
"Pedang yang mengerikan..." batin Charl.
"Tuan, apa kau masih belum tidur?...ini sudah tengah malam," ucap Fery.
"Baiklah aku segera tidur," jawab Charl tersenyum pada Fery.
Charl pun memasukan Pedang itu kedalam cincin penyimpanannya, walaupun sebenarnya Charl masih penasaran dengan pedang itu.
Charl kemudian berjalan menuju salah tempat tidur. Charl meregangkan otot-ototnya sebelum tertidur pulas pada malam itu.
Pagi harinya, Charl, Bryan dan Fery pun langsung bergegas pergi dari Penginapan itu menuju tempat Gilter berada untuk mengambil topeng yang di minta sebelumnya.
Beberapa saat kemudian mereka akhirnya sampai di depan Toko Gilter. Pemandangan yang mereka lihat hari ini berbeda dari sebelumnya. Toko itu sekarang terlihat memiliki lebih banyak pengunjung dari pada kemarin.
Mereka bertiga pun mencoba masuk kedalam toko. Didalam terlihat ada beberapa orang yang sedang mengamati pedang. Sebenarnya itu terlihat wajar saja, tetapi ada satu hal yang membuat toko itu terlihat begitu ramai dari pada biasanya.
Ada seorang Pria tua gendut dengan pakaian Khas bangsawan berada di dalam toko itu. Pria itu membawa seorang anak laki-laki berusia sekitar 12-14 bersamanya dan juga ada beberapa prajurit yang mengawal mereka.
Mereka terlihat sedang mengamati beberapa Pedang yang diberikan oleh pelayan toko yang kemarin di temui oleh Charl.
Pria itu mengelus-elus kumisnya sambil memperhatikan tiap pedang yang diserahkan pelayan toko itu dan kemudian terlihat bertanya pada anak yang berada di sampingnya.
Banyak pedang yang dibuang anak laki-laki itu setelah diserahkan padanya. Dia bahkan tidak menganggap pemilik toko itu.
"Sungguh angkuh," batin Charl.
Sesaat kemudian, Charl melihat Gilter yang sedang melambaikan tangan pada mereka.
"Ayah, sepertinya Tuan Gilter sedang memanggil kita." Charl menunjuk ke arah Gilter
"Baiklah, kita pergi kesana," jawab Bryan.
Mereka bertiga pun menerobos para pengunjung yang ada di dalam toko menuju kearah Gilter.
Beberapa pengunjung terlihat terganggu, tetapi tidak mempersoalkannya karena melihat banyaknya orang yang berada di dalam toko itu.
"Akhirnya sampai," ucap Charl.
"Baiklah, ikuti aku!" Seru Gilter sambil tersenyum.
Mereka pun berjalan menuju ruangan mereka kemarin. Terlihat dimeja yang ada di ruangan itu sebuah kotak berukuran sedang yang terbuat dari kayu. Mereka pun berjalan menuju meja tersebut.
"Ini adalah topeng-topeng koleksiku."
"Jadi apa anda sudah menemukan topeng yang pas Tuan Bryan?" tanya Gilter.
"Sebenarnya bukan aku yang akan memilih...tapi dia," ucap Bryan menunjuk ke arah Charl.
"Aku sepertinya memilih yang ini." Charl mengambil sebuah topeng berwarna putih dengan garis merah di mata kirinya.
"Baiklah, kalau begitu berapa harga dari topeng ini," tanya Bryan.
Mengingat langkanya topeng yang bisa merubah suara penggunanya, harga topeng yang dipegang Charl sebenarnya senilai 20 koin emas saat Gilter membelinya di pelelangan dulu, tetapi Gilter hanya meminta 2 koin emas.
Sebenarnya Gilter sangat menyukai koleksi topeng" nya itu, tetapi mengingat nyawanya yang telah diselamatkan oleh Bryan itu lebih berharga dari apapun, dia rela menjualnya bahkan menurunkan harga sebenarnya dari topeng itu.
"Hah, 2 koin emas... bukannya itu terlalu mahal," ucap Bryan.
Gilter hanya terdiam, dia tidak tau harus berbicara apa. Sementara Charl yang sedikitnya paham tentang harga topeng itu hanya tertawa kecil mendengar ucapan Bryan.
Kemudian Charl membisikkan taksiran harga dari topeng itu pada Bryan.
"Benarkah..."
Charl mengangguk pada Bryan sambil tersenyum lebar.
Bryan kemudian tersenyum lebar dan memberi 20 koin perak pada Gilter sebagai pembayaran.
"Senang berbisnis dengan anda," ucap Bryan sambil tersenyum lebar seakan mendapat keuntungan yang besar.
"Sepertinya aku kehilangan satu koleksiku," batin Gilter yang hanya bisa menghela napas sambil menerima koin yang diberikan Bryan.
Terlepas dari rasa sedih karena kehilangan koleksinya, Gilter justru sedikit kagum pada Charl yang membuat Bryan menjadi sangat senang setelah mendapat bisikan dari Charl.
Gilter bisa menebak bahwa Charl memberi tahu harga dari Topeng ini dan membuat Bryan yang sebelumnya menolak harga dari Topeng ini menjadi sangat senang.
Tetapi yang membuat Gilter kagum sebenarnya adalah Charl yang mengetahui harga dari Topeng yang terbilang langka.
"Anak ini sepertinya memiliki banyak rahasia," batin Gilter.