
"Bao Yu lihat apa yang aku bawa, ibu membuatnya untuk ku. Mari makan bersama."
"Terimakasih Diwei, tapi aku sudah sarapan. Maaf."
"Setelah mengalami kecelakaan ku rasa kau berbeda."
"Berbeda? Maksudmu?"
"Kau terlihat lebih dewasa tapi maksudku bukan kau terlihat tua, hanya saja kepribadianmu terlihat berbeda dengan Bao Yu yang aku kenal."
"Apa begitu? Kau tidak suka?"
"Tidak, aku hanya.. hmmm aku hanya, merasa asing entah kenapa."
Bao Yu menatap pria tampan dihadapannya, ia jelas tau maksud perlakuan baik dari si pintar Diwei ini.
Dikehidupan sebelumnya ia belum pernah merasakan apa itu yang namanya cinta sama remaja, tapi dikehidupan ini ia tahu bagaimana rasanya dicintai dimasa remaja.
Diwei terlihat jelas bahwa ia menyukai Bao Yu hanya saja pria itu menyembunyikan rasa cintanya.
Ia sedikit rindu dengan kehidupan lamanya, tapi ia cukup bahagia dengan kehidupannya yang sekarang. Ia dicintai, disayangi oleh ayah dan ibunya.
"Oh sudahlah lupakan, hari ini ibu ingin kau berkunjung."
"Bibi ingin aku berkunjung? Apa ada pesta?"
"Ya ada, ulang tahun pernikahan. Kau tau orang tua itu meski usianya sudah tua tapi semangatnya melebihi aku."
"Hari ini ulang tahun pernikahan bibi dan paman? Baiklah aku akan datang."
"Ku simpan ini untuk makan siang kita nanti."
"Baiklah terserah kau saja."
......................
"Bu aku akan pergi kerumah Diwei."
"Tumben, ada tugas sekolah lagi?"
"Buu!! Aku tidak sebodoh itu."
"Ibu hanya bercanda, ini jangan bertamu dengan tangan kosong. Titip salam untuk bibi Yin dan paman Fu."
"Baik bu, aku pergi. Dahh."
"Hati-hati, lihat jalan kau baru sembuh."
"Iya bu, muach."
Bao Yu mencium kedua pipi ibunya. Hal ini sudah menjadi kebiasaannya selama beberapa bulan ini, dan ibu tidak mempermasalahkan itu. Toh yang menciumnya putrinya sendiri bukan suami tetangga.
"Semoga Tuhan melindugimu."
Bao Yu yang memang sudah mengenal keluarga ini sejak lama sudah dianggap seperti anak sendiri oleh kedua orang tua itu.
"Ayah kau terlihat keren dengan rambut putih itu."
"Ini uban bodoh."
"Bu lihat suami ibu marah, mesusak suasana."
"Diwei jangan ganggu ayahmu."
"Memang Bao Yu anak ku, entah siapa ayahmu. Kau tidak sepertiku."
Paman Fu mencemooh Diwei dengan tatapannya, ia hanya bercanda dan yang lain tahu itu.
"Bu apa yang aku pikirkan salah?."
Ketiga orang itu melihat bingung kearah Diwei.
"Aku pikir ayah menuduhmu berselingkuh bu. Ayah jahat sekali tidak seharunya kau berpikir begitu. Bu lihat, pukul bu pukul ayah."
"DIWEI!" Paman Fu mengerang hendak meninju putra satu-satunya itu.
"Bu lihat, ayah memukul ku aduh sakit aduh aku rasa aku akan pingsan, aduh sakit sekali."
Bibi Yin tertawa, selalu saja begini. Ayah dan anak itu tidak pernah akur dan selalu saling menganggu.
"Susah jangan perdulikan mereka, ayo kita makan. Lihat bibi sudah memasak makanan kesukaanmu."
"Terimakasih bibi, bibi memang yang terbaik. Setelah ibu."
Bibi Yin dan Bao Yu terkekeh bersama.
......................
Di setiap jalanan dengan matahari yang menyilaukan ada kata yang tertulis di dinding yang memudar.
Annchi menghirup dalam-dalam udara di sore hari. Menyegarkan.
Hubungan antara dirinya dan Cao Chen kembali mendingin. Ia sadar ini salahnya, sepenuhnya.
Annchi menatap hamparan bunga yang tertaman rapi diperantaran kolam ikan, ia yang menanamnya.
Cao Chen kembali. Berjalan, diam, melewati Annchi begitu saja.
'Ketika aku melihatmu hatiku sakit apa yang harus aku lakukan dengan hatiku? Melihatmu terlalu menyakitkan bagiku. Aku selalu berkata kepada hatiku bahwa ini baik-baik saja, tapi terkadang itu terlihat sulit. Mesaki berada disampingmu, hatiku seolah-olah tidak berada disampingmu. Aku selalu merindukanmu.'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo semua
Happy reading 💗