
Mendekap erat wanita yang tertidur dalam dekapannya, Cao Chen menghela nafas perlahan. Meraih kepalan tangan Annchi, Chen meletakkan jari kecil yang mengepal itu tepat diatas bibirnya. Hangat.
Hujan kembali mengungkung kota malam ini. Chen perlahan melepaskan pelukannya, terbangun turun dari atas ranjang.
Tatapannya jatuh pada wajah pucat tanpa riasan namun masih terlihat cantik. Kepalanya menoleh, melihat air hujan yang semakin deras menghujami tanah.
Chen melangkahkan kakinya mendekati jendela, tangannya memegang benda pipih miliknya, mengetikan beberapa kata lalu kembali menutupnya.
Chen menetap tetes air yang terlihat menempel pada bagian kaca jendela besar kamarnya. Pandangannya lurus, matanya menatap setajam elang. Namun pikirannya jauh melayang ditempat lain.
....
Annchi mengelus bagian perutnya. Ia merasa aneh dengan perubahan bentuk dari bagian tubuhnya.
Diluar ruangan hujan lagi lagi turun. Sepanjang malam dan pagi. Suami dari pemilik tubuh asli juga tidak berada disekitarnya.
Annchi menutup matanya, tangannya masih mengusap tempat yang sama secara berulang. Ia merasakan gerakan yang sedikit kasar dari penghuni bagian perutnya.
"Kau senang? Jangan terlalu kasar, itu menyakitiku."
Annchi menusuk nusuk pelan bagian perutnya.
"Setelah kau lahir tetaplah berjalan disamping ayahmu, aku tidak bisa membawamu ikut serta bersamaku. Kau membutuhkan rumah yang layak, makanan yang layak, pendidikan yang layak dan aku tidak dapat menjamin itu semua."
Annchi tersenyum miris, berat rasanya jika ia harus meninggalkan bayi dan ayah dari sang bayi. Tapi ini adalah yang terbaik untuknya, atau mungkin tidak.
"Kau akan memiliki ibu yang cantik baik dan berpendidikan. Ayahmu akan menikahi Xiu Juan, kau tahu dia sangat sangat baik. Aku merasa bersalah karena telah menikah dengan kekasihnya. Kau harus hidup dengan baik, walau itu tanpaku."
Hening.
"Mingshen, kau suka? Orang yang namanya Mingshen adalah orang yang berani, cerdas, dan pekerja keras. Kau seorang teman yang setia dan akan menjadi pasangan yang sangat dapat diandalkan. Aku rasa nama itu cocok denganmu. Zhang Mingshen.
....
Hidung mancung yang kecil, rambut panjang dengan sedikit gelombang diujung. Annchi dengan perut yang bulat, ini sempurna.
Annchi meregangkan tubuhnya, dia mudah mengantuk. Tanpa sadar tatapannya menatap ke jendela kaca. Taman. Sangat indah.
Ini pagi yang cerah dan hangat akan sangat bagus jika ia sedikit berjalan-jalan di taman.
Menatap bangku kayu yang terukir dengan indah, Annchi memutuskan untuk duduk disana.
Annchi menatap rumput hijau di kakinya, ia berjalan tanpa alas kaki.
Menghirup angin pagi dibawah pohon. Sangat nyaman. Banyak bunga kecil disekitarnya, Annchi menutup matanya, menghirup dalam dalam udara pagi yang menyejukkan.
Chen menatap Annchi yang sedang duduk di kursi taman dari jarak yang sedikit jauh. Saat menatap wajah cantik wanita yang sedang mengandung itu ia merasakan emosi yang rumit.
Senyum cerah terlihat dari wajah Annchi. Itu berkat bunga warna-warni yang memenuhi taman.
Annchi beranjak menghampiri sebuah bunga yang menarik perhatiannya, kemudian menundukkan kepalanya sedikit mencium aroma bunga yang kelopaknya menyentuh ujung hidungnya.
Pada saat yang sama Chen terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh Annchi. Wajah yang berdiri diatas bunga ungu yang mekar dengan indah, menutup mata dengan elegan sambil tersenyum, membangkitkan emosi yang sulit dalam jiwanya.
Chen menekan pelan bagian dadanya. Sialan, detak jantungnya tak terkendali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Btw lebih suka novel yang banyak narasi apa yang banyak dialog?
Bingung banget mau nulis dialog apa di chapter kali ini.