Rebirth As A Pregnant Woman

Rebirth As A Pregnant Woman
Chapter 11



Annchi Yaris tak berhasil mengangkat kelopak matanya yang berat ke atas sambil merasakan sakit kepalanya.


Annchi perlahan menoleh. Nafasnya tersengal seperti telah berlari. Sudah pagi. Dan lagi lagi sendiri.


Annchi berjalan jalan di sekitar rumah untuk menjernihkan pikirannya.


Annchi menatap bunga berwarna putih di hadapannya. Pandangannya teralihkan ke langit di atas. Sedikit mendung. Hanya beberapa burung yang terbang melintas.


"Benar, Chen tidak mencintainya."


Ketika keluarga besar mengadakan perjamuan makan malam, Annchi selalu berdiri belakang. Sesuatu telah menghalangi dirinya. Sebuah tembok es tinggi yang dibangun dengan sangat kokoh dan Annchi tidak dapat melewatinya.


Chen jarang berbicara dengannya.


"Apa yang harus aku lakukan?" Annchi menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Chen tidak kembali. Suaminya pergi ke suatu tempat dan Annchi tidak tahu kapan ia akan kembali. Apa yang dia lakukan. Bersama siapa.


Annchi jelas tahu sedang bersama siapa Chen sekarang. Xiu Juan. Wanita cantik itu adalah kekasih suaminya.


Jika dibandingkan dengan Juan, Annchi terlihat seperti kerikil yang kapan saja bisa terinjak karena tidak terlihat. Juan cerdas, berbakat, cantik dan begitu baik.


"Dia tidak menginginkanku, ya kan?" Hanya dirinya. Annchi sendirian.


"Kau tahu? Hanya kau yang menjadi temanku saat ini. Aku menyukaimu bayi kecil."


Annchi beranjak dari tempat duduknya, pandangannya memburam. Sepersekian detik sebelum tubuhnya menyentuh tanah Annchi merasakan ada tangan besar yang mendekapnya.


Mobil mewah hitam yang dikemudikan supir pribadi Cao Chen melaju dengan cepat menuju rumah sakit. Chen menatap wanita yang masih menutup mata di pangkuannya.


Menutup matanya pelan, Chen merasakan jantungnya ditekan dengan kuat.


Chen berlari keluar dari mobil, dengan tergesa pria jangkung itu membawa seorang wanita hamil dalam gendongannya. Para perawat dengan segera mempersiapkan ranjang dorong khusus pasien.


Chen berdiri diam, menatap tubuh Annchi yang menghilang dibalik ruangan. Duduk di kursi tunggu, Chen menatap telapak tangannya yang bergetar.


Beberapa saat berlalu, dokter yang bertugas menangani Annchi akhirnya keluar dari baik pintu. Keduanya berhadapan.


Menatap wanita miliknya yang masih terbaring dengan mata tertutup, pandangan matanya yang fokus pada Annchi perlahan berpindah menatap perut yang sudah semakin membulat.


Chen meremas pelan telapak tangan halus milik wanitanya itu. Dokter mengatakan bahwa wanita hamil ini terlalu stres dan kelelahan dalam segi mental.


Wanita di depannya perlahan membuka mata, sedikit terbatuk pelan. Chen berdiri dengan sigap mendudukkan tubuh lemah itu.


"Annchi, nak. Bagaimana? Ada yang sakit?"


Annchi menatap wanita yang terlihat sedikit tua dihadapannya.


Mengelus pelan wajah pucat dihadapannya, wanita itu merasa sedih.


"Lapar? Apa kau ingin makan sesuatu?"


Annchi menggeleng lalu tersenyum. Tenggorokannya sedikit sakit.


"Aku akan keluar sebentar, jika memerlukan sesuatu minta Chen untuk menghubungi ku, oke?" Annchi mengangguk.


Chen menatap wanita dihadapannya, meneguk ludahnya kasar lalu berbicara.


"Maaf."


"Aku baik."


"Aku minta maaf--"


"Keluar."


Annchi tidak ingin berdebat sekarang. Dia mulai merindukan kehidupan lamanya. Menjadi seorang pelajar SMA sepertinya terasa lebih mudah. Dia kembali merindukan ibu dan ayahnya. Sial bahkan sekarang Annchi mulai merindukan sahabat masa kecilnya.


Annchi kembali merebahkan tubuhnya, ia lelah, sangat lelah.


Kuharap semua ini hanya mimpi, setelah aku terbangun aku kembali pada kehidupan normal ku.


Annchi berdoa dalam hatinya. Matanya perlahan lahan tertutup.


Chen menghela nafas pelan, ini salahnya. Ia sadar itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai Hai Hai


Happy reading 💗