
Annchi dan Chen membawa Xia ke klinik terdekat, dan kemudian membawa Xia ke surga anak-anak di pusat perbelanjaan. Setelah bersenang-senang, Xia telah melupakan ketidaknyamanan yang terjadi di sebelumnya.
"Bu apa paman Chen itu papa?"
Kini keduanya sedang berbaring, Annchi tersenyum menatap putrinya. Tangannya terulur untuk mengusap luka kecil yang dimiliki sang putri.
..............
Xia tidak menyangka bahwa yang akan menjemputnya hari ini adalah 'Paman' tercintanya, dan ketika dia melihat sosok itu berdiri di gerbang sekolah dengan semangat dia melepaskan diri dari tangan sang guru, berlari dan bergegas ke pelukan Chen.
"Paman, aku sangat merindukanmu." Xia berbaring dipelukan Chen dan mencium Chen dengan mesra.
"Paman juga merindukanmu."
Chen berjalan menuju mobil dengan Xia dalam gendongannya.
Ketika Annchi membuka pintu, dia melihat sosok besar dan kecil berdiri di depan pintu rumahnya. Setelah pintu terbuka Chen dan Xia berjalan masuk.
Xia terus menempel kepada Chen sepanjang hari, gadis kecil itu tidak memberikan Chen pergi barang sebentar. Bahkan ia menolak ajakan Ling yang akan membawanya pergi kesawah bersama sang ibu.
"Bu seperti apa papa? Apa tampan seperti paman? Akan lebih baik kalau paman yang jadi papa ku."
Annchi dan Chen saling bertatapan. Pikiran anak-anak sangat sederhana dan to the point. Mereka akan mengatakan apapun yang mereka pikirkan dan inginkan. Mereka tidak akan berpikir bahwa orang dewasa mungkin akan terkejut karena kata-katanya.
//Anak kecil tuh jujur banget//
Chen dengan lembit mengangkat Xia dan berjalan menuju ke belakang rumah. Chen melihat bukit-bukit yang menjulang tinggi dengan pohon-pohon besar dan beberapa bunga menghiasinya. Indah.
Chen menurunkan Xia secara perlahan dan mereka duduk bersama dibangku kayu.
"Apakah Xia masih memikirkan papa?"
"Tentu saja."
"Apa yang ibumu katakan tentang papa?"
"Ibu bilang papa sedang bekerja, dia tidak kembali untuk menemui ku, aku marah."
"Lalu? Apa ibu tidak memberitahu mu tentang siapa papa?"
Xia menggeleng.
"Xia ingin paman saja yang menjadi papa."
"Lalu bagaimana dengan papamu?"
"Aku tidak tahu."
"Jika paman jadi papa mu, apa yang akan ibumu katakan nanti." Chen berkata seolah-olah berpikir.
"Ibu bilang Xia harus bertanya dulu pada paman."
"Bertanya?"
"Hmphhh, ibu bilang jika Xia ingin paman jadi papa, Xia harus bertanya apa boleh?"
"Benarkah ibu mengatakan itu?"
"Iya."
"Xia ingin paman jadi papa?"
Xia mengangguk dengan antusias. Chen menautkan kedua alisnya, mencoba mengerjai Xia.
"Bagaimana ya.."
"Paman tidak mau?" Mata bulat itu terlihat sedih melihat reaksi Chen.
Xia berdiri, tersenyum menunjukkan deretan gigi susunya, memeluk Chen dengan erat.
Hubungan keduanya menjadi lebih terikat, Chen yakin bahwa suatu saat nanti Xia akan mengerti. Setiap hari dia terus menganggu Chen untuk datang bermain dengannya setelah pulang kerja.
Chen membantu Xia mandi, setelah selesai berpakian gadis kecil itu menjerat Chen untuk menceritakan dongeng kepadanya. Tubuh besar dan tinggi Chen membuatnya kesulitan untuk berbaring diranjang kecil milik Annchi dan Xia. Pria itu menekuk kakinya.
Chen membacakan dongeng untuk Xia sampai anak kecil itu tertidur dengan mulut yang sedikit terbuka dan hal itu membuatnya semakin terlihat gemas. Chen mengeluarkan ponsel miliknya, lalu memotret gadis kecil itu.
Melihat kesekitar kamar, dia pernah kesini sebelumnya. Tetapi, pada saat itu Chen tidak berniat untuk melihat rumahnya.
Chen masih ingat bahwa ketika dia pertama kali masuk ke rumah ini, Annchi dan sang ibu menyambutnya dengan hangat. Dia belum pernah tinggal di rumah seperti ini dalam hidupnya. Rumah ini sudah tua dan kecil.
Chen beranjak dengan perlahan, memperbaiki selimut yang menutupi tubuh kecil Xia. Tangannya terulur untuk membuka salah satu laci disamping tempat tidur.
Chen tidak percaya bahwa Annchi akan menyimpan foto pernikahan mereka.
Annchi masuk ke dalam kamar untuk melihat Xia, dan melihat Chen sedang memegang foto ditangannya. Chen menoleh, terlihat salah tingkah.
"Aku..."
"Foto ini selalu bersamaku."
..............
Pagi harinya.
Annchi mendengar suara berderak di dapur, seolah-olah seseorang sedang memotong sesutu. Menguap perlahan dan bangkit, lalu berjalan ke dapur.
Pemandangan didepannya membuatnya tercengang.
Siapa pria ini? Seluruh tubuhnya ternodai oleh banyak tepung putih.
"Bu, tepung ini tidak patuh. Sebaiknya aku membelinya saja."
Chen? Annchi terus melihat pria itu yang sedang melakukan obrolan video dengan ibunya.
Nyonya Li Mei sangat kesal menghadapi keluhan Chen.
"Zhang Cao Chen, apa yang kamu makan ha? Kamu pintar disekolah, pandai dalam bekerja. Kenapa hanya menggulung adonan saja kamu tidak bisa?"
Nyonya Li Mei memutuskan panggilan videonya.
"Tidak, bu, ibuu---"
Chen menghela nafasnya tak berdaya dan berkata kepada dirinya sendiri "Bagaimana bisa begitu sulit membuat mie untuk istri dan anak ku." Tepat ketika ia berbalik, dia melihat Annchi yang sedang berdiri dibelakangnya.
"Kenapa kamu bangun?"
"Bagaimana bisa aku tidur jika ada yang akan menghancurkan dapur ku?"
Chen melihat ke sekelilingnya, banyak sekali tepung dan potongan sayuran mengotori lantai dan beberapa bagian yang ada di dapur.
"Maaf aku menyesal."
"Bersihkan dirimu dulu, aku akan mengajarimu cara melakukannya."
Begitu istrinya berbicara, Chen memalingkan wajahnya dan menyeringai bahagia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dadah👋🏻👋🏻
Happy reading 💗