
Chen menatap kalender kecil yang berada di atas meja kerjanya, sudah lama sejak Annchi pergi. Bukankah seharusnya sekarang buah hatinya telah lahir?
Putus asa. Ya, Chen putus asa. Bibi Annchi tidak mau memberitahukan dimana keberadaan Annchi saat ini. Bagaimana lagi Chen harus mencarinya?
Chen pulang dengan keadaan lesu, bukan perihal pekerjaan tapi masalah ini lebih serius lagi.
Masuk ke kamar, Chen di sambut dengan Juan yang sedang berbaring. Wajah cantik itu terlihat pucat dan layu. Beberapa helai rambutnya hilang. Walapun begitu, tak sedikitpun kecantikannya berkurang.
"Sudah minum obatmu?"
Juan mengangguk, tersenyum menatap prianya.
"Kau sudah menemukan Annchi?"
"Belum, tapi akan. Aku akan menemukannya.'
"Maafkan aku Chen, maaf karena keadaan ini."
"Tidak ada yang salah disini, kau fokuslah pada kesembuhanmu."
"Aku tidak yakin."
"Kau akan sembuh, oke? Kau akan sembuh."
Juan tersenyum, bibirnya pucatnya membentuk sebuah senyuman yang tulus.
....
"Kau sudah menemukan wanita itu?"
"Kami belum menemukan keberadaannya nyonya."
"Tetap cari, dan segera melapor padaku apapun perkembangannya."
"Baik nyonya, kami permisi."
....
"Bibi lihat lihat jariku digenggam."
"Dia menyukaimu."
"Hai cantik, ini jiě jiě. jiě jiě Ling. jiě jiě Ling yang paling cantik."
Bayi kecil itu tersenyum, menampakkan deretan gusinya yang masih belum terisi oleh gigi.
"Bibi siapa namanya?"
Annchi menggeleng, sampai saat ini dia belum menemukan nama yang menurutnya cocok.
"Baiklah akan aku panggil bayi lobak."
"Bayi lobak?"
"Emmm." Mengangguk "Lihat badannya yang bulat, jadi kita panggil bayi lobak."
Annchi merasa sedang dengan antusias anak-anak pada bayinya, ia merasa lebih baik hari demi hari.
Annchi tersenyum menatap bayi dalam dekapannya, cantik. Beberapa bagian miliknya dan beberapa bagian milik prianya.
Ibu-ibu desa bergantian membantunya, bahkan ada yang membantunya untuk menyuci pakaiannya. Banyak juga yang membawakannya makanan untuk penunjang asi.
Dikehidupan sebelumnya walaupun ia tergolong siswa yang cerdas tapi ia juga tergolong anak pembangkang dikeluarkannya.
Sering kali ia mendapat omela dari sang ibu, dan ya sebagai anak remaja dengan gelora muda tentu saja ia tidak tinggal diam. Tak jarang dirinya menjawab dan menganggap remeh ucapan ibunya.
'Bu aku merindukan mu."
🌻🌻🌻
"BAO YU!! Cepat bagun sudah siang bantu ibu dibawah."
"Bu, aku sudah bangun. Jangan berisik ibu menganggu tetangga asal ibu tahu."
"Aku tidak akan berteriak jika kau bangun lebih pagi. Lihat sekarang pukul berapa?"
"Baru pukul sebelas bu, tenang saja."
"Baru? Dasar anak ini. Pantas tidak ada yang mau berkencan dengan mu."
"Bu jangan seperti itu. Aku sudah punya." Bao Yu mengatakannya dengan malu-malu.
"Sudah punya? Siapa pria itu, bawa kemari."
"Ahh ibu, sudahlah bu. Mana pesanan yang harus aku antar."
"Anak ini, aku sudah memisahkan pesanannya dengan pelastik berwarna biru. Hati-hati jangan merusaknya."
Bao Yu hanya mengangguk malas.
"Kenalkan pria itu pada ibu."
Annchi melenggang pergi dengan sepeda motor miliknya, tanpa menghiraukan ucapan sang ibu.
🌻🌻🌻
Diwei?
Bagaimana keadaannya sekarang.
Jika Annchi memiliki kesempatan, ia ingin kembali pada kehidupannya yang dulu.
....
"Bu, kau harus sembuh."
"Chen, ayahmu dengan wanita itu. Aku tidak ingin hidup lagi."
"Bu, tolong jangan seperti ini. Kau akan sembuh, aku akan membalasnya untukmu."
Chen terbangun dari tidurnya, mimpi buruk itu lagi.
Ia menyesal sangat menyesal. Dendam membuatnya menderita, dendam membuatnya kehilangan cinta.
'Maafkan aku, kumohon kembali."
...****************...
Telat lagi!!!
Happy reading 💗