
Pagi kedua Annchi terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal. Membuka matanya pelan, Annchi memandang lampu gantung diatas ruangan. Cahaya yang hangat membuatnya merasa sedikit lebih nyaman.
Pintu ruang perawatan terbuka, sosok tinggi besar Cao Chen muncul dari balik pintu.
Perlahan dirinya mengerti. Pemilik tubuh asli hanya menginginkan agar Chen kembali untuk melihat dirinya. Tanpa sadar ia ikut bersedih dengan apa yang telah pemilik tubuh lewati.
Setengah ingatan dari pemilik tubuh kembali padanya, ia mengerti bahwa pemilik tubuh asli benar benar memiliki ketertarikan terhadap Cao Chen.
Dulu keduanya sempat menjalin asmara sampai akhirnya memutuskan untuk menikah, namun ternyata cintanya hanya milik sendiri.
Setelah melewati malam panjang bersama, Annchi mendapati bahwa Chen memiliki seorang kekasih selain dirinya dan dalam kisah ini dialah yang menjadi orang ketiganya. Kenyataan yang sangat ditolaknya adalah bahwa Chen tidak mencintai dirinya.
Selama masa awal pernikahan Chen mengibarkan bendera perang padanya. Tapi kenapa? Apa yang telah pemilik tubuh asli ini lakukan?
"Ingin makan sesuatu?"
"Aku ingin makan diluar."
Annchi dan Chen meninggalkan rumah sakit setelah menyesuaikan semua biaya administrasi.
Pintu restoran terbuka, menampilkan kemewahan kalangan atas. Annchi sedikit tertegun, ini kali pertama ia makan diluar dalam dunia barunya.
Keduanya diarahkan untuk duduk di ruang utama. Tempat dengan pemandangan terbaik.
Menatap kesekitarnya, meja luas, kursi empuk, ruangan di desain dengan sangat baik. Bahkan aroma dalam ruangan disesuaikan dengan begitu baik.
Chen mulai memesan makanan pada pelayan restoran disampingnya. Pelayan itu melirik Chen berkali kali. Annchi menatap wajah suaminya. Wajah yang tampan untuk seorang pria.
Semua hidangan dengan bentuk yang menggugah selera disajikan. Perutnya berbunyi pelan. Makan malam berlalu dengan keadaan tenang.
Perjalanan pulang terasa lebih lama. Chen menatap wanita hamil disebelehnya yang tertidur nyenyak. Selimut tebal menutupi sempurna tubuh wanita hamil itu.
Menutup matanya pelan, Chen memikirkan apa dampak terburuk yang akan terjadi. Ini salahnya, dan ia akui itu.
Annchi akan selalu berada dalam pengawasannya, menjaga keamanan wanita ini sepenuhnya menjadi tugas utama baginya.
...
Menatap ke sekeliling ruangan, Annchi tidak menemukan keberadaan pria itu dimanapun.
Turun dari atas ranjang empuk miliknya. Annchi tiba-tiba merasakan bagian kepalanya berdenyut pelan. Terhuyung pelan, hampir saja Annchi menjatuhkan dirinya ke lantai marmer. Namun Chen tidak kalah cepat.
Annchi merona sempurna, rambut basah milik Chen membuat ketampanan pria itu semakin bertambah.
"Kau butuh sesuatu? Katakan padaku."
Annchi tersipu, setengah bagian dari dirinya memberontak ingin mencium bibir merah alami milik Cao Chen.
Dada bidang dengan postur tubuh yang gagah ditambah dengan wajah tampan, siapa yang tidak akan terbius oleh pria ini.
"Kau meneguk ludah? Ingin mencium ku?"
Annchi merutuki dirinya sendiri, bagaimana bisa dia terpesona sampai seperti ini.
Annchi membelalakkan matanya. Ciuman pertamanya, tidak kenapa pria ini menciumnya.
Annchi mendorong pelan tubuh besar milik Chen, ciuman keduanya terlepas.
"Kenapa kau mencium ku?"
"Ada apa? Kau tidak suka?"
"Suka, tidak eh maksudku kenapa kau mencuri cuman pertamaku?"
"Ciuman pertama?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hayo ada yang tau kenapa Chen bisa benci sama Annchi, jawabannya udah saya spoiler dari diawal-awal chapter lohh
Happy reading 💗
bye bye 👋🏻