Rebirth As A Pregnant Woman

Rebirth As A Pregnant Woman
Chapter 17



Sudah waktunya untuk perjamuan, dan Annchi merasa lelah. Annchi menghela nafas saat memasuki ruangan, ada meja besar dan beberapa kursi berjejer rapih disebelahnya.


Annchi merasakan tatapan yang tajam menghunusnya, ini adalah perjamuan sekaligus pertemuan dua keluarga besar.


Chen dan Xiu Juan duduk bersebelahan, keduanya terlihat serasi. Annchi merasa bodoh karena datang dan ikut serta dalam perjamuan ini.


"Kakak ipar, kemari duduk bersamaku." Shuwan menyambutnya dengan tangan hangat. Ya setidaknya Annchi punya teman disini.


Annchi tersenyum lembut, semua yang lain merasa dengki padanya. Annchi duduk dengan diapit oleh kedua adik iparnya.


Annchi memandang pria yang duduk berhadapan dengannya. Tampan, sangat tampan. Lalu tatapannya beralih pada wanita disamping pria itu. Hatinya mencelos.


Annchi menundukkan pandangannya, dia tidak bisa melihat siapapun yang berada di ruangan besar ini, tetapi semua orang dapat melihatnya dengan seenak hati.


Makan malam disertai obrolan ringan membuat suasana sedikit lebih rileks, perhatian Chen sepenuhnya jatuh pada Annchi. Sedari awal ia datang Annchi hanya diam, dan beberapa kali menanggapi dengan singkat beberapa pertanyaan yang diajukan padanya.


Annchi mengambil sumpit dan mengigit sepotong daging, daging lembut yang kaya akan cita rasa itu terasa sulit untuk ditelan. Suasana bahagia dan semuanya baik-baik saja, tapi tidak dengan Annchi.


Kepala keluarga, tuan Zhang menatap menantunya dengan prihatin. Seandainya dulu ia tidak melakukan kesalahan semua ini pasti tidak akan terjadi. Annchi tidak akan kehilangan ibunya, dan tidak akan terlibat dalam keluarganya.


Semua orang memandang Annchi saat dia berdiri dengan perutnya yang besar.


"Ibu, ayah mertua tanpa mengurangi rasa hormatku, aku harus pergi lebih dulu."


"Ya lebih baik begitu." Nyonya Li Mei menjawab tanpa memandang Annchi sama sekali.


"Istirahatlah nak, kau harus menjaga kesehatan mu." Tuan Zhang menanggapi dengan senyuman.


Annchi berlalu keluar dari ruangan besar yang terasa menyesakan baginya. Ia harus pergi, tatapan semua orang membuatnya menjadi tidak percaya diri.


....


Annchi tertidur dengan posisi membelakangi pintu, malam sudah semakin larut dan matanya tidak mau tertutup. Kapan pria itu akan datang, apa acara masih belum selesai.


Chen masuk ke kamar saat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tatapannya jatuh pada wanita hamil yang sedang tertidur diranjang besar miliknya.


"Maafkan aku."


Chen menghela nafas prustasi.


"Suami."


Annchi menggeleng pelan, ia duduk dengan perlahan dibantu oleh Chen.


"Ingin makan sesuatu?"


Annchi menggeleng.


"Aku akan gemuk."


"Kau cantik, selamanya akan begitu."


Annchi tersipu malu.


"Sepertinya istriku juga bisa lucu, lihat pipinya yang memerah itu." Chen terkekeh. "Kenapa kamu begitu pendiam, tidak seperti biasanya." Chen menggoda Annchi dan itu membuat pipinya semakin merona.


"Suami."


"Ya istri."


Blush


Annchi memerah sempurna, kenapa pria ini begitu jago membuatnya bersemu malu.


Chen terkekeh lalu memberi kecupan mesra dibibir Annchi.


"Kemari mendekat padaku."


Chen memegang kepalanya dan meletakkannya di dadanya. Annchi mendengar irama detak jantung yang lembut. Dan itu menenangkan baginya. Annchi tersenyum lembut, menutup matanya. Chen memeluknya dalam pelukannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saya telat banget, maaf maaf sibuk banget sama tugas akhir-akhir ini. Banyak praktek kelulusan bikin ini itu jadi gak sempet buka-buka novel apa lagi nulis.


Ada beberapa praktek yang diundur dan ada beberapa yang deadline nya mepet banget, mana tugas kelompok semua lagi:')


Maaf Yaa


Happy reading 💗