
“Kau?!” pekik Zeno.
“Aku memang pecinta wanita, namun ku bukan buaya, yang setia pada seribu gadis, ku hanya mencintai Cleo,” ujar Triton bernada.
“Dia pikir ini adalah audisi menyanyi di depan juri?” batin Titan dan Jupiter.
“Ya, kami ke sini untuk mengambil gadis itu, apa kau keberatan?” tanya Triton sambil menunjuk Sunny.
“Dia ini milikku!” ujar Zeno.
“Milikmu, ha-ha-ha... Dasar kaum jomlo mengenaskan, makanya segera memiliki kekasih, jangan kekasih milik orang lain diakui sebagai kekasihmu, kau ini justru terlihat seperti kaum tidak laku, kau tidak malu, ya?” tanya Triton.
“Ue Kyang-Kyang...” tawa aneh milik Titan menggelegar.
“Beginilah penampakan seseorang yang terlalu banyak mengkonsumsi opium, terlalu banyak halusinasi,” timpal Jupiter.
“Lebih baik kau tidur lagi saja dan lanjutkan mimpi indahmu, apa kau ingin kubantu agar tidurmu nyenyak?” tawar Titan pada Zeno.
“Memang kau tahu bagaimana cara membuatnya tertidur nyenyak?” tanya Triton.
“Tentu saja dengan membuat mereka tidak bernyawa,” jawab Titan.
“Kau benar! Kalau begitu aku juga mengambil bagian untuk acara ini,” ujar Jupiter.
“Kalian semua habisi anak buah Bajingan ini biar, aku yang mengurus bagian si Pecundang!” perintah Triton.
Mereka mulai bergerak untuk saling menghabisi, saling melumpuhkan. Mereka bertarung dengan kemampuan terbaik mereka masing-masing, tak jarang terdengar suara tembakan yang turut menghiasi pertarungan mereka.
“Kau dengar itu suara jeritan memilukan anak buahmu adalah sebuah melodi yang begitu merdu untuk kudengar,” ujar Triton.
“Kau memang iblis Hero,” sahut Zeno.
“Bukan hanya aku, tapi kau pun juga seorang iblis, Zeno,” ucap Triton santai.
“Jadi bagaimana, mau merasakan pistol terbaruku melubangi kepalamu, aku yakin jika pistol terbaruku ini mampu membuat otakmu menjadi potongan puzzle,” lanjut Triton.
“Bagaimana jika kita bermain terlebih dahulu?” tawar Zeno.
“Sayang sekali, tapi aku tak suka dengan yang namanya basa-basi,” jawab Triton. Ia langsung menarik pelatuknya, dan—
Dor!
—Zeno tewas seketika, Sunny memekik ngeri melihat adegan di depan matanya barusan.
Kondisi Zeno sangat mengenaskan, dengan kepala yang bersimbah darah akibat peluru yang menembus kepala bagian belakangnya.
“Kak, kau membunuhnya sungguhan?” tanya Titan di tengah pertarungannya dengan anggota VIP.
“Kaupikir aku bercanda? Dia pernah mengincar istri dan bayiku,” jawab Triton. Membuat mereka mengangguk sebelum melanjutkan pertarungan.
Sementara Sunny merasakan tubuhnya bergetar karena ketakutan.
Triton bergerak mendekati Sunny dan melepaskan ikatannya. Sunny pun sudah merasa lega karena tubuhnya bisa bergerak lagi.
“Ikut aku, jangan takut. Aku adalah sahabat Rain, kekasihmu,” ucap Triton.
Sunny seperti orang linglung, ia sempat ragu-ragu mengiyakan ajakan Triton atau tidak?
“Aku bukanlah orang jahat, tapi aku juga bukan orang baik, jadi jangan mempersulit dirimu, selama aku masih bersikap baik padamu, Nona,” ujar Triton.
“Bagaimana bisa aku percaya kau orang baik, jika kau saja baru saja membunuh orang?” tanya Sunny.
“Terserah kau percaya padaku atau tidak, jika kau percaya kau bisa ikut denganku, jika tidak kau bisa tinggal di sini bersama mereka, tapi tidak menutup kemungkinan jika dirimu akan menjadi korban pelecehan nantinya,” jelas Triton cuek.
Mendengar penjelasan Triton, membuat Sunny menjadi ketakutan.
“A-aku akan ikut denganmu,” jawab Sunny pada akhirnya.
Triton hanya mengangguk dan menuntun Sunny menuju mobilnya.
“Tugasku sudah selesai anak-anak, aku akan membawa gadis ini ke tempat yang aman, Titan dan Jupiter, kalian bisa pulang dengan Kevin nanti!” ujar Triton sembari berteriak.
Setelah bicara pada Titan dan Jupiter, Triton dan Sunny pergi ke sebuah tempat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Perusahaan Jonathan, benar-benar merealisasikan perintah Rain. Mereka benar-benar menarik seluruh saham di perusahaan Sullivan.
“Aku benar-benar penasaran dengan reaksi Pak Tua itu,” ucap Galaksi.
“Yang jelas ia akan terkejut, bahkan sangat,” timpal Rain.
“Perlukah kita menyiapkan petugas medis?” tanya Galaksi dengan menyeringai.
“Untuk data Mr. Kendrick, aku sudah meletakkan berkasnya di mejamu, kau bisa membacanya, nanti,” jawab Galaksi.
“Berarti kita tinggal menunggu hasil penyelidikan Marcus,” ujar Rain, Galaksi hanya mengangguk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sunny sudah berada di sebuah apartemen. Sunny merasa penasaran di apartemen milik siapa ini.
“Ini salah satu apartemen milik Rain jika kau sangat penasaran, aku akan meninggalkan mu, sementara di sini. Tenang kau akan aman, aku tidak akan macam-macam, kau dengar yang aku katakan tadi bukan jika aku sudah beristri?” jelas Triton.
“Terima kasih sudah menyelamatkanku,” ucap Sunny.
“Bukan masalah, aku hanya ingin membantu si bodoh yang sayangnya sekarang menjadi saudaraku,” balas Triton.
“Em, bolehkah aku bertanya padamu?” tanya Sunny.
“Apa yang ingin kau tanyakan?”
“Kau tahu di mana Andy saat ini?”
“Andy, Andy siapa?” tanya Triton.
“Dia kekasihku, tadi dia mengobrol bersamamu,” ujar Sunny.
Triton hanya mengerutkan kening. Dia bingung siapa yang dimaksud Sunny.
“Ini, ini adalah foto kekasihku.” ujar Sunny sambil menunjukkan foto Andy di ponselnya. Triton menerima ponsel Sunny, dan melihat sebuah foto, kemudian tawanya meledak.
“Ha-ha-ha... Kau itu polos sekali sih?”
Triton mengeluarkan ponselnya dan mencari foto Rain, lalu menunjukkannya pada Sunny, “Coba kau bandingkan foto orang ini dengan kekasihmu. Perhatikan baik-baik, kemudian bayangkan jika kekasihmu itu membuka kacamatanya.”
Sunny memperhatikan foto tersebut dengan seksama. Ia kemudian menutup mulutnya. Ia merasa terkejut kemudian menangis, ternyata apa yang dikatakan oleh mamanya dan Ariel itu benar adanya.
“Mengapa ia harus berbohong?”
“Aku tidak bisa menjelaskan, itu bukan urusanku, aku tidak berhak menjelaskan,” ujar Triton.
Sunny hanya terdiam. Ia tidak bisa berpikir jernih.
“Aku pulang dahulu, kau menginaplah di sini, sampai keributan selesai.” pamit Triton dan pergi meninggalkan Sunny.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara Marcus masih berdiam diri di dalam mobil sembari mengintai seseorang dari jarak jauh, sejauh ini belum ada yang mencurigakan.
“Beginilah pekerjaan yang melelahkan bisa-bisanya aku harus berurusan dengan Pak Tua itu, huft,” keluh Marcus.
Saat ini ia sedang berada di dalam mobil yang masih setia mengawasi rumah Mr. Kendrick. Tak lama Mr. Kendrick keluar dari rumahnya dan pergi menggunakan mobil.
“Mau pergi ke mana Pak Tua itu?” gumam Marcus sambil mengemudikan mobilnya. Ia terus membuntuti dengan jarak yang sekiranya aman. Tak lama kemudian Marcus melihat mobil Kendrick berhenti di kawasan apartemen.
“Mengapa ia berhenti di apartemen ini?” gumam Marcus. Ia masih terus mengamati. Sampai ia melihat seorang wanita yang masuk ke dalam mobil Kendrick.
“Tunggu-tunggu, Mr. Kendrick dengan seorang wanita, siapa ia?” gumam Marcus bertanya-tanya sampai ia mulai menjalankan mobilnya kembali karena mobil Kendrick sudah mulai bergerak.
Hingga mobil Kendrick berhenti di sebuah restoran mewah, mereka keluar dari mobil dan masuk ke dalam restoran.
Dengan terpaksa ia juga keluar dari mobil dengan mengenakan sebuah topi yang menutupi wajahnya.
Ia duduk di tempat yang tidak jauh dari meja Kendrick dan wanitanya itu berada.
“Sepertinya aku pernah melihat wanita itu, tapi di mana ya?” gumam Marcus sambil merekam menggunakan kamera tersembunyi.
Saat sedang fokus merekam kegiatan Kendrick dan wanita yang diduga simpanannya itu, tiba-tiba ada yang menepuk bahu Marcus.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya seorang wanita, membuat Marcus menengok karena merasa terkejut.
“Sialan kau Ariel. Jangan menggangguku dan jangan berisik, aku sedang melaksanakan tugas dari Rain,” gerutu Marcus.
Merasa penasaran apa yang direkam Marcus mata Ariel pun mengarah pada objek yang direkam oleh kamera.
Saking terkejutnya ia menutup mulut, “Uncle Kendrick, dan Nenek sihir bermain di belakang Aunty?!” pekiknya.
“Nenek Sihir, memangnya siapa dia?” tanya Marcus.
“Kau tidak tahu? Dia itu...”
TBC