
"Xia!"
"Jiě jiě."
Chen menoleh, malihat anak kecil perempuan yang putrinya sebut sebagai jiě jiě. Anak itu membawa plastik putih dengan dua ice cream.
Anak perempuan itu menarik Xia, menyembunyikannya dibelakang punggungnya.
"Paman siapa? Mengapa mengganggu adik ku?"
"Jiě jiě, paman ini temannya ibu."
Anak perempuan itu menelisik penampilan Chen dengan seksama, hal itu membuat Chen terkekeh pelan.
Chen dapat menyimpulkan bahwa Annchi belum menikah, karena yang ia tahun anak perempuan yang berdiri dihadapannya ini adalah salah satu tetangga yang selalu membantu Annchi.
"Hallo, nama mu pasti Ling."
"Bagaimana paman bisa tahu? Paman peramal ya." Ling terkejut, wajah polosnya membuat Chen kembali terkekeh.
"Aku yang memberi tahu paman."
Chen menoleh, melihat Xia yang masih berdiri dibelakang Ling dengan tangan yang digenggam erat.
"Apa yang sedang kalian lakukan disini?"
"Kami sedang mengantar ibu, ibu sedang berbelanja jadi kami menunggu disini."
"Kenapa kalian menunggu, apa kau tidak tahu bahwa anak kecil tanpa pengawasan orang tua rawan diculik."
"Tapi disini ramai."
"Karena ramai, kalian tidak akan tahu siapa yang jahat disini. Jangan diulangi lagi, mengerti?"
Kedua anak kecil itu mengangguk lucu.
"Ayo duduk, jangan terlalu lama berdiri atau kaki mu akan sakit nanti."
Keduanya duduk dengan tenang, seraya menyantap ice cream yang mulai meleleh. Sesekali Chen membersihkan lelehan ice cream yang mengotori wajah putrinya.
"Paman mau?"
Chen menggeleng. Dadanya terasa seperti tertekan oleh batu besar kala mendengar putrinya menyebut dirinya dengan 'Paman'.
....
"Bu, tadi aku bertemu paman tampan."
"Paman tampan?"
Xia mengangguk.
"Bu."
"Kenapa aku tidak punya papa."
Annchi diam, pada akhirnya pasti hal ini akan terjadi. Xia tidak selamanya akan menjadi bayi, anak ini pasti akan menanyakan keberadaan sang ayah.
"Xia punya papa."
"Benarkah?"
"Tentu, tapi saat ini papa sedang bekerja."
"Kenapa papa tidak pulang, ibu juga bekerja."
Annchi terdiam lagi, anak sekecil Xia memang wajar jika banyak bertanya. Rasa penasarannya akan dunia dan lingkungan sekitar sudah muncul.
"Kenapa papa tidak tidur bersama kita?"
"Papa tidak sayang Xia?"
"Xia ingin papa."
Annchi meraih tubuh Xia kedalam dekapannya. Apakah ia masih harus tetap egois? Tapi jika ia kembali akankah Chen dan keluarga Zhang menerima anaknya?
Annchi bimbang dalam hatinya, semua ketakutannya selama ini membuat dia ingin selalu jauh dari keluarga Zhang, termasuk Chen.
Tapi apakah keputusannya ini benar? Annchi tidak tahu.
🌻🌻🌻
Bao Yu terbangun, nafasnya tersengal. Tangannya terulur untuk mengusap keringat yang membasahi keningnya.
Dadanya sesak, jantung berpacu dengan detakan yang tak terkendali. Terasa sakit.
Siapa anak kecil perempuan itu? Kenapa selalu muncul dalam mimpinya akhir-akhir ini? Kenapa anak itu menangis malam ini?
Bao Yu membuka gorden jendela kamarnya, tatapannya jatuh pada bintang-bintang yang malam ini menghiasi langit.
"Siapapun kamu, semoga Tuhan selalu melindungi mu."
Bao Yu mengusap sisi matanya, basah. Dia menangis, entah kenapa. Ia merasakan kerinduan yang terasa menyesakan bagi jiwa. Siapa sebenarnya yang ia rindukan? Apa pria
itu? Atau sesuatu yang lain?
Bao Yu berdoa dalam hati, mendoakan seluruh kehidupannya yang dulu dan kehidupan yang saat ini sedang ia jalani.
Bao Yu menarik nafasnya pelan, kembali menatap bintang-bintang yang ikut serta menerangi bumi malam ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai hai hai
Happy reading 💗