SHE WAS UGLY

SHE WAS UGLY
Bab 21. Dendam Evan



"Benarkah itu Pak Evan?"


"Itu adalah Nona Aira yang dulu anda sia-siakan?"


"Apakah anda tidak menyesal?"


Pipi Evan sudah memerah malu akibat hal ini membuat ia segera berjalan meninggalkan area tersebut dengan segudang pertanyaan dari beberapa orang yang ada disana membuat Evan memilih mempercepat langkahnya.


Hari ini dia benar-benar dipermalukan habis-habisan oleh Aira dan semua orang bahkan rekan bisnisnya sekarang mempertanyakan sikap dan atitudenya sekarang sebagai CEO dari perusahaan terkemuka.


Imagenya sudah sangat hancur dan kini Evan hanya bisa menggenggam rasa malu akibat perbuatan Aira kepadanya.


Kini Video yang sudah lama tenggelam itu kembali dipertanyakan apalagi sekarang Aira sudah jauh berbeda dan sangat cantik sekarang, membuat mereka seakan tidak percaya apakah benar sosok mantan sekretaris Evan adalah sekretaris Noah yang sekarang.


Jika benar, tentunya Evan akan sangat menyesal karena sudah melepaskan sebuah berlian yang berhasil dipungut Noah.


Evan berjalan cepat dan masuk kedalam mobil nya, dia tidak menghijaukan riuh pertanyaan dan suara-suara bising beserta tatapan aneh kepadanya, ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh menuju kantornya sendiri yang tidak jauh dari sana.


"Argh!" teriak Evan memukul setir mobil nya kemudian menancap gas dengan kecepatan penuh di jalanan kota.


Pikirannya kini tengah kalut dan mumet atas apa yang terjad malam ini, Aira sudah menolak menjadi pasangannya ke acara itu dan dia malah secara tidak langsung mempermalukan Evan sehingga membuat mental, harga diri, image dan semua kesan positif Evan jatuh berantakan.


Tak lama kemudian Evan sudah sampai dihalaman kantornya, dia memarkirkan mobilnya dengan perasaan kesal kemudian keluar dari mobilnya, kantor sudah kosong hanya ada satpam diluar.


"Pak Evan ada urusan apa malam-malam?" tanya salah satu satpan bertanya kepada Evan yang hendak masuk.


Bugh!


Evan yang sedang dalam fase temperamen kesal dan emosi memberi bogem mentah kepada satpam tersebut yang membuat sang satpam jatuh tersungkur ke lantai, memang sebuah keputusan yang salah bertanya kepada orang emosi.


"Bukan urusan kalian! Atau akan saya pecat kalian!?" teriak Evan berjalan masuk kedalam kantornya meninggalkan dua satpam tadi.


"Dasar Boss Gila!" gerutu satpam yang tadi mendapat bogeman. "Aku kan hanya bertanya!"


"Sudah! Kau seperti tidak tahu saja bagaimana sikap Pak Evan, dia kan memang adalah pria yang tempramental, kita sabar saja jika masih mau bekerja di perusahaan ini," balas salah satu satpam lainnya.


Evan sendiri kini sudah berjalan masuk kedalam lift dengan menghentakkan kakinya.


Ting!


Pintu lift tersebut tertutup membuat Evan kembali melampiaskan kekesalannya dengan meninju dinding lift tersebut keras sehingga membuat tangannya lecet.


Tak lama kemudian pintu lift terbuka, Evan keluar dengan perasaan kesal menuju ruangannya yang tidak jauh dari sana, sesampainya di ruangan nya Evan segera melampiaskan kekesalannya kembali dengan menghambur barang-barangnya.


Prang!


Suara Vas bunga yang pecah menjadi backsound kekesalan dan sasaran emosi Evan, kini ruangan Evan bak sebuah kapal pecah, emosi, dendam, kesal dan sebuah rasa ingin membalas hadir di dalam dirinya, dia membuka laci mejanya, dia menyimpan foto Aira.


Ia memandang foto Aira kemudian meremasnya kesal dengan ekspresi datar dan kejam. "Liat saja! Bagaimana aku membuatmu bertekuk lutut, sayang!"





TBC


Bab kembali ditulis oleh Ridz


Kali ini cita"nya adalah menjadi Cleaning Servis kantor Evan.