
Setelah pelatihan selama sebulan bersama bibi Han, keahlian Chen secara bertahap semakin meningkat, dia sekarang sudah bisa menggoreng beberapa makanan dan membuat sebuah hidangan yang berbumbu.
//Maksud berbumbu itu pake rempah yaa//
Dia dengan terampil membuat segala jenis hidangan untuk dirinya, Annchi dan sang putri. Dia sibuk dengan aktivitas barunya.
..............
Menginjak pasir pantai dengan kakinya, Annchi berjalan maju selangkah demi selangkah. Dibawah pemandangan yang begitu indah, tiba-tiba sepasang tangan melingkari pinggangnya.
Annchi tersenyum hangat, mengelus pelan lengan kekar yang memeluknya. Seseorang akhirnya bersedia mencintainya, mengerti dan merasa bersalah tentang masa lalu yang diperbuatnya, meluluhkannya dengan kelembutan.
"Dimana Xia?"
"Yizhen sedang menemaninya bermain ayunan di halaman."
"Keduanya sangat dekat, terkadang aku merasa takut."
"Tak apa, Yizhen tidak seburuk itu. Dia baik, meskipun sedikit aneh melihat perubahan sikapnya, tapi aku melihat ketulusan dari matanya."
"Aku percaya padanya."
Annchi memejamkan matanya, menikmati senja yang jatuh menimpa wajahnya. Kepalanya bersandar pada dada bidang milik Chen.
Indah bukan? Sudah lama dia mendambakan hal-hal romantis seperti ini, tapi kehidupan rumah tangga sebelumnya tidak mendukung.
Kini Annchi telah mendapatkan semuanya, cintanya, keluarga, dan harta yang berlimpah. Chen memanjakannya dengan segala kemewahan yang ia miliki.
..............
Semua hidangan malam ini adalah makanan kesukaan Annchi dan Xia. Setelah sekian lama akhirnya dia dapat merasakan bagaimana bisa bermanja bersama keluarga.
"Aku membuat ini khusu untukmu. Kamu bisa memakannya selagi hangat."
Nada bicara yang datar namun terdapat ketulusan di dalamnya, Annchi tersenyum menatap adik iparnya, Yizhen.
Chen seperti dilupakan oleh semua orang, dia mencoba yang terbaik untuk membuat kehadirannya terasa.
"Ayah, ibu, apa kalian lupa kalau kalian masih punya anak kandung disini?"
"Kalau kamu tidak ingin makan, pergilah."
Nyonya Zhang benar-benar mengalihkan seluruh kasih sayangnya pada cucu dan menantunya.
Xia menjadi bayi kesayangan semua penghuni rumah besar itu, Chen semakin merasa bahwa posisinya terancam. Ya, dia tidak boleh sering-sering membawa putrinya menginap dirumah utama.
🥀🥀🥀
Di sore hari, matahari bersinar terang membuat udara di bumi sedikit lebih hangat.
Bao Yu bangun, dia masih merasa pusing dikepalanya. Sejak pagi mual terus menderanya.
Dokter mengatakan bahwa usia kehamilan masih sangat muda, dan banyak hal yang harus diperhatikan.
Bao Yu tidur sepanjang hari, dia kehilangan nafsu makan untuk semua makanan yang di hidangkan oleh Diwei. Dia hanya duduk dan bersandar pada lengan pria itu.
"Makan bubur ini, kau akan merasa jauh lebih baik."
Setelah menghabiskan semangkuk bubur, Bao Yu merasa lebih nyaman diperutnya.
Diwei tersenyum bahagia menatap Bao Yu yang kembali memejamkan matanya. Ibu hamil terlalu banyak tidur. Ya, itu sedikit hal yang dia tahu.
"Tumbuh sehat, jangan menyusahkan mama oke."
Diwei membawa Bao Yu kembali kedalam kamar, menaruh dengan perlahan tubuh lemah sang istri ke tempat tidur lalu menyelimutinya dengan lembut.
Diwei menundukkan wajahnya, memberikan sebuah kecupan ringan dibeberapa bagian wajah Bao Yu.
"Akhirnya kamu kembali, akhirnya aku kembali mengenalmu. Terimakasih, terimakasih sudah kembali. Aku mencintaimu."
Diwei tersenyum melihat wajah istrinya yang sedang tertidur, ini adalah tahun pertama pernikahan. Keduanya begitu dekat dan terikat.
Sekarang Bao Yu tengah mengandung buah cinta keduanya, Diwei sangat bahagia. Cintanya selama tiga tahun tidak sia-sia.
Diwei, bahagia. Dan dia mencintai Bao Yu, hanya Bao Yu.
🥀🥀🥀
Annchi tengah sibuk di dapur rumah miliknya, sedangkan Chen tengah sibuk memandikan Xia.
Saat berbalik Annchi mendapati Chen yang sedang menggendong Xia dengan stelan formalnya.
Tampan, terlalu tampan. Annchi terpaku. Wajah Annchi menjadi sedikit gugup, tetapi Chen tidak menyadarinya sama sekali.
Annchi kembali pada dunianya, dia segera menghampiri gadis kecilnya seraya tersenyum. Lucu sekali, pipinya yang besar dan bulat dengan hidung mancung dan mata yang seperti biji kelengkeng menjadi lebih mengesankan dengan model rambut kepang dua.
"Kemari beri ibu ciuman."
Xia berlari kecil menyabut Annchi, memberi sebuah kecupan ringan di pipi.
Bocah itu terlihat riang karena malam nanti seluruh kekuarga akan mengadakan pesta untuk ulang tahun dirinya.
..............
Keluarga Zhang akan mengadakan pesta besar untuk merayakan ulang tahun Xia yang keenam tahun. Mereka telah menyebar undangan dan memberitahu seluruh keluarga besar untuk datang.
Seluruh tamu memenuhi area hotel besar yang memang merupakan salah satu properti milik keluarga Zhang, banyak diantaranya yang terkejut lantaran baru mengetahui bahwa anak tertua keluarga Zhang telah menikah, bahkan sudah mempunyai seorang putri.
Alasan mengapa pesta ini di gelar dengan sangat meriah dan mewah adalah agar semua orang tahu bahwa Xia adalah cucu tertua dari keluarga Zhang, hal ini dimaksudkan agar dimasa depan Xia tidak akan menghadapi gangguan lagi.
Sebenarnya tanpa memperkenalkan secara pribadi pun semua orang jika melihat Xia, mereka pasti tahu bahwa gadis kecil ini adalah benih milik Chen.
Malam ini gadis itu akan tidur dengan tumpukan hadiah-hadiah besar miliknya.
Seluruh hati yang datang meleleh melihat penampilan bayi yang lucu ini, gadis kecil ini aktif bergerak dan menyapa siapapun yang dilihatnya.
Tepat tengah malam seluruh tamu sudah seluruhnya pulang, ada beberapa keluarga yang bermalam di hotel.
Chen, Annchi dan Xia sudah siap dengan baju tidur couplenya. Ketiganya menggunakan piyama dengan gambar lucu sesuai keinginan sang tuan putri yang sedang berulang tahun hari ini.
Annchi terus terkekeh, Chen terlihat lucu dengan piyama pink nya. Chen memandang Annchi dengan tatapan tidak bersahabat, sedangkan di pembuat ulah telah tidur sejak beberapa menit lalu.
"Berhenti tertawa atau aku akan menciummu."
"Kau terlihat lucu." Annchi masih terkekeh.
"Kau."
Chen segera beranjak, membuat posisi Annchi terhimpit antara dirinya dan Xia. Pria itu memeluk pinggang Annchi dengan posesif.
"Berhenti tertawa sekarang."
"Baiklah-baiklah." Annchi menutup matanya sekilas, menggoyangkan kepalanya. Lalu tersenyum menatap Chen. Kini posisi Chen tepat berada diatas tubuh Annchi.
"Cantik."
Chen membelai surai rambut panjang milik Annchi, mendaratkan sebuah kecupan di kening.
"Aku mencintaimu."
Annchi memejamkan matanya. Akhirnya, dia mendapatkan cintanya. Chen mencium pelan namun dalam bibir Annchi, keduanya terhanyut dalam keheningan malam yang hangat.
"Papa aku ingin meimei."
Chen dan Annchi mengakhiri ciumannya, melihat Xia yang masih memejamkan mata dengan damai. Gadis itu mengigau. Lucu sekali.
Keduanya terkekeh, Chen turun dari tubuh Annchi, memposisikan dirinya untuk berada dibelakang tubuh wanita itu.
"Tidurlah, sudah larut. Aku mencintaimu, selamat malam."
Annchi tersenyum, dalam mimpinya dia bertemu dengan seorang gadis berseragam pakaian sekolah menengah atas.
Gadis itu tersenyum padanya, disampingnya ada seorang pria yang terasa tidak asing baginya. Sepertinya dia pernah bertemu dengan pria itu, tapi siapa?
Sebelum ia dapat berkomunikasi dengan keduanya, suara yang sangat tidak asing terdengar di telinganya. Annchi membuka matanya, Xia tengah tersenyum dengan menampakkan deretan gigi susunya.
"Bu, aku ingin meimei."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai
Finally, setelah ini saya gak jamin bakal ada bab khusus lainnya, rehat bentar dan mungkin saya bakal balik sama karya baru lagi. So, don't go anywhere. Semoga dapat ide baru, buat novel baru lainnya.
Ehh btw buat yang selanjutnya //kalo ada ide// mending pake karakter dari Asia Timur aja, atau nyoba dari Indonesia? Jujur kalau bikin novel dengan latar belakang masyarakat Indonesia itu gak tahu kenapa kaya susah gitu.
Author amatir༎ຶ‿༎ຶ
Dari lama banget pengen bikin duda series, tapi pengen pake karakter Indonesia, dan itu susah. Kaya setiap cerita yang saya tulis dengan latar belakang kehidupan di Indonesia always stuck di beberapa chapter aja. Kadang gak sampe tuh 5 chapter juga...
Gimana nanti deh, kalau emang ada ide buat nulis, saya bakal coba pakai dua karakter, dari Indonesia dan dari luar Indonesia. Bakal saya lihat kira-kira yang mana yang lebih appropriate sama tema dari novelnya.
bye bye 👋🏻
Happy reading 💗