
Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 3 hari, akhirnya berakhir. Dan kini Xiao Lin dan Zhou Yu sudah berada didepan.
Xiao Lin mengantri dibelakang Zhou Yu. Ia sedikit gelisah, ia tidak memiliki kartu Identitas, dan tidak memiliki sepeser pun uang. Ia sebelumnya menolak untuk masuk, karena gubuknya diluar kota dan ia dapat masuk kekota sesuka hati, tapi Zhou Yu memaksanya.
"Kak Yu, memang benar, lebih baik aku diluar." Xiao Lin menghela nafasnya dibalik topeng hitamnya. Ia memakai topeng itu, takut mungkin ia memiliki status buron dan belum dicabut, maka dari itu ia memakainya.
"Bagaimana jika, Saudarimu ini diserang sama dengan orang mesum? Apa yang akan kamu lakukan?" Zhou Yu berseru. Memang, ia agak khawatir dengan kondisi ketika setelah masuk. Ia juga memiliki beberapa koin emas yang ia dapat dari menjual salah satu pedagang yang lewat sebelumnya. Jadi, bisa digunakan untuk membayar penginapan.
"Kak Yu,....."
>Lin'er, mungkin kamu lupa, kamu memiliki banyak uang di ruang penyimpanan.< Lu Zhong berkata datar.
"Apa?!" Xiao Lin langsung berseru saat mendengar itu dan membuat barisan serta pengawas menatapnya. Xiao Lin langsung meminta maaf pada mereka.
Zhou Yu langsung berbisik sesuatu pada Xiao Lin. "Itu hanya sebuah candaan tapi tidak perlu berekspresi seperti itu juga kan?"
"Haha," Xiao Lin tertawa canggung. Ia tidak bisa membantah pernyataan Zhou Yu. Lalu ia bergumam. "Aku akan membereskan masalah ini nanti."
>.....Apapun itu, buatlah identitas terlebih dahulu.<
Dengan daya imajinasi, Xiao Lin langsung membayangkan satu koin emas, dan sekoin emas muncul ditangannya. 'Benaran ada,'
Xiao Lin kembali mengingat, kalau ada setumpuk emas digoa itu, dan banyak harta disana. Tapi, karena suatu hal ia tidak mengingat hal itu, dan langsung berlatih setelah menyimpan patung.
Pemeriksaan sudah sampai dibagian Zhou Yu, dan dia berhasil lewat. Sisanya adalah Xiao Lin.
"Tuan, Kartu Identitas," Penjaga dengan pakaian zirah full set berkata dimeja.
"Maaf, kartu Identitas saya hilang, haha," Xiao Lin menggarut pipi kanan nya yang tidak gatal. "Apa bisa saya membuatnya?"
Kejadian kartu Identitas yang hilang bukanlah hal yang biasa, dan juga bukanlah tidak biasa. Kejadian ini terletak diantara biasa terjadi dan jarang terjadi. Jadi, penjaga itu menyuruh Xiao Lin masuk terlebih dahulu, dan menuntunnya dengan dua penjaga didua sisi. Takut, kalau dia adalah buron, terlebih lagi, topengnya membuat orang lain curiga.
Ia disuruh masuk kedalam ruang, yang tampak seperti ruang interogasi. Dan ditanyakan semua jalan kehidupannya.
"Tuan, bisa saya melihat muka anda?" Penjaga itu berkata dengan muka yang sedikit mengerikan. "Jika anda tidak membukanya, maka kami terpaksa mengurung anda,"
Xiao Lin sekarang berada di kondisi yang sudah diprediksi. Ia tersenyum dibalik topeng lalu mengeluarkan auranya. "Beraninya kau menyuruhku, apa kau sudah tidak memiliki keinginan hidup lagi?"
Penjaga itu menelan ludahnya. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan ahli tahap Heavenly Step disini. "Ba-baiklah, saya akan menyiapkan kartu Identitas anda."
Dan dia pun pergi dari sana. Xiao Lin menghela nafasnya, dan melemaskan semua badannya diatas kursi.
Setelah menunggu 10 menit, akhirnya ia keluar dari ruangan itu. Zhou Yu sudah menunggu didekat gerbang selama itu, dan sudah bertemu dengan Xiao Lin.
"Bagaimana? Berhasil?" Zhou Yu bertanya kepada Xiao Lin.
"Dengan sedikit ancaman, semua terkendali." Xiao Lin menunjukkan kartu Identitas nya, yang kemudian dilihat oleh Zhou Yu.
"Yao Lin? Kenapa kamu memalsukan Identitas? Apa ada hubungannya dengan keluarga Xiao?"
Xiao Lin mengangguk. "Benar, untuk sekarang, identitas Xiao Lin sangat berbahaya. Aku tidak dapat menggunakan identitas Xiao Lin."
Zhou Yu tidak memiliki kata-kata lagi, ia mengembalikan kartu Identitas Xiao Lin dan mengajaknya makan malam.
Zhou Yu awalnya mengajaknya kerestoran termurah, namun Xiao Lin mengajak ketempat sebaliknya.
Restoran Bulan Merah, adalah tempat yang selalu ia ingin kunjungi. Karena, biasanya ia selalu mendapat makanan sisa didapur dan bersih, semua makanan itu diberi oleh seorang wanita dengan umur 17 tahun. Seorang Master Koki disana.
Xiao Lin masuk, dan ditatap oleh banyak orang. Tatapan merendah itu membuat badan Xiao Lin sedikit gemetar. Itu wajar, karena dirinya memakai jubah kusam dan berdebu, tentu saja mereka keberatan.
"Tuan! Tolong usir orang ini, jubahnya sudah membuat makananku berdebu!" Seseorang berseru pada pelayan.
Dan seorang pelayan datang menemui Xiao Lin. "Tuan, mohon pergi dari sini, kami takut kalau anda menyinggung para tamu,"
"Menyinggung apanya? Jubahku keren dan aku bangga dengan itu." Xiao Lin tertawa kecil sambil menatap kearah pria yang melapornya. "Benarkan tuan?"
"Kau, cepat panggil penjaga! Ia juga pasti tidak akan sanggup membayar semua makanan itu!" Pria itu tambah berseru. Dan dua orang penjaga dengab ranah Qi Refining muncul dari luar.
Xiao Lin tersenyum dibalik topengnya dan berkata. Dia mengacungkan tangannya kedepan. "Hanya beberapa emas, bisa kukeluarkan,"
Tak!
Satu koin emas tiba-tiba jatuh dari tangannya.
Tak Tak!
Tiga koin emas.
Tak Tak Tak Tak Tak!
Tujuh Koin emas! Dengan mudahnya ia buang kelantai!
Orang-orang pada terkejut saat itu. Begitu pula dengan Zhou Yu. Ternyata bocah itu menyembunyikan semua uang.
"Apa perlu aku tambah lagi?" Xiao Lin berkata dengan ceria. "Cepat antar aku kemeja terbaik!"
>Haha, bocah, kau membuat pertunjukan yang menarik.< Lu Zhong berkata dengan tertawa.
Xiao Lin, serta Zhou Yu duduk bersebelahan disatu meja. Ia kemudian menatap semua menu yang ada dibuku. Walau ia tidak tau bentuknya seperti apa, ia tau, yang mana masakan orang yang selalu memberinya.
"Tolong Ikan Naga Panggang, dengan bawang merah pedas." Xiao Lin menunjuk kemenu.
"Baiklah," Pelayan itu mencatat pesanan Xiao Lin.
Dan Zhou Yu hanya pusing dengan menunya. Harga-harga yang ada disini begitu mahal. dengan gajinya perbulan, 50 perak, tidak akan mungkin bisa ia beli. Bahkan harga makanannya saja seharga uang rumah sewanya yang 1 Emas perdua bulan.
"Uhm, sama saja." Zhou Yu menaruh kembali bukunya.
"Baiklah," Dan pelayan pria itu pergi dari sana.
"Kakak Yu bisa memesan lebih. Aku masih memiliki banyak diruang penyimpanan." Xiao Lin berseru pelan.
"Ti-tidak apa, aku tidak bisa memakan ini." Zhou Yu berkata dengan sedikit canggung.
"Sayang, mari kita pergi ketempat lain!" Pria yang tadi membuat masalah dengan Xiao Lin, menarik pasangannya kelantai atas.
Xiao Lin menjadi penasaran, dilantai atas, apa yang ada diruang itu? Dia sebelumnya mendengar, kalau lantai satu mahal, lantai 2 lebih mahal lagi! Dan lantai ke-3 hanya khusus bangsawan serta orang yang memiliki uang yang banyak.
"Tuan," seorang pelayan membawa makana Xiao Lin datang.
"Antar ke lantai dua, saya akan kesana." Xiao Lin berdiri, dan berjalan menuju tangga.
"Ah, tunggu Adik Lin!" Zhou Yu bergegas mengikuti Xiao Lin.
Dan Pelayan itu membungkukkan badannya. "Baiklah,"
Saat Xiao Lin sampai di lantai dua dari restoran, ia mendapati ruang lantai dua gelap, namun ada satu cahaya yang hidup, yaitu cahaya panggung yang diatas nya ada seorang wanita cantik sedang menari dengan baju yang sangat terbuka.
Orang-orang berbisik tentang, betapa bagusnya muka serta wajah dari gadis itu. Ada juga yang melemparkan koin mereka.
Xiao Lin mengenalnya. Itu adalah Xiao Mei. Ia tidak menyangka, Saudari Mei yang selalu ia sayangi, yang selalu ia anggap sebagai kakak itu menari didepan seluruh pria yang bernafsu, yang juga menatapnya dengan nafsu.
"Saudari Mei——" Xiao Lin mengerutkan dahinya. "Apa yang terjadi sebenarnya selama 4 bulan ini?"
Xiao Lin berjalan kesalah satu meja terdepan. Diikuti dengan Zhou Yu. Kali ini mereka tidak ditegur, karena semua pandangan menuju Xiao Mei.
Zhou Yu agak merasa jengkel. Ia tidak percaya, kalau ada wanita yang membuat sebuah pertunjukan yang penuh dengan penonton pria mesum.
Zhou Yu juga agak terkejut dengan Xiao Lin. Ia mengira anak itu akan mengambil meja paling belakang, tapi siapa sangka ia memilih meja paling depan.
"Ini tuan," Seorang pelayan yang sama dengan yang mengantar pesanan tadi, datang menghampiri. Kemudian, Xiao Lin mengeluarkan dua koin emas dan diberikan pada pelayan itu sebagai tip. Pelayan tersebut meninggalkan kedua tamunya dan segera menuju kebawah.