Rebirth As A Pregnant Woman

Rebirth As A Pregnant Woman
Chapter 25



Sudah hampir lima tahun, dan begitu banyak orang yang telah berubah. Annchi dulu berpikir bahwa dia akan menikah dengan keluarga kaya dan menjadi istri dari pria yang luar biasa tampan. Tapi, kemudian kejadian tak terduga menimpanya.


Annchi mengurungkan niatnya untuk menikah dengan keluarga kaya, ya itu tidak perlu. Dengan dirinya sendiri menjadi kaya itu sudah cukup. Ngomong-ngomong bagaimana dengan dirinya yang sebenarnya?


Annchi bangun pagi-pagi, menyikat gigi dan mencuci wajah dengan Xia dalam gendongannya. Setelah sarapan Annchi mendandani Xia dengan pakaian yang menggemaskan, lalu membawanya keluar.


Tumbuh menjadi bayi yang kritis, selama dalam perjalanan Xia tidak henti-hentinya bertanya, tentang...


'Kemana kita akan pergi?'


'Apa itu?'


'Kenapa mobil bisa berjalan?'


'Kenapa paman itu mengambil uang dari ibu?'


'Kenapa lama sekali?'


Melihat Putrinya yang antusias, Annchi merasa semuanya sepadan. Xia lucu dan bijaksana. Meskipun terkadang nakal, namun gadis kecil ini lah yang membuat hari-harinya lebih berharga.


Xia terus meloncat bahagia dia tidak bisa berhenti bersemangat. Ada banyak jenis binatang yang ditemuinya, dan juga berbagai permainan hiburan yang membuatnya semakin bersemangat.


"Bu, aku lapar." Annchi menatap Xia yang menunjuk puppy eyesnya.


Xia sudah leleh bermain, ia duduk dengan sangat tenang. Melihat matanya Annchi tahu bahwa sepertinya dia ingin tidur.


Selesai dengan makanannya, Annchi membawa Xia untuk kembali. Tapi kebetulan yang sangat disayangkan itu terjadi. Begitu dia keluar dari restoran, dia bertemu dengan orang yang tidak ingin dia lihat dalam hidupnya. Zhang Cao Chen.


"Paman."


Suara lembut Xia menyapa dengan sopan pendengaran Cao Chen, mulut kemerahan dan mata hitam besar seperti biji kelengkeng. Anak ini sangat menggemaskan.


"Maaf kami pergi dulu."


Sebelum Chen bisa menjawab, suara khas anak-anak yang jernih membuat perhatiannya teralih.


"Sampai jumpa lagi paman."


Xia melambaikan tangannya, tersenyum melihat ayah yang disebutnya dengan panggilan paman.


Kembali kerumah utama, seluruh keluarga menyambutnya dengan bahagia.


Shuwan melihat sekilas bahwa kakaknya sedang dalam suasana hati yang salah. Setelah selesai dengan makan malam, Shuwan menuju kamar milik Chen.


"Ge."


Chen menoleh, tersenyum menatap adik bungsunya itu.


"Aku baik-baik saja, hanya sedikit lelah."


"Pembohong. Kau tidak suka berbicara, sekarang sering tidak pulang, dan kau bekerja keras seperti tidak ada hari esok."


Shuwan mengatakan yang sebenarnya. Dalam beberapa tahun terakhir, Chen benar-benar berubah. Selain pekerjaan, dia tidak tertarik pada hal lain.


"Sudah larut, pergilah ke kamarmu."


Shuwan menatap kakaknya dengan wajah melas, selalu seperti ini.


"Aku harap kau baik-baik saja, selamat malam Ge."


🌻🌻🌻


Menghirup nafas dalam, keduanya berjalan beriringan.


"Lihat kesana."


"Indahnya, matahari pagi selalu menjadi yang terbaik."


Bao Yu tersenyum.


Dengan pelan Diwei menggenggam tangan wanita disisinya. Memasukan genggaman tangan keduanya ke saku jakat tebal yang dia gunakan. Menjaganya tetap hangat.


"Aku mencintaimu."


Annchi tersenyum menatap Diwei, siluet senja yang membasuh wajah Diwei meninggalkan kesan yang mendalam dalam benaknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Akhirnya libur juga, pas banget puasa pertama udah gak pusing lagi sama yang namanya tugas.


Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang berpuasa, stay healthy kita puasa masih lama.


papayyyy👋🏻👋🏻


Happy reading💗