Rebirth As A Pregnant Woman

Rebirth As A Pregnant Woman
Chapter 19



Annchi menatap bangunan rumah kecil dihadapannya, ini adalah rumah peninggalan dari sang ibu.


Sebelum ia dan ibunya tinggal di apartemen, keduanya lebih dulu menempati tempat ini. Masih sama mungkin hanya ada beberapa yang rapuh termakan waktu.


Annchi membuka pintu rumah, sedikit berderit. Tapi tak apa, rumah ini masih dijamin kokoh.


Bangunan yang terbuat dari kayu ini masih terlihat cantik, hanya dengan menyingkirkan beberapa debu yang menempel ia akan mendapatkan rumah seperti pondok penginapan.


Pedesaan ini masih sama dan belum berubah, masyarakat yang ramah membuat Annchi lebih merasa nyaman.


Annchi melangkah lebih dalam membuka kamar yang dulu ia gunakan bersama sang ibu. Kenangan kebahagiaan masa kecilnya tersirat jelas dalam bayangan.


Kehidupannya akan baik-baik saja jika ia dan sang ibu tidak pindah ke kota. Di sana lah awal semua kekacauan ini terjadi.


Annchi mengelus perutnya pelan. Ini adalah keputusan terbaik baginya dan bagi semua orang.


"Maaf, mungkin kau tidak akan mengenal ayahmu."


.....


"Kau tahu dimana keberadaannya?"


"Maaf tuan muda, nyonya muda tidak membawa apapun yang dapat kami akses. Nyonya meninggalkan rumah tanpa membawa ATM ataupun ponselnya dan itu sedikit membuat kami kesulitan."


"Baiklah, kau bisa kembali."


Chen menghela nafas berat, sudah seminggu dan Annchi masih belum kembali. Wanita itu meninggalkannya, tanpa jejak.


Chen kecewa, bagaimana bisa Annchi meninggalkannya dalam keadaannya yang sedang hamil besar. Apakah ia tidak tahu bahaya diluar sana?


Chen marah, ia kesal, kecewa terhadap Annchi dan terhadap dirinya.


.....


"Bibi Annchi lihat ibu membuat sup ini untuk mu."


Annchi menoleh melihat seorang anak kecil perempuan yang membawa rantang makanan.


Annchi menyimpan pakaian yang akan di jemurnya kembali ke dalam ember. Berjalan perlahan menghampiri bocah imut itu.


"Benarkah? Terimakasih."


"Sama-sama bibi. Ibu bilang kau harus memakannya saat masih hangat itu bagus itu kesehatan bayi."


Annchi tersenyum senang menatap bocah


"Duduk dulu, ada beberapa pakaian yang belum di jemur. Setelah ini selesai kita makan oke."


"Oke bibi."


Annchi masuk kedalam rumah setelah selesai dengan jemurannya. Ia melihat Lin yang sedang menonton TV.


"Wahh bibi membuat ayam goreng."


Lin duduk dengan semangat saat Annchi menyiapkan makan siang keduanya.


"Ayo makan."


"Selamat makan."


Annchi tersenyum. Kenapa bocah ini begitu lucu.


🌻🌻🌻


"Bawa ini pulang, salam untuk bibi Han. Dan terimakasih untuk sup nya."


"Iya bibi, terimakasih untuk kue nya. Daaa dahhh."


Annchi melambaikan tangannya, melihat Lin yang berjalan dengan kepala yang bergoyang pelan.


Ia masuk kembali kedalam, lalu keluar dengan membawa beberapa bingkisan yang berisi kue. Ia sudah berniat akan membagikan semua kue ini untuk tetangga sekitar rumahnya.


Karena memang di desa ini hanya ada beberapa kepala keluarga.


Bulan menyapa, menggantikan siang yang cerah dengan malam yang gelap. Di atas langit ada beberapa bintang, udara sedikit lebih dingin karena hujan turun sejak senja kembali ke peraduannya.


Annchi mengeratkan selimutnya, ia merindukan pelukan itu. Ia merindukan sentuhan yang menenangkan pada perutnya.


Semua tentangnya, Annchi merindukan segalanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Masih ada yang baca?


Telat yang keterlaluan, tapi gpp alhamdulilah ini bisa nulis lagi. Sebenernya pengen nulis udah dari beberapa hari lalu tapi ternyata tugas yang udah dibikin hampir dua Minggu ditolak sama guru dan ya harus bikin dari awal, jadi gada waktu buat nulis. Maaf ya.


Happy reading 💗


bye bye 👋🏻