Rebirth As A Pregnant Woman

Rebirth As A Pregnant Woman
Chapter 28



Setelah sarapan, Chen membawa Xia pergi ke rumah besar milik nenek dan kakeknya di kota. Gadis kecil itu dengan antusias melangkahkan kakinya memasuki rumah besar yang ia sebut sebagai istana.


Ketika Chen muncul bersama Xia, itu menarik seluruh perhatian anggota keluarga Zhang.


"Papa."


Begitu Chen melepaskan tangannya, Xia segera membungkuk dan memberi salam. Seluruh keluarga mengeratkan giginya menahan gemas.


Chen berjongkok dan membawa Xia kedalam gendongannya, membawanya memasuki ruang tamu besar yang sedang ramai oleh keluarganya. Mengenalkannya padanya.


Xia adalah anak yang sangat protektif terhadap papa nya. Begitu dia tidak melihat Chen, dia akan bertanya kepada siapa saja. Chen mengangkat sudut bibirnya dengan bangga.


Seharian setelah berada di kota besar dengan rumah besar, Chen kembali membawa Xia pulang kembali ke desa.


Chen memandang Xia yang bersemangat sepanjang jalan, bercerita bagaimana kakek dan nenek memberinya banyak hadiah. Tak lupa saudara perempuan Chen pun turut terserat dalam celotehan mulut gadis kecil itu.


Dimobil terdapat banyak makanan dan mainan yang Xia dapatkan dari keluarga papa nya, tetapi hal itu hanya bagian kecil yang menurutnya membahagiakan. Karena bagian besarnya adalah ia dapat bertemu dengan mama dan papa, ayahnya. Kakek nenek. Akhirnya ia punya.


..............


"Sampai jumpa nanti bibi Han." Xia melambaikan tangannya sebelum memasuki mobil sang ayah.


Karena bibi Han harus pergi ke ladang sedangkan Annchi sedang bekerja, Chen harus membawa Xia kembali ke rumah Zhang.


Chen telah memberi kabar pada Annchi sebelumnya, dia tidak punya pendapat. Selama Xia sendiri menyukainya.


Ketika Xia turun dari mobil, dia melihat kakek dan neneknya sudah berdiri di depan pintu besar rumah itu. Xia segera berlari dan memberikan pelukan untuk keduanya.


Dibawah bimbingan kakeknya dengan sangat sopan, Xia menyapa seluruh penghuni rumah besar milik keluarga Zhang.


Kasih sayang tak terkendali dari keluarga Zhang kepada Xia membuat gadis kecil itu dapat dengan mudah beradaptasi.


Annchi melihat jam di ponselnya, sudah hampir sore. Melihat wallpaper yang dipasang di ponselnya Annchi tersenyum, setidaknya ini sedikit mengobati rasa lelahnya.


Hidupnya benar-benar menyedihkan dan menyakitkan. Saat kehidupan sedang berada di titik tertinggi, Tuhan mengambil ayahnya. Kemudian ibunya ditunjuk sebagai pihak ketiga. Saat ia jatuh cinta, cinta itulah yang membuatnya terluka. Dia tidak punya pilihan selain menerimanya. Dicaci bahkan dibenci, itu sudah menjadi makanan sehari-harinya semenjak menjadi bagian dari keluarga Zhang.


Annchi menghela nafas pelan, ia turut prihatin pada dirinya dan pada pemilik tubuh yang asli.


Annchi terkesiap, ia seperti mendengar seseorang memanggilnya. Dia pikir itu adalah halusinasinya sendiri. Tapi, suara ini sangat familiar.


🥀🥀🥀


Diwei mengusap pelan foto yang ia ambil ketika masih berada di kelas X. Foto itu bersama Bao Yu.


"Aku merindukanmu, entah mengapa. Aku merasa jauh, aku merasa dirimu yang sekarang bukanlah kamu."


Pada saat itu ia menutup matanya, waktu yang ia habiskan bersama Bao Yu selama ini mencul kembali di depan matanya sedikit demi sedikit. Bao Yu yang dikenalnya dulu jauh berbeda dengan Bao Yu yang dikenalnya sekarang. Entah itu hanya perasaannya atau mungkin ada sesuatu yang tidak ia ketahui.


"Bao Yu, aku merindukanmu."


🥀🥀🥀


Annchi memegang dadanya, terasa sedikit nyeri. Ada apa ini? Kenapa ia merasa seolah-olah kehilangan? Seluruh jantungnya seolah-olah terkoyak, dan rasa sakitnya sedemikian rupa. Annchi merasa ada sesuatu yang kosong, tapi apa?


Suara pelanggan menyadarkan Annchi dari lamunannya, ia perlu istirahat. Setelah pukul lima ia akan segera pulang dan membersihkan diri.


..............


Annchi duduk dengan tenang diruang tamu besar keluarga Zhang. Dia menggenggam tangannya dengan erat. Tangannya sedikit dingin, tidak setenang yang terlihat.


"Sebenarnya aku kemari ingin menanyakan keberadaan Chen. Xia mencarinya, gadis kecilku tidak menghabiskan makanannya karena memikirkan putramu."


Annchi duduk berhadapan dengan nyonya Zhang. Ia harus terlihat biasa saja, ya harus.


"Dimana cucuku?"


"Xia sedang bersekolah."


Nyonya Zhang menghela nafasnya berat.


"Chen sakit."


Annchi tertegun. Sakit? Sipenggila kerja itu sakit? Annchi berusaha mengontrol raut wajahnya.


Annchi dibawa masuk menuju kamar Chen dirumah utama, besar dan luas. Ia melihat seorang pria, yang pasti adalah Chen sedang berbaring ditempat tidur dengan infus yang menempel pada tangannya.


"Dia terlalu bekerja keras."


Annchi menatap miris pria tampan dihadapannya, kurus. Bahkan cekungan di bagian pipi mulai terlihat. Sebenarnya pria ini sakit apa?


"Dia kelelahan. Karena demamnya di kehilangan banyak berat badan, dia terlalu banyak bekerja akhir-akhir ini. Dia tidak memberi sedikitpun waktu pada tubuhnya untuk beristirahat."


Annchi pulang dengan membawa kabar buruk untuk sang putri. Papa kesayangan milik Xia ternyata sedang sakit.


Apa yang harus ia katakan, bayi kecilnya selalu bertanya.


Papa dimana?


Kenapa papa tidak berkunjung?


Apa papa tidak sayang Xia lagi?


Xia ingin papa.


Membuka pintu rumah, Annchi disambut oleh gadis kecilnya. Xia sedang menonton televisi bersama dengan Ling.


"Bu... Bibi." Xia dan Ling.


"Bu dimana papa?"


Annchi gelagapan, ia belum menyiapkan jawaban yang pas. Jawaban yang sekiranya tidak akan menyakiti perasaan sang putri.


"Xia kemari, bibi pasti lelah. Biarkan bibi istirahat terlebih dahulu."


Xia menurut, setelah mencium kedua pipi Annchi gadis kecil itu segera kembali menonton televisi. Annchi tersenyum bangga menatap Ling, gadis kecil itu mampu bersikap lebih dewasa dari usianya.


//Usia bukan patokan kedewasaan seseorang//


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Happy reading 💗