Rebirth As A Pregnant Woman

Rebirth As A Pregnant Woman
Chapter 21



"Bu, kau harus sembuh."


"Chen, ayahmu dengan wanita itu. Aku tidak ingin hidup lagi."


"Bu, tolong jangan seperti ini. Kau akan sembuh, aku akan membalasnya untukmu."


Chen terbangun dari tidurnya. Lagi, lagi dan lagi. Masih mimpi yang sama.


Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi, Chen segera bersiap untuk pergi bekerja. Hari ini jadwalnya akan padat ada beberapa kunjungan yang harus ia lakukan.


Chen mengecup kening Juan yang sedang tertidur, keduanya telah menikah dan Chen baru mengetahui bahwa Juan menderita kanker.


Bagaimana bisa wanita ini menyembunyikan penyakit seserius ini darinya, atau mungkin memang ia yang tidak mencoba untuk mengetahuinya.


Chen kembali termenung. Seharusnya dendam itu tidak pernah ada.


....


Setelah seharian bekerja, Annchi kembali kerumah dengan wajah lelah. Saat pintu terbuka wajah mungil yang cantik menyambutnya dengan gembira.


Zhang Xia. Balita dengan badannya yang seperti bakpao itu berjalan dengan terhuyung menuju Annchi.


Sebuah keluarga duduk bersama dengan bahagia. Annchi, nenek He, ibu Han tertawa kala melihat tingkah menggemaskan batita itu. Tak ketinggalan si centil Ling yang selalu terlihat antusias dalam perkembangan tumbuh kembang Xia.


Mulut kecil Xia terus berceloteh, dimasing-masing tangannya menggenggam sebuah makanan. Makan malam yang hangat.


Annchi duduk dihalaman, memakan makanan ringan dan menonton anak-anak yang sedang bermain, sangat ramai dan harmonis.


Dimana sikecil Xia? Tentu saja balita itu aktif bergerak kesana kemari.


Dikejauhan sebuah mobil hitam memantau, mengambil beberapa gambar dan video untuk dikirimkan pada seseorang.


'Awasi terus mereka, jangan sampai ada yang menganggunya.'


....


Suara halilintar memekakan telinga, Chen yang tertidur diruang kerjanya terbangun dengan nafas yang tak beraturan.


Dia bermimpi bahwa Annchi bersembunyi dan menangis sepanjang waktu. Chen ingin mendekatinya tapi Annchi menghentikannya dengan suara tangisannya yang semakin pilu, ia berkata "Keluargamu menggertak ku dan merundungku disetiap kesempatan. Aku tidak menyukaimu lagi, aku membencimu."


Chen merasa getir saat mengingat mimpinya. Menyentuh dahinya, dia berkeringat dingin.


Nyonya Li Mei membuka pintu ruang kerja milik Chen. Ia mendapati putranya sedang duduk termenung menatap bulir air yang jatuh membasahi bumi, yang sebagaian kecilnya membuat bintik-bintik diluar kaca ruang kerja itu.


"Nak."


"Kau belum tidur?" Nyonya Li duduk disebelah putranya.


"Aku terbangun. Ibu kenapa belum tidur, ini sudah malam tidak baik untuk kesehatan mu."


"Maafkan ibu Chen." Chen menatap bingung nyonya Li.


Nyonya Li menyerahkan ponselnya, Chen tercengang.


"Bu?"


"Tidak seharusnya ibu membuatmu terlarut dalam dendam ibu. Ayahmu tidak bersalah begitupun dengan keluarga Annchi. Disini ibu yang egois. Maafkan ibu."


"Bu." Chen merengkuh tubuh lemah ibunya kedalam dekapannya. Tubuh wanita baya itu bergetar.


"Bu."


"Maafkan ibu Chen."


Chen menggeleng.


"Bu, ini bukan salahmu. Aku akan memperbaiki semuanya."


....


"Paaa."


Annchi menatap Xia yang berbicara dalam tidurnya.


Apakah ia egois karena menjauhkan anak dan ayahnya? Tapi ini adalah keputusan terbaik yang ia harus ambil.


Tidak ada yang mendukungnya, tidak ada.


...****************...


Masih ada yang bingung gak sama alur ceritanya?


Udah ada yang bisa nebak kenapa Chen bisa nikah sama Annchi sedangkan dia gak suka bahkan sempat ada di tahap benci ke Annchi?


Hayo apa yang ditunjukin nyonya Li ke Chen?


bye bye happy reading 💗