
Malam terang. Langit bersih kita tersapu awan. Angin malam membelai lembut. Menyenangkan.
Bao Yu mendesah ke langit-langit malam.
Jiwa remaja tanggung yang sekarang tengah mengisi raga seorang wanita dewasa itu sedang bersedih.
Awalnya ia mengira semua akan baik-baik saja, tapi rasa rindu kepada orang tuanya membuat gadis itu merasa sedih dan kesepian.
Bao Yu rindu Ayah-Ibunya. Sepanjang siang hingga malam menjemput, Bao Yu duduk sendiri menatap hamparan bunga melalui jendela kaca.
Angin semilir yang lembut justru menikam perasaan. Sepi.
Setelah sekian lama menatap hamparan bunga Bao Yu menunduk.
Satu bulir air airnya merekah, menggelayut dipeluk mata Bao Yu. Pelan kristal air itu berguling menggelinding. Tetesan ayah itu terdiam sejenak di dagu, menumpuk membesar. Kemudian dalam gerakan lambat yang pilu terlepaskan.
Bao Yu menunduk dalam. Ia ingin pulang. Rindu Ayah-Ibunya. Rindu rumah.
Pikirannya semakin kalut setelah kemarin melihat Cao Chen pulang dengan menggandeng seorang wanita. Dan itu adalah kekasihnya. Kekasih yang dicintai oleh Cao Chen.
Cao Chen menatap wanita cantik yang kini tengah menangis tanpa suara. Ada apa?
Cao Chen mengabaikannya kembali berjalan meninggalkan Bao Yu seorang diri. Bao Yu menatap punggung lelaki yang sekarang berstatus sebagai suaminya itu. Hampa.
......................
Bao Yu menatap pantulan dirinya sendiri dalam cermin. Sudah beberapa bulan berlalu sejak hari pertama ia tersadar bahwa jiwanya telah menempati raga lain.
Tangannya terangkat, mengelus tonjolan yang terasa sedikit lebih besar pada perutnya. Nyaman. Sangat nyaman.
Dia harus hidup dengan baik, setidaknya sampai anak ini lahir. Bao Yu tidak terlalu berharap bahwa ia akan dapat kembali ke kehidupan sebelumnya, tapi ia harap dimanapun jiwa yang raganya saat ini sedang ia pakai selalu terlindung oleh kebesaran Tuhan.
......................
Hari ini Cao Chen pulang lebih larut. Annchi yang sedang mengisi gelas minumnya segera berlalu keluar dari dapur saat mendengar suara gaduh dari ruang tamu. Siapa? Apa pencuri?
Annchi berjalan menghampiri sumber suara. Ia terkejut saat melihat Cao Chen yang sedikit tidar sadar tertidur di atas sofa dengan pakaian yang berantakan.
Tatapannya jatuh pada pahatan sempurna tangan Tuhan pada wajah Cao Chen. Tak henti-hentinya ia berdecak kagum. Seandainya pria ini mencintai dirinya, sungguh pasti ia akan sangat bahagia.
Annchi meneguk ludah saat tatapannya terjatuh pada bibir merah Cao Chen. Ia tahu pria ini tidak merokok. Tanpa sadar sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.
Cup
Terdengar suara kecupan ditengah ruang luas yang sepi itu. Annchi merutuki dirinya sendiri. Tapi sedetik setelahnya sebuah tangan meraih tengkuknya. Bibir lembut Cao Chen menyentuh dengan lembut bibir merah muda miliknya.
"Layani aku."
Bulan mengintip malu melalui celah jendela. Menjadi saksi bagaimana dua insan itu sedang bersatu. Terdengar suara yang tidak asing bagi siapapun yang mendengarnya.
Annchi semakin dibuat kagum dengan pria tampan yang saat ini tengah menggagahinya. Hidungnya mancung sempurna, bibir yang merah karena tidak merokok, rahang tegas dan tatapan mata setajam elang miliknya semakin terlihat mempesona karena keringat.
Ini adalah kali kedua Cao Chen menggagahinya, perlakuannya tetap sama. Lembut dan menghanyutkan.
Cao Chen menutup matanya perlahan, ia lelah dan ingin istirahat. Annchi memandangi wajah itu sejenak. Mengusap keringat yang masih bersarang di dahi milik suaminya itu.
*Entah kapan, tapi aku harap kamu akan segera mencintaiku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai Hai Hai
Ini cerita alurnya maju mundur yahh, bahkan mungkin akan ada bab-bab yang menyoroti kehidupan tubuh asli milik Bao Yu.
Ohh iya ini enaknya sudut pandang langsung ditulis Annchi atau tetap Bao Yu?
Minta saran dong enaknya gmna, yg terbanyak itu yg aku pake.
see you in the next chapter
bye👋🏻
Happy reading 💗*