
Setelah mandi air hangat dan menikmati makanan lezat yang mewah, Annchi duduk di tempat tidur dengan perasaan bosan.
Asisten rumah tangga bertambah lebih banyak, dan itu membuatnya sulit untuk melakukan segala sesuatu.
Chen semakin menjadi terikat padanya, Annchi senang dengan perubahan perilaku Chen yang semakin memperhatikannya, namun hal itu juga membuatnya takut.
Ia takut lebih terikat dengan Cao Chen.
....
Angin pagi berhembus pelan, menggoyangkan dahan pohon dengan irama yang seirama. Menjatuhkan beberapa daun keatas rumput.
Chen menatap pergerakan kecil dari wanita hamil di hadapannya.
"Ada apa?"
Keduanya sedang berjalan-jalan disekitar taman. Taman utama rumah besar itu dipenuhi dengan berbagai tanaman bunga dan beberapa buah.
Annchi merindukan identitas aslinya. Dirinya yang asli, pelajar SMA. Bukan wanita bersuami dan sedang mengandung.
Annchi tidak tahu apa yang harus ia lakukan, perasaannya tidak dapat terkontrol.
Annchi merasakan tangan besar melingkari bagian perutnya, mengelus pelan. Chen meletakan bagian dagunya pada pundak Annchi. Nafas hangat pria itu menyentuh bagian lehernya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Annchi menggeleng pelan. Ia juga tidak tahu, ingatan lama dari pemilik tubuh asli semakin membayanginya.
Dan semua ingatan itu bertentangan dengan dirinya. Apa yang harus ia lakukan. Annchi takut. Takut tidak dapat kembali pada kehidupannya, takut tidak dapat kembali pada cintanya.
Bunga kecil memenuhi segala tempat, bergoyang pelan tertiup angin. Ada beberapa pohon buah, dan beberapa merupakan tanaman hias.
Chen menutup matanya menikmati semilir angin yang meniup wajahnya, membuat helaian rambutnya tersingkap. Tangannya masih bergerak mengelus pelan perut besar Annchi.
"Aku ingin pulang."
"Kau sudah dirumah."
Annchi menghela nafasnya pelan. Dia sudah mencoba menerima semuanya. Tapi itu semua tidak berjalan dengan mudah seperti bayangannya.
"Sebaiknya kita kembali kedalam, ayo."
....
Dia kehabisan nafas. Ketika dia membuka mulutnya, air dingin mengalir menyumbat aliran pernafasannya.
Dia berontak, mencoba menutup mulut, memukul dengan sekuat tenaga air besar yang menerpa tubuhnya. Tidak ada yang bisa dia capai.
Tubuhnya tenggelam.
"Aku ingin dicintai."
Airmata keluar, Annchi membuka matanya. Dia bahkan tidak dapat bernafas dengan benar saat ini. Mimpi itu, lagi dan lagi.
Annchi mengangkat tubuhnya terengah-engah.
"Nyonya."
"Ling."
"Nyonya, sepertinya kau bermimpi buruk."
Annchi merasakan elusan pelan dibelakang punggungnya.
"Aku mimpi buruk."
"Ya, itu hanya mimpi. Sekarang baik-baik saja."
Annchi meminum secangkir teh hangat yang dibawakan oleh Ling Zhi, pelayan baru yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
"Aku baik-baik saja sekarang, terimakasih."
"Tidak perlu sungkan nyonya."
Annchi menatap sekeliling tempatnya, ini bukan kamar tidur. Dia sedang membaca buku di perpustakaan rumah dan tanpa sengaja tertidur.
Hari sudah sore, senja sudah terlihat. Indah menawan seperti biasa.
"Aku baik-baik saja, kau bisa kembali bekerja."
Dalam keheningan setelah Ling Zhi pergi, Annchi mengerjap menatap langit dari balik jendela besar yang tinggi.
Dia ingat kali pertama mimpi itu hadir dalam tidurnya, dan itu sangat mengerikan.
'Aku ingin dicintai..'
Perasaan siapa itu?
Tiba-tiba ia merasa hatinya hancur. Kesedihan, kesendirian dan kecemburuan semua itu mengelilingi seluruh pikirannya seperti badai dan mulai menyakitinya.
Perasaannya hanya mendamba menginginkan cinta tidak perduli apa yang akan terjadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Happy reading 💗