Rebirth As A Pregnant Woman

Rebirth As A Pregnant Woman
Chapter 29



Keesokan harinya Annchi datang bersama Xia. Gadis kecil itu terus menangisi papa nya dan hal itu cukup membuat Chen terhibur. Chen duduk dengan bersandar pada kepala ranjang dengan Xia dalam dekapannya.


Tangan gadis kecil itu terus meraba pipi sang ayah yang ia rasa sedikit berbeda.


"Papa, cepat sembuh. Ayo main denganku."


Chen mengecup pucuk kepala putrinya sebagai jawaban.


"Apa sakit? Kenapa papa bisa sakit?"


"Karena papa manusia."


Xia mendongak perlahan lalu kembali menyandarkan kepalanya pada dada bidang milik Chen.


Setelah berlama-lama dikamar besar milik Chen, nyonya Li Mei membawanya turun ke lantai bawah. Xia meminum susu sambil memegang botolnya, dan mengobrol dengan bibinya.


Xia membuat Shuwan dan semua yang berada disana tertawa. Seperti seorang malaikat kecil, dirinya membawa tawa dalam kegundahan orang lain.


Yizhen adalah yang paling sulit di dekati, ia adalah orang yang bisa dibilang paling membenci Annchi selama ini. Ketika tiba-tiba kakaknya membawa gadis kecil kerumah itu dapat sedikit menggoyahkan dirinya.


Ketika Yizhen muncul di ruang tamu rumah besar itu, ia dengan segera disambut oleh suara kecil Xia yang keras memanggilnya.


"Bibi."


Yizhen mengesampingkan barang-barangnya, mengambil Xia dan menciumnya. Bakpao, pipinya yang bulat dan lembut disertai dengan wangi bayi membuat Yizhen tidak mau berhenti untuk terus mencium pipi bulat keponakannya itu.


..............


Selama penyembuhan Chen, Xia terus mendampinginya gadis kecil itu bahkan tak segan menegur Chen jika pria itu menolak makanan yang dibawakan untuknya.


Annchi masih bekerja, setiap setelah pulang sekolah akan ada yang datang untuk menjemput Xia dan pada sore hari akan ada yang mengantarnya kembali pulang.


Annchi berdiri di teras rumah menunggu Xia. Ia menatap pekarangan dihadapannya, bunga yang ia taman sudah tumbuh. Beberapa tamanam buah pun terlihat mulai tumbuh.


Annchi tersenyum melihat mobil hitam yang berhenti di depan rumahnya, seseorang turun dari dalam mobil dengan Xia dalam dekapannya.


Chen?


Annchi terpaku, ia melihat Chen yang berjalan kearahnya dengan Xia dalam gendongannya. Akhirnya pria itu sembuh.


"Biarkan aku masuk dulu, ku rasa dia semakin berat."


Annchi menyingkir dari depan pintu, walaupun sudah sembuh tapi pria itu masih perlu memilihkan staminanya kembali.


Chen membawa Xia ke kamar, meletakannya di tempat tidur dengan pelan dan menutupinya dengan selimut. Kemudian dia kembali keluar dan duduk diruang tamu.


Ketika Annchi kembali ke ruang tamu, ia melihat Chen yang sedang tidur. Kembali keluar ternyata mobil hitam yang sebelumnya digunakan untuk mengantar Chen dan Xia sudah tidak ada.


Annchi masuk kedalam kamar, mengambil selimut. Menyelimuti tubuh Chen dengan perlahan, Annchi bertanya dalam hati apakah pria ini merasa nyaman jika tidur seperti ini. Diluar langit sudah semakin gelap, sepertinya akan turun hujan nanti malam.


Lampu yang hangat, satu orang menonton orang lain yang sedang tidur. Annchi tersenyum, pria ini benar-benar tampan. Walaupun keadaannya tidak sama seperti sebelumnya tapi itu tidak menghilangkan kadar tampannya.


Hujan turun, udara akan semakin dingin. Rumah kecil miliknya tidak akan pernah bisa sehangat rumah besar keluarga Zhang. Annchi bimbang dalam hatinya, apa yang harus ia lakukan?


Tidak ada kursi, Chen tidur dengan beralaskan karpet bulu yang lembut. Annchi kembali ke kamar, membawa selimut lain yang lebih hangat. Setelah ia yakin bahwa Chen tidak akan merasa kedinginan, Annchi perlahan masuk ke kamar untuk istirahat.


"Selamat malam."


Pagi harinya, Saat Annchi keluar kamar ia melihat Chen yang masih bergulung di dalam selimut. Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Annchi pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.


Sampai Annchi selesai dengan masakannya pun Chen masih tertidur dengan nyaman. Annchi perlahan-lahan membangunkan Chen, menggoyangkan pelan lengan pria itu.


"Chen, bangun, sudah waktunya sarapan." Annchi memanggilnya dengan lembut.


Masih dengan berbaring Chen meregangkan badannya kuat-kuat, mulutnya mengeluarkan suara erungan yang samar. Wajah cantik Annchi tiba-tiba muncul di depannya matanya.


Chen terpaku menatap kepergian Annchi, ia lalu melantap selimut yang menyelimuti tubuhnya. Chen merasa malu dan menyembunyikan wajahnya ke dalam selimut. Pantas saja semalam terasa hangat.


//Salting dia guys//


..............


Sore yang lain di hari berikutnya, sedikit dingin karena gerimis mulai turun.


Rumput diluar basah, Annchi tidak membiarkan Xia keluar untuk bermain. Mainan milik Xia tersebar di seluruh bagian rumah. Gadis kecil itu mengeluarkan semua mainan miliknya yang ia dapat dari bibinya.


Chen sangat menikmati kehidupannya ini. Adegan yang dia impikan sejak lama semuanya menjadi kenyataan hari ini.


"Ingin pergi?"


Chen menghentikan langkah Annchi yang hendak menuju keluar rumah.


"Aku akan pergi ke pasar, bahan untuk masakan sudah habis."


"Biar aku antar."


"Tidak, tetap dirumah jaga Xia."


"Tapi,.. Baiklah."


Waktu sudah menunjukkan pukul enam ketika Annchi kembali, ia segera memakai celemeknya dan sibuk di dapur.


Chen terus melirik, dia ingin membantu tapi Annchi menolaknya. Meskipun dia bermain dengan anaknya di ruang tengah, matanya sesekali menyapu ke dapur.


Makan malam sudah terlewati, Chen membantu Xia untuk mandi. Setelah beberapa hari berlalu dengan keluarga Zhang, entah kenapa Annchi merasa bahwa gadis kecilnya itu semakin hari semakin manja.


Setelah ketiganya selesai mandi, mereka semua siap untuk beristirahat. Chen hendak keluar setelah memakaikan piyama lucu dengan motif beruang milik Xia, tetapi gadis kecil itu menahannya.


"Apa papa akan pulang?"


Chen mengangguk.


"Kenapa papa tidak tidur dengan kita?"


"Tidakkah menurutmu akan sempit jika tiga orang tidur di tempat yang sama?"


Gadis kecil itu mengangguk.


"Baiklah, papa harus pulang. Jangan nakal, tidur dengan tenang."


Xia kembali duduk kemudian mencium pipi sang ayah dan mengucapkan selamat malam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


allo


apa kabar?


Sengaja nih gak mau ngasih konflik yang berat-berat lagi, kalo ditambahin konflik nanti ceritanya ngalor ngidul malah jadi gak jelas ini aja udh gak jelas༎ຶ‿༎ຶ


Ohh iya prihal sakitnya Chen juga gak mau ngasih yang parah-parah, disini kan diceritain kalau dia tuh gila kerja ya ambil sakit yang pasti aja 'kelelahan'.


Karena saya juga pernah, dan itu ngefek ke badannya kontras banget. Bb turun banyak, gak bisa ngapa-ngapain, mau jalan aja lemesnya keterlaluan. Dan disaat-saat kaya gitu tuh badan jadi demam, ini yang bikin lebih parahnya,.


Sehat-sehat ya kalian, kesehatan itu mahal walaupun ada bpjs.


bye bye 👋🏻


Happy reading 💗