Noah, Aira adalah kekasih-"
"Aira adalah sekretaris sekaligus kekasih saya."
"Benar 'kan, Sayang?"
Noah menatap Aira yang saat ini sedang tersenyum menatapnya.
Mereka berdua berakting sangat bagus di depan Evan.
"Sayang, kau bekerja di perusahaan Pak Evan?" Noah sedikit terkejut mendengar pengakuan Aira.
Saat menerima perempuan itu, Noah tidak memperhatikan dari perusahaan mana Aira bekerja. Noah langsung menerima Aira bekerja karena saat itu dia sangat membutuhkan sekretaris dengan segera.
Ia memang sempat membaca kalau Aira pernah bekerja di Evan corp. Tapi tak mengira jika Evan yang dimaksud adalah Evan yang ada dihadapannya saat ini.
Pria itu hanya tahu dari stafnya kalau Aira sudah berpengalaman dan pernah bekerja sebagai sekretaris di perusahaan terkenal.
"Iya. Dia bekerja di perusahaan saya, sebagai sekretaris sekaligus kekasih saya," ucap Evan dengan tersenyum smirk.
Sementara Noah kembali terkejut mendengar ucapan Evan. Pria itu sebisa mungkin menyembunyikan keterkejutannya.
Senyuman mengembang di wajah tampannya.
Sementara, tangan Aira yang melingkar di pinggang Noah tak sengaja mencengkeram jas yang di pakai pria itu.
Noah yang menyadari kalau perempuan itu sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, langsung bertindak dengan membelai rambut perempuan itu.
"Sayang, apa benar kamu pernah menjadi sekretaris sekaligus kekasih Pak Evan? Kalau benar, kenapa kau putus dengannya? Bukankah Pak Evan itu-"
"Dulu aku terlalu naif dan juga bodoh karena mau saja menjadi kekasihnya. Saat itu, aku pikir dia tulus, tetapi ternyata, Pak Evan hanya memanfaatkan aku untuk membuat mantan kekasihnya cemburu."
"Setelah kekasihnya kembali, Pak Evan langsung mencampakkan aku."
"Apa?" Noah kembali terkejut. Pandangannya kemudian beralih ke arah Evan. Pria itu terlihat gelisah.
Aira menatap Noah dengan wajah memelas. Sementara wajah Evan terlihat memerah menahan malu. Dia tidak menyangka kalau Aira justru membalik ucapannya.
Niat hati ingin mempermalukan Aira dengan menunjukkan pada Noah kalau dia juga pernah menjadi bos sekaligus kekasih Aira, eh! Tidak disangka, kalau Aira justru berbalik menyerangnya.
Perempuan itu sengaja meninggikan suaranya saat bercerita tentang Evan, sehingga orang-orang yang saat ini sedang berdiri di sekitar mereka langsung menatap ke arah Aira.
Semua orang mulai berbisik-bisik. Noah tersenyum. Sementara Evan merah padam. Kedua tangannya terkepal erat.
"Pak Evan, apa Nona itu adalah sekretaris Pak Evan yang dulu pernah dicampakkan oleh Bapak demi Nona Arabella?"
Evan menatap perempuan yang saat ini sedang berbicara padanya.
"Apakah dia Nona Aira yang sama yang dulu videonya sempat tersebar saat makan malam bersama Anda?"
Beberapa orang yang merasa penasaran mulai berkerumun mendekati Evan.
Wajah pria itu semakin merah padam. Apalagi, saat mendengar beberapa pertanyaan yang membuatnya merasa terpojok.
Aira dan Noah tersenyum saat melihat beberapa orang yang mulai berdatangan mendekati Evan.
Meskipun sebenarnya Noah sangat penasaran, tetapi pria itu akhirnya menuruti permintaan Aira untuk meninggalkan tempat itu.
"Pak Evan, apa benar Nona Aira itu adalah sekretaris sekaligus kekasih Pak Evan yang dulu berpenampilan sangat jelek dan juga kampungan?"
.
Halo reader kesayangan ... bab ini ditulis sama aku loh. Menulis bareng dengan ketiga Author yang sama-sama punya karakter dan gaya tulisan yang khas adalah tantangan tersendiri buat aku.
Semoga setiap bab yang aku tulis tidak mengecewakan kalian ya ....
Mampir juga di beberapa novel punyaku yuk!
Cinta Karmila, Mati Rasa, Dia juga Suamiku, Dendam, karya nazwa talita.
Jangan lupa tinggalin jejak kalian ya, lope-lope banyak buat kalian ❤️❤️❤️