
"Bu kenapa Xia tidak punya papa? Kenapa ibu bekerja? Kenapa ibu tidak bersama Xia dirumah? Apa papa sudah disurga?"
Annchi terkejut mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut kecil putrinya.
"Kemari, duduk bersama ibu."
"Maaf bu."
"Ibu yang seharusnya minta maaf, ibu tidak memiliki kemampuan untuk memberimu kehidupan yang lebih baik. Tapi, ibu harap Xia mengerti bahwa ibu bekerja untuk Xia."
"Papa?"
"Papa sama seperti ibu, dia sedang bekerja. Bekerja untuk Xia, untuk ibu."
"Kenapa papa tidak pulang?"
"Papa akan pulang, tapi saat ini papa tidak bisa meninggalkan pekerjaannya."
"Kapan?"
"Saat Xia mulai bersekolah, papa akan datang."
Bohong. Jelas Annchi berbohong. Tapi apa lagi yang harus Annchi katakan selain kebohongan? Mahluk kecil dihadapannya ini terlalu berharga, Annchi tidak ingin menyakitinya.
Xia menganggukkan kepalanya dan melemparkan dirinya pada pelukan Annchi. Pada akhirnya kebohongan lah yang menyelamatkan plot awalnya.
"Ingin ice cream?"
Xia mengangguk dengan semangat.
.............
Mata Xia terlelap, dibawah lampu tidur kecil Annchi bersandar dikepala ranjang, membacakan cerita anak.
Annchi menoleh, melihat putrinya yang tertidur. Cantik, seluruh bagian wajah ini adalah milik Chen.
Xia baru berusia empat tahun, satu tahun terakhir ini yang selalu ia tanyakan adalah sosok pria yang seharusnya ia sebut 'Papa'.
Annchi pernah memikirkan pertanyaan ini. Tapi ia tidak tahu bahwa itu akan secepat ini. Bagaimana dia harus menjawabnya? Alasan apa lagi yang harus ia pakai untuk menutupi semuanya?
Seharusnya Xia hidup bak seorang putri dalam istana besar milik ayahnya, tapi nyatanya sekarang ia malah terlahir dan hidup dirumah kecil yang jika dibandingkan dengan istana milik keluarga Zhang jelas tidak akan pernah sama.
Xia tumbuh bahagia dengan banyak teman didesa ini, tapi tidak ada cinta dari ayahnya. Setiap kali ia pergi bermain, dia selalu melihat anak-anak lain di jemput oleh ayahnya dan dicintai oleh kakek-nenek.
..............
Tuan dan nyonya Zhang datang berkunjung ke kediaman milik Cao Chen.
Mereka menelepon dan bertanya pada asisten rumah tangga yang bekerja dirumah itu, dan dia mengatakan bahwa Chen sering pulang larut malam.
Tuan Zhang dan istrinya khawatir dengan kondisi putra mereka.
"Tuan muda belum bangun nyonya, haruskah saya membangunkannya?"
"Tidak perlu, kami bisa bicara setelah dia bangun. Kau bisa pergi dan buat makan siang."
"Baik."
Chen bangun saat matahari sudah menempati titik tertinggi tempatnya. Membuka matanya yang mengantuk, beranjak, lalu berganti pakaian dan turun ke lantai bawah.
"Ayah, ibu, kenapa kalian disini?" .
Nyonya Li menatap putranya yang sudah lama tidak pulang kerumah itu. Hampir tiga bulan Chen tidak pulang, bahkan sekedar berkunjung saja tidak.
"Chen, apakah kamu lupa bahwa kamu masih memiliki orang tua? Tidak pulang selama tiga bulan, apa yang kau lakukan?"
"Maaf bu aku sibuk, ada beberapa hal yang harus aku selesaikan di kantor baruku."
"Lalu?"
"Apa yang membawa ibu dan ayah datang kemari? Aku harap tidak hanya khawatir dengan kondisi putra mu ini."
"Kau bertemu dengan cucu ibu?"
"Ibu tahu?"
"Jelas, dasar bodoh. Ibu mengirim orang untuk selalu mengawasinya."
"Lalu? Ibu sudah tahu kenapa masih bertanya."
"Dasar anak ini."
Nyonya Li Mei mencubit lengan Chen dengan kencang.
"Bu~buu~bu kau menyakitiku. Ayah lebih baik kau bawa istrimu ini pergi."
"Anak sialan, sini kau."
Chen menghindar, naik kembali ke lantai tiga rumahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maaf, maaf banget nih, seminggu kemarin kan ujian praktek, nah seminggu ini ujian tulisnya. Masih dua hari lagi sih, doain ya semoga lancar nih dua hari terakhir ujian...
Dadah makasihhh
Happy reading 💗
Yang mau temenan sama aku boleh loh mampir ke Ig ku @sptiana___
Makasih dadah👋🏻👋🏻👋🏻