
Ternyata kebijakan dari aplikasi, kalau sekarang fitur like sama komen dari chapter 1-10 dihilangkan untuk kenyamanan pembaca.
Jadi saya putuskan mau ambil sudut pandang Annchi. Walapun jiwanya Bao Yu tapikan raganya milik Annchi, jadi mungkin lebih enak kalau pake Annchi aja.
Makasih buat yang masih baca🌹
Happy reading
......................
"Chen, sudah malam. Apa tidak sebaiknya kamu kembali?"
"Kamu mengusirku?"
"Tidak, hanya saja aku khawatir dengan kondisi Annchi. Dia sedang mengandung, walaupun dirumah ada asisten, lebih baik kau yang mendampinginya."
"Jangan pikirkan tentang wanita itu, aku tetap ingin disini. Bersamamu."
Xiu Juan menghela nafas panjang. Ia melihat keluar jendela rumahnya, hujan. Sangat lebat.
"Chen~."
"Diam dan tidurlah, sudah malam. Selamat malam sayang. Aku mencintaimu."
Xiu Juan mengalah, keras kepala sudah menjadi tabiat dari seorang Cao Chen. Wanita itu hanya mengkhawatirkan kondisi wanita hamil itu. Walaupun jika dilihat dari pandangan mata orang lain, Annchi adalah wanita yang merebut kekasihnya. Tapi tetap saja, ia juga seorang wanita.
Lampu padam, Annchi menatap keluar jendela yang tertutupi oleh kain transparan dengan perasaan takut. Guntur menggetarkan hati, disusul sambaran kilat yang menakutkan.
"Bu aku ingin pulang."
Setetes air bening menetes membasahi bantal yang Annchi gunakan. Dikehidupan sebelumnya, walaupun hidupnya jauh dari kata mewah ia selalu merasa terlindungi.
Ibu dan Ayahnya akan selalu ada saat ia merasa ketakutan. Akan ada tangan hangat yang memeluk dan menyalurkan perasaan nyaman untuknya.
Annchi beranjak dengan rasa takut yang menerpanya ia mencoba memberanikan diri berjalan keluar dari kamar.
Tok Tok Tok
Bibi Wen membuka kan pintu.
"Nyonya? Ada apa? Kau membutuhkan sesuatu?"
"Bibi bisakah aku tidur di kamarmu?"
"Nyonya?"
"Lampu mati, dan aku takut gelap."
"Masuklah nyonya. Mungkin sedikit tidak nyaman."
Annchi masuk kedalam kamar bibi Wen. Untuk ukuran kamar asisten rumah tangga, kamar milik bibi Wen tergolong cukup luas.
"Saya akan tidur dibawah." Bibi Wen mengeluarkan selimut dari lemari.
"Tidak bibi, kita tidur bersama."
Bibi Wen menatap bingung nyonya didepannya. Tidak biasanya. Seingatnya Annchi tidak takut gelap, dan sekarang wanita itu datang ke kamarnya minta ditemani tidur.
"Maaf tapi~."
"Jika bibi tidak nyaman, aku akan kembali ke kamar."
"Tidak nyonya, maaf. Baiklah kita tidur bersama."
Annchi tersenyum. Menganggukkan kepalanya.
Malam semakin larut, Annchi sudah tertidur dengan nyaman dibawah selimut yang sama dengan bibi Wen.
Bibi Wen merasa terusik ketika ada yang memeluknya. Ia membuka matanya perlahan dan mendapati Annchi sedang memeluk tubuhnya.
Bu, aku rindu.
Bibi Wen mengerenyitkan dahinya. Apa nyonyanya sedang bermimpi?
Bu.
Bibi Wen mengelus pelan rambut panjang milik Annchi. Ia tahu bagaimana hubungan rumah tangga nyonya dan tuannya.
Ia cukup tahu bagaimana perjuangan Annchi untuk mendapatkan sedikit saja perhatian dari Cao Chen. Tapi Cao Chen membangun dinding yang begitu besar antara keduanya.
Bibi Wen prihatin. Ia berdoa semoga hubungan nyonya dan tuannya segera membaik.
Cao Chen kembali keesokan paginya. Saat memasuki kamar, ia tidak menemukan Annchi dimanapun.
Kemana wanita itu.
Cao Chen kembali melihat sekeliling kamar. Tidak ada. Ia tidak menemukan Annchi.
Cao Chen turun kebawah menemui bibi Wen di dapur.
"Bibi Wen, dimana wanita itu?"
"Maaf tuan, nyonya tidur dikamar saya."
"Apa?"
"Tadi malam nyonya datang ke kamar saya dan meminta untuk ditemani tidur. Karena semalam lampu dirumah mati. Nyonya takut gelap."
Cao Chen segera berlalu menuju kamar bibi Wen. Apa ini salah satu trik lagi yang digunakan Annchi untuk menarik perhatiannya?
Pintu kamar terbuka, menunjukan seorang wanita yang sedang tertidur dengan memeluk bantal dengan bulu-bulu halus.
Cao Chen mendekati kasur. Rasa gusarnya hilang sempurna saat ia melihat Annchi tengah tertidur dengan nyaman dalam balutan selimut tebal.
Tatapan matanya tertuju pada bulatan di perut Annchi, tangannya terangkat perlahan.
Sudut bibir Cao Chen terangkat sedikit saat ia merasakan tendangan pada telapak tangannya. Ini kali pertama baginya.
"Suami."
Cao Chen mengangkat pandangannya, tatapan matanya bertemu dengan Annchi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
**Hai Hai Hai
Saya balik lagi nihh.
Semoga ada yang baca.
bye bye 👋🏻**