
Karena ini makan malam keluarga Annchi berpakaian lebih formal malam ini. Chen memegang tangannya dengan erat dan berjalan ke dalam rumah. Semua pelayan melihatnya, dan tersenyum karena mereka.
Sekarang akhirnya Annchi kembali ke keluarga Zhang, ketersediaan Annchi untuk kembali bersama Chen adalah hal baik yang langka.
Seluruh keluarga duduk di halaman untuk makan malam bersama dengan meriah. Perhatian semua orang pada Annchi telah mencapai puncaknya, bahkan si kecil Xia cemburu melihatnya.
Ini adalah pertama kalinya Annchi merasa benar-benar dihormati dalam keluarga Zhang. Semua orang baik, dan perhatian padanya.
Karena perjamuan keluarga selesai, malam sudah larut, paman dan bibi Chen sudah kembali. Sekarang hanya tersisa keluarga inti.
Keesokan paginya, Xia turun dari tempat tidur Yizhen dan berlari dengan kaki telanjang menuju kamar milik Chen. Sekarang masih pukul setengah enam pagi, dan anak ini bangun terlalu pagi.
Saat masih berlari Xia bertemu dengan bibi Wen.
"Xia, kenapa kamu bangun pagi sekali?"
"Aku ingin melihat papa."
Pertama kali dia melihat anak itu, dia menemukan kemiripan antara dirinya dengan tuan mudanya. Dia tidak hanya cantik, tetapi juga memiliki karakter yang baik.
Lima tahun lalu, Annchi meninggalkan rumah karena kecewa. Ia meninggalkan ibu kota dengan bekas luka yang basah dalam hatinya.
Pada saat itu, setelah Annchi meninggalkan rumah, tuan muda telah banyak diam dan menjadi gila kerja. Dia sering duduk diam sendirian memandang lautan bunga yang dulu ditaman oleh Annchi.
Dirumahnya yang kosong, dia hidup dalam kesendirian dan kedinginan. Bukan tentang cuaca tapi perasaan. Dia tidur lalu bekerja, hanya sedikit makanan yang di sentuh. Ketika dia sakit, dia merawat dirinya sendiri. Tak terhitung siang dan malam, dia telah mencintainya. Menunggunya untuk pulang.
Chen mengalami apa yang Annchi alami selama ini.
Suasana hati yang selalu membuatnya gelisah. Dia menyesal, dia menderita, dia mengerahkan seluruh energinya untuk bekerja. Bibi Wen melihat matanya memerah, dia menangis.
Kini semuanya telah kembali, penyesalannya selama tiga tahun terbayar sudah dengan kebahagiaan seluruh anggota keluarga.
"Bagaimana jika kita menyiapkan sarapan untuk seluruh keluarga? Papa pasti masih tidur, ini masih terlalu pagi untuk bangun."
Xia mengangguk antusias, dia akan membuat sarapan untuk ayah dan ibunya.
........
Dari sisi manapun, Annchi terlihat sangay cantik, dengan kulit putih, garis pinggang yang langsing dan indah, serta kaki yang jenjang. Bibir yang kecil namun seksi, hidungnya yang mancung kecil menambah kesan indah pada tubuh wanita itu.
Chen menatapnya dari kejauhan, keindahan yang terpancar begitu dominan membuat siapapun terpesona.
Chen memperhatikan setiap langkah yang diambil oleh Annchi, dengan sedikit berlari pelan Chen menghampiri Annchi yang akan terjatuh menyentuh tanah. Wanita itu pingsan.
Seluruh keluarga panik, tak terkecuali si kecil Xia. Gadis itu terus menangis, tak mau menjauh dari Annchi yang masih tak sadarkan diri.
Dokter menyimpulkan bahwa Annchi mengalami koma. Tapi tidak terdeteksi satupun penyakit pada tubuh wanita itu, entah apa yang sebenarnya terjadi.
Chen tidak beranjak barang sebentar saja, pria itu terus berada disamping sang istri. Siang malam, dengan segala pekerjaan. Ia hanya akan pergi jika sudah waktunya makan, ia tidak boleh sakit, dirinya harus tetap sehat untuk si kecil Xia.
Shuwan bertugas untuk mengantar jemput Xia sekolah, sedangkan Yizhen membantu Chen mengurus perusahaan.
Xia terlalu muda untuk mengerti apa yang terjadi, dia tidak mengerti kenapa ibunya bisa tidur begitu lama. Kenapa dia terus berbaring di tempat tidur, kenapa dia tidak berbicara dengan siapapun?
Nenek berkata ibu terlalu lelah dan perlu istirahat, Xia mengangguk seolah dia mengerti.
Kemudian Xia akan mengoceh tentang beberapa hal yang menyenangkan yang dia alami kepada Annchi yang masih setia menutup matanya.
........
Melalui pembatas kaca yang tebal, Chen melihat Annchi yang berbaring dengan mata terbuka. Akhirnya, dia kembali.
Chen menghampiri Annchi dengan Xia dalam gendongannya. Dua orang saling memandang, jantung Annchi berdetak tak terkendali.
Chen tersenyum lega, mendudukan Xia di tepi tempat tidur, akhirnya dia bangun setelah tidur selama dua bulan.
Chen melihat kesedihan di mata wanitanya,.
"Ada apa? Hey, kenapa?"
"Bu."
Si kecil Xia dengan segera memeluk sang ibu, ia terlalu rindu.
"Aku merindukanmu."
Annchi merasakan basah di pundaknya, gadis kecil ini menangis. Apa ini putrinya?
"Akhirnya kau sadar nak."
Nyonya Li Mei memeluknya, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa mereka semua terlihat bersahabat?
🥀🥀🥀
"Bao Yu, kau sudah bangun? Dokter, dokter!"
Diwei berlari keluar ruangan, akhirnya kekasih hatinya telah sadarkan diri.
"Diwei."
Diwei meraih lengan lemah milik kekasihnya.
"Aku kembali."
Diwei terlihat bingung, kembali? Bukankah selama ini Bao Yu terus bersamanya.
Diwei melihat sudut bibir Bao Yu melengkung dan tersenyum, matanya basah, gadis ini menangis.
"Hey kenapa?"
"Aku... aku..."
"Sudah cukup, kau harus istirahat. Berhenti berbicara, setelah kau sembuh kau bisa bicara semau mu. Aku akan menelepon bibi dan paman, mereka pasti bahagia mendengar kabar ini."
Bao Yu tersenyum lagi. Dia ingin mengucapkan terimakasih tapi itu terlalu sulit.
Bao Yu menghadapi peristiwa besar untuk pertama kalinya, dia bingung dan tidak tahu apa yang sebenernya terjadi. Ketika ia terbangun dari komanya, ia menyadari bahwa kehidupannya sudah berputar seratus delapan puluh derajat, ia bukan lagi siswi sekolah menengah atas melainkan pekerja disalah satu perusahaan besar milik keluarga Diwei. Untungnya, Diwei selalu ada untuknya, selalu menghiburnya.
Diwei mengatakan bahwa dirinya tenggelam saat sedang berenang, mungkin itu karena keram di kaki. Ketika Diwei melihatnya, Bao Yu sudah tidak sadarkan diri.
..............
Keduanya tengah berada disebuah restoran bergaya klasik, Bao Yu sedang memainkan ponsel milik Diwei, dia membuka galeri ponsel milik Diwei dan menemukan sebuah foto dirinya dan pria itu. Tapi seingatnya dia tidak pernah mengambil potret bersama Diwei sebelumnya.
"Diwei."
"Hmmm." Diwei melihat sebentar lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
"Ini?"
Diwei menutup laptop miliknya, meraih lengan milik Bao Yu.
"Kau lupa? Tak apa kau pasti akan ingat nanti."
Pria itu tersenyum tulus, Bao Yu masih bingung dengan semuanya. Apakah ia telah melewati dunia yang berbeda? Yang ia ingat sebelumnya adalah ia berada ditubuh yang entah milik siapa. Tapi ternyata di dalam raga yang ia tinggalkan terdapat jiwa lain juga.
"Buka mulutmu."
Jantung Bao Yu berdegup, pipinya memerah sampai telinga. Sekarang ia makan dengan kasih sayang dari pihak lain.
🥀🥀🥀
Hamparan rumput hijau setinggi mata kaki tertiup oleh angin. Tanpa sengaja angin dingin setelah gerimis berhembus menyentuh kulit keduanya. Memandang ke sekelilingnya. Annchi menghirup wangi tanah basah di sekitarnya. Tempat ini begitu segar dan sejuk, sepertinya memiliki lebih banyak oksigen jika dibandingkan tempat yang lainnya.
"Bunga lili putih?"
Annchi bergumam, seingatnya dia tidak pernah menanam bunga itu ditaman rumahnya.
"Aku yang menanamnya. Bunga lili putih melambangkan awal yang baru dari kehidupan seseorang, bunga lili putih juga mewakili kemurnian, komitmen, dan kelahiran kembali. Ya setidaknya itu yang paman penjual bunga katakan padaku."
Tunggu apa yang dia dengar? Kelahiran kembali? Apakah yang menempati tubuhnya juga berpindah? Lalu siapa yang menempati tubuhnya sebelumnya?
'Siapapun kamu, di manapun kamu, semoga Tuhan selalu melindungi mu. Terimakasih.'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Inikan cerita fokusnya ke kehidupan Bao Yu di tubuh Annchi, jadi saya fokusin nya ke kisah antara Annchi sama Chen. Karena garis besar novel ini tuh masalah rumah tangga. Yang jadi karakter utama pun Annchi sama Chen, jadi ya fokusnya ke mereka berdua.
Mungkin bakal ada bab khusus lainnya, mungkin. Gak tau juga, tungguin aja. Soalnya jujur nulis ini tuh gak asal ketik, bahkan buat satu kalimat aja tuh harus benar-benar ada inspirasi, entah dari musik atau apapun itu. Karena saya pengen tulisan saya ini jadi sesuatu yang bisa dinikmati saat dibaca, bukan cuma asal ceritanya menarik ya udah gitu, bukan. Saya maunya ceritanya menarik begitupun penulisannya entah dari segi pemilihan kata dan lainnya. Jadi saya usahain yang terbaik. Tunggu aja yaa, siapa tau kan ada bab khusus lainnya.
bye bye 👋🏻
happy reading 💗