
Terjadi kekacauan di desa, rumah-rumah tua yang menjadi tempat para penduduk berlindung hancur karena tertiup angin saat hujan badai semalam. Begitupun dengan rumah tua milik Annchi.
Chen membawa Annchi dan Xia kembali kerumah pribadi miliknya. Ia membiarkan keduanya tetap tinggal sementara dirinya menyelesaikan masalah yang terjadi di desa.
Chen membawa asisten pribadinya, dan seorang kontraktor untuk menemui kepala desa yang memimpin desa kecil itu.
Chen mengutarakan niatnya yang ingin membangun sebuah rumah susun untuk tinggal warga disana, ia juga akan membangun beberapa taman bermain serta sekolah untuk anak-anak yang tinggal di desa tersebut.
Semua warga desa menyambut dengan suka cita hal tersebut. Ini adalah hal baik, akan ada sekolah dan taman bermain. Setidaknya satu langkah desa ini akan lebih maju.
Setelah penandatanganan beberapa berkas, akhirnya pembangunan akan mulai dilakukan pada hari berikutnya, selama pembangunan seluruh penduduk yang tidak ingin meninggalkan desa akan berada di pos pengungsian.
Chen kembali kerumah disore harinya, saat ia memasuki rumah diruang tamu dia melihat Xia, bayi susu berusia lima tahun sedang mengepel lantai. Kekuatannya sangat kecil, dan tidak bisa mengepel lantai. Chen perjalan menghampirinya, disana ada Annchi dan juga asisten yang dikirim dari rumah keluarga utama.
"Ada apa ini?"
Chen heran melihat si kecil Xia yang sedang bersusah payah untuk mengepel. Chen tampak berhati lembut dan ingin membantu sang putri. Tetapi,..
"Jangan membantunya."
Chen diam ditempat, Annchi membiarkan Xia melakukannya seorang diri. Ini agar ia mengerti bahwa jika dia melakukan hal yang sama, dia harus membersihkannya sendiri.
Wajah menyedihkan sang putri membuat Annchi tak tega, pada akhirnya mereka bertiga membersihkannya bersama-sama. Xia terus memeluk Annchi dan mengucapkan maaf berkali-kali, gadis kecil itu menyesal karena telah membuat sang ibu marah.
"Apakah kamu melakukan kesalahan hari ini?"
"Iya."
"Apakah kamu akan melakukannya lagi di masa depan?"
"Tidak."
"Baiklah, ayo makan."
Selama berada dirumah besar milik Chen, Chen tidak mengizinkan Annchi untuk pergi bekerja, dia ingin Annchi tetap dirumah bersama Xia dan dirinya yang akan pergi bekerja.
Nyonya Li Mei mengundang Chen, Annchi serta si kecil Xia untuk makan malam bersama. Ketika mereka sampai dirumah, semua orang sedang menunggu mereka.
Setelah makan malam Xia terus bersama Yizhen, keduanya begitu dekat. Pada saat ini, Xia sedang berbaring di kasur besar milik Yizhen, gadis kecil itu banyak berceloteh tangannya yang tidak bisa diam terus memainkan rambut panjang milik Yizhen yang sedang tergerai.
Yizhen tidak terlalu menyukai anak-anak, karena menurutnya mereka sangat merepotkan. Ketika dia mendengar bahwa Annchi sedang mengandung anak sang kakak, dia marah besar. Kebencian kepada wanita itu semakin besar. Bagaimana bisa anak dari orang ketiga harus mengandung keturunan dari keluarganya. Tapi setelah melihat dan bertemu dengan Xia, semua itu berubah.
Sekarang pusat keluarga sepenuhnya ada pada bakpao kecil ini. Kakek dan nenek menyukainya, para bibinya pun menyukainya. Meraka akan berlari kepadanya dan memberikan banyak hadiah besar serta kecil untuk si manis Xia.
Hari ini, orang tua Chen membawa Xia ke rumah utama dan dapat dipastikan bahwa bayi kecil itu akan membawa banyak hadiah saat kembali. Bibi-bibinya akan memanjakannya dengan berbagai macam hadiah, begitupun kakek dan neneknya.
Pada pukul dua belas malam, Chen baru kembali dari pekerjaannya. Annchi datang membantunya. Pria itu terlihat lelah.
"Kau sudah makan?"
"Sudah, kenapa tidak tidur hmm? Ini sudah malam."
"Aku menunggumu."
"Ayo pergi tidur, sudah malam. Kau harus istirahat."
..............
"Papa..."
Mahluk kecil itu mendorong pintu, suaranya yang khas anak kecil menguar menyapa gendang telinga. Bukankah dia sudah tidur?Chen tersenyum tidak berdaya dan membawanya ke dalam gendongannya.
Xia berbaring di dada Annchi, memegang pipi Annchi dengan kedua tangannya, lalu memberikan ciuman basah disana.
"Selamat malam."
Annchi terkekeh, putrinya menekan dan menciumnya dengan liur lalu tidur begitu saja. Siapa yang tidak gemas?
"Aku akan kembali ke kamar ku, selamat malam."
..............
Chen membawa Annchi kembali ke desa, pembangunan rumah susun sudah selesai. Annchi dibuat terkagum melihatnya. Ia diajak berkeliling melihat-lihat desa yang sudah lama ia tinggalkan, banyak perubahan besar terjadi.
Taman bermain untuk anak-anak desa di desain dengan sangat menarik dan pastinya aman untuk digunakan, sekolah kecil yang ia lihat pertama kali pun kini semakin besar dan indah.
Annchi mengucapkan terimakasih kepada Chen yang dibalas dengan kecupan hangat di kening. Pria ini berubah seratus delapan puluh derajat dari kehidupan sebelumnya.
Setelah hari yang sibuk, pasangan itu akhirnya selesai. Mereka berdua duduk di sofa dengan sangat lelah.
"Apa kau akan kembali ke desa?"
"Itu tergantung mau mu."
"Aku?"
Chen bingung.
"Jika kamu ingin aku tinggal, aku akan tinggal. Jika kau ingin aku pergi, aku akan pergi."
"Tetap tinggal. Ini semua milikmu, rumah ini milikmu."
Annchi tersenyum. Ponsel milik Chen berdering, dengan malas dia menjawab panggilan itu.
"PAPA AKU INGIN MEIMEI!!"
END.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
妹( mèimei) : mei mei
◇ Adik perempuan
Jangan kemana-mana masih ada spesial chapter...
happy reading 💗