
"Reaksi yang bagus..." Ucap Xiao Lin sambil menatap ke arah raja muda itu.
Li Qin segera menarik pedangnya dan menyerang Xiao Lin bertubi-tubi.
Bagi Xiao Lin kekuatan Li Qin setara dengan Sky Lord, dan Bagi Li Qin kekuatan Xiao Lin setara dengan Heavenly Step.
Peng!
Benturan antara kedua pedang itu bergema di hutan, menciptakan sebuah badai dan menerjang daun-daun dipohon itu.
"Kekuatanmu bagus, pemuda." Ucap Li Qin dengan tersenyum. "Tapi teknik mu kurang! [Terjangan Langit!]"
Basssssss!
Angin kuat menyapu dedaunan dengan sangat kuat, membuat burung-burung menjadi pergi.
Xiao Lin melompat kebelakang, dia berhasil menghindar, namun ia masih mendapatkan luka walau bukan luka serius.
Dan saat ujung kakinya menyentuh tanah, ia langsung melesat jauh kearah Li Qin dan menyerangnya bertubi-tubi.
Peng! Peng! Peng! Peng!
Semua serangan Xiao Lin berhasil ia tahan dengan sempurna. Dan sampai sekarang, Li Qin masih tidak menganggap serius anak muda itu.
Trsskkkk....
Xiao Lin akhirnya berhasil menggores muka Li Qin walau tidak parah.
Li Qin merasa tenaganya mulai terkuras, akhirnya ia mundur kebelakang. "Kenapa kau menyerangku? Bukankah kamu mempunyai hubungan dengan Mei'er?"
Dan selagi dia berkata-kata, Xiao Lin sudah berada di dekatnya.
Peng! Peng! Peng!
Benturan antara pedang itu terjadi kembali. Angin lembut dan juga percikan api menyambut semua benturan itu di rumput yang mereka pijaki.
Tidak ada yang bisa bertahan dari kekuatan Xiao Lin. Itulah dulunya, namun ia tau sekarang, Diatas Langit ada langit, jadi ia tidak punya alasan untuk melembut pada calon kakak iparnya.
"Tebasan Raja Angin!"
Li Qin menebasnya dan angin yang kuat tercipta, membuat Xiao Lin menjadi mundur. Bisa dilihat dibibirnya, bahwa darah segar keluar.
"Yao Lin, kenapa kau menyerangku?! Jawablah pertanyaanku!"
"Sepertinya ini masih belum bisa membuktikannya ya?" Gumam Xiao Lin yang mengelap darahnya. Dan dengan tatapan serta senyuman mengerikan, ia berkata. "Aku adalah orang yang pantas untuk Xiao Mei, bukan kau!"
Peng! Peng!Peng!
Xiao Lin kembali menyerang Li Qin. Dan Li Qin menyambut serangan Xiao Lin dengan panik.
Pang!
Suara benturan yang sangat kuat membuat cahaya yang begitu menyilaukan.
Li Qin mundur kebelakang. Kali ini ia tak boleh meremehkan Yao Lin karena pemuda itu memiliki bakat yang lebih tinggi darinya, dan pemahaman pedangnya hampir setara dengan Pendekar Sejati ataupun Pendekar Master.
Li Qin menyiapkan kuda-kuda, menatap Xiao Lin dengan hati-hati.
Dalam detik itu, bisa dilihat bahwa waktu seakan-akan berhenti walau masih di helus lambut oleh sang angin.
Tiap gerakan, tiap rangsangan, tiap panca indra bisa merasakan tekanan tegang dari mereka.
Belum ada gerakan sedikitpun, bahkan mereka sama sekali tidak berkedip.
PENGGGGGGGGGGG!
Suara benturan pedang tercipta bertepatan dengan angin kuat.
Peng! Peng! Peng! Peng!
Setiap tebasan menghasilkan percikan alami antara gesekan besi dan besi. Sehingga percikan yang terus terjadi, membuat tempat itu memjadi sedikit bercahaya.
Peng! Peng! Peng Peng! Peng!
Li Qin menyerangnya secara bertubi-tubi, namun lebih halus dibandingkan sebelumya.
Xiao Lin dengan kesusahan menyambut semua serangan itu. Sehingga ada beberapa tebasan yang luput dari pertahanan nya dan menciptakan luka.
"Tarian Pedang Dewi Bulan!"
Dan dalam sekejap, tempat itu berubah menjadi lebih gelap. Namun, cahaya pedang dari Xiao Lin membuat fokus Li Qin menjadi pecah.
Serangan berhasil membuat luka di pundak Li Qing.
Li Qing mundur, namun tidak diberi waktu oleh Xiao Lin, sehingga sekali lagi benturan tercipta dari pedang mereka.
Peng!
Pedang cahaya Xiao Lin menembus kegelapan, dan berhasil ditahan oleh Li Qin dengan segenap kekuatannya.
Peng! Peng!
Untuk sekarang, Xiao Lin mencoba untuk mengimbangi kekuatannya dengan Li Qin, dan tidak membiarkan celah sedikit pun.
Li Qin masih bersusah payah. Tempat gelap, dan satu-satunya pencahayaan adalah pedang Yao Lin. Ia seharusnya bisa menebak arah serangannya, namun serangan Yao Lin ini begitu halus dan susah untuk ditebak.
Peng!
Sekali lagi Li Qin berhasil menahan serangan Xiao Lin secara penuh. Untuk sekarang, mereka berhenti bertarung, namun pedang mereka bergetar dengan sangat kuat.
"Huhh..." Xiao Lin menghela nafasnya dan mengangkat tangannya, lalu pedangnya jatuh dibawa gravitasi. "..... Ini kekalahanku,"
Xiao Lin menjatuhkan dirinya yang penuh luka, walau tidak serius. Li Qin yang melihatnya yang begitu santai, membuatnya juga melepaskan pedangnya dan duduk.
"Yao Lin jadi bisa kau beri tau dimana Mei'er?" Li Qin yang penuh luka itu begitu gagah saat melihat Xiao Lin dengan serius.
"Tentu," Jawab Xiao Lin sambil menatap Li Qin dengan senyum. "Sebentar lagi, kakak ipar. Aku akan membawamu sebentar lagi setelah istirahat."
Xiao Lin kembali duduk dan berkultivasi. Li Qin hanya duduk memandang Pemuda Misterius yang Bernama Yao Lin ini.
Energi pesat yang amat kuat terus berputar di sekelilingnya, menciptakan angin yang sangat kuat.
Setiap tenaga alam yang ada di sekitar, berkumpul di tubuh Xiao Lin.
"Bagus, sekarang mulai penuh kembali." Ucap Xiao Lin dengan senang.
Teknik Terian Pedang Dewi Bulan adalah teknik original milik gurunya, yang diajarkan secara pribadi di Alam Jiwanya.
Walau diajarkan dialam batin, Xiao Lin masih bisa mempraktikkan nya dengan kekuatan penuh sama saat seperti ia berada di Alam Jiwa.
Namun, kekuatannya yang luar biasa, serta pemakaian tenaga dalam yang begitu cepat, membuat Xiao Lin berpikir dua kali untuk menggunakannya.
Ia kemudian berdiri dan menyimpan pedang hitamnya didalam Penyimpanan. "Mari pergi lagi,"
Dan saat ia melihat kearah Li Qin, ia sudah ketiduran. Tentu saja dia ketiduran, karena Xiao Lin sudah berkultivasi kurang lebih 2 jam. Dan tidak ada orang yang tahan menatap seseorang yang membatu dalam waktu dua jam.
Dan dengan begitu, Xiao Lin terpaksa duduk diatas pohon, menunggu pemuda itu bangun.
——— Sore tiba, dan menciptakan suasana yang begitu tenang di hutan didekat kota keluarga cabang Xiao.
Xiao Lin menatap kelangit yang mulai berwarna orange muda. Dia menguap dan kembali melihat kearah Li Qin yang sudah terbangun.
Ia kemudian turun dari pohon dan menyapa Li Qin.
"Selamat pagi, Kakak ipar." Xiao Lin menyapa dengan tangan yang terangkat.
"Pagi," Li Qin dengan muka yang masih setengah tidurnya berdiri, ia menyarungkan kembali pedangnya. "Jadi, bisakah kamu ceritakan apa maksud semau itu?"
Wajahnya kembali serius saat menatap Xiao Lin yang bergetar.