Rebirth As A Pregnant Woman

Rebirth As A Pregnant Woman
Chapter 22



Hari berlalu dengan keadaan yang masih sama.


Dalam perjalanan ke perusahaan, Chen secara tidak sengaja melihat keluar mobil dan melihat seorang anak sedang duduk dengan permen ditangannya.


Dia pikir mungkin berhalusinasi, jadi dengan sengaja memarkirkan mobilnya disisi jalan dengan hati-hati. Melihat keluar jendela mobil. Apakah itu benar putrinya?


Jika ia tidak salah ingat pastilah itu putrinya. Selama ini ia selalu mengawasi Annchi dan Xia dengan membayar seseorang. Semua itu bermula ketika sang ibu menunjukkan foto seorang anak kecil dan wanita yang mirip dengan anak itu sedang tertawa.


Chen mengeluarkan ponselnya, melihat foto yang selama ini ia dapat dari orang suruhannya. Benar itu Xia, putrinya.


Chen turun dari mobil, berjalan menghampiri Xia yang sedang duduk dengan kaki yang terayun pelan. Dia berjongkok dan menempatkan dirinya pada posisi yang sama dengan Xia.


"Xia?"


Chen melihat mata bulat kecil itu mengerjap pelan menatap bingung kearahnya.


"Paman siapa?"


Paman? Anaknya memanggilnya paman.


Chen dengan lembut menyentuh kepala Xia. Pada akhirnya Xia pun tidak mengenalinya sebagai Ayah.


"Aku teman ibumu. Sedang apa kau disini?"


"Teman ibu? Ibu punya teman?"


"Ya tentu." Chen tersenyum menatap Xia yang lucu dengan pipi tembamnya yang memerah.


"Siapa nama ibuku?"


Chen menatap bingung kearah sang anak. Apa anak ini tidak percaya bahwa dia ayahnya.


"Annchi. Benar bukan?" Xia mengangguk lucu.


"Jadi sedang apa kau disini sendiri anak manis?"


"Aku sedang menunggu jiě jiě."


"jiě jiě?" Xia kembali mengangguk dengan lucu.


'Apa Annchi sudah menikah lagi? Tapi kami belum bercerai.'


Chen menatap jalanan yang ramai oleh kendaraan yang lalu lalang.


"Kau punya kakak?" Xia kembali mengangguk.


"Banyak. Sangat banyak." Ujarnya.


"Papa?"


Chen mengangguk.


"Xia tidak punya papa. jiě jiě Ling juga tidak punya."


"jiě jiě Ling?"


"Iya, jiě jiě Ling hanya tinggal bersama nenek dan bibi. Seperti aku dan ibu."


Chen menatap sedih putrinya. Seharunya Xia mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuanya. Tapi karena keegoisannya semua itu menjadi berbanding terbalik sekarang.


"Ingin paman temani?"


Xia menggeleng.


"Kenapa?"


"Ibu bilang kita tidak boleh berbicara dengan orang asing."


Tapi aku ayahmu.


"Tapi aku teman ibumu. Jadi bukan orang asing."


"Begitu? Emmm baiklah, paman boleh duduk disini."


Chen mengusap pelan kepala Xia, Annchi telah berhasil merawat putrinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ada yang tanya kenapa Annchi gak pergi kerumahnya aja, kan dalam dirinya itu ada jiwa lain, yaitu Bao Yu.


Saya mau jelasin dikit nih, novel ini ambil setting tempatnya itu dunia paralel. Jadi ada dua tempat nih, entah siapa yang tinggal di dunia paralel bisa jadi Annchi bisa jadi Bao Yu.


Jadi walaupun mereka hidup di dunia yang sama, mereka tuh gak akan ketemu.


Inspirasi saya nulis novel itu tuh dari ceritanya Tere Liye yang serial Bumi. Ada yang udah baca?


Sebelum baca novel Tere Liye, saya selalu beranggapan bahwa entah di bagian bumi mana ada kehidupan lain selain di tempat kita ini yang gak akan terjangkau sama kita. Setelah baca novelnya Tere Liye, wah kok sama gitu sama angan-angan saya selama ini. Jadi ngide deh bikin cerita ini.


Jadi ada satu portal yang menghubungkan antara dunia Annchi dan Bao Yu. Nah portal ini kebuka sesaat setelah Bao Yu kecelakaan dan Annchi yang mencoba bunuh diri.


Nah pas gak sadar ini jiwa mereka itu saling bertukar. Bao Yu yang menempati tubuh Annchi gak inget tuh tentang kenangan masa lalu Annchi tapi perlahan-lahan potongan-potongan ingatannya itu kembali. Begitupun sebaliknya.