Rain & Sunny

Rain & Sunny
Bagian 27



Tania masih betah bersikap menjadi orang asing terhadap suaminya sendiri. Ia bahkan merasa enggan menyiapkan sarapan untuk sang suami. Bahkan ia tidak pernah muncul saat suami sedang menyantap sarapan paginya.


Sikap tak acuh Tania itu membuat Kendrick kesal bukan main, hanya karena sang putri tak ada lagi di tengah-tengah Mereka, sang istri jadi tak menghormatinya lagi sebagai suami.


Kendrick meremat tangannya tanpa sadar dan membuang nafas kasar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Cleo sedang berada di ruang tamu saat ini. Ia mengambil cuti hamil. Masih tak menyangka jika di dalam perutnya ada sebuah kehidupan, dan itu tidak hanya satu nyawa melainkan dua. Sungguh ia merasa sangat bersyukur karena, tak membuat suaminya kecewa dua kali.


Kehamilannya pun disambut meriah oleh keluarganya dan keluarga Stevenson. Mereka tidak menyangka, akan segera memiliki anggota keluarga baru.


Triton pun tak jauh berbeda, ia justru lebih antusias dibandingkan dengan sang istri. Ia menjadi lebih posesif dari pada sebelumnya. Hal itu tak membuat Cleo merasa risih, justru ia merasa senang, karena dengan begitu, ia bisa merasakan cinta suaminya yang amat besar.


Pagi tadi seperti apa yang dikatakan oleh dokter kandungan kemarin, Triton yang menanggung efek kehamilannya, ya Triton mengalami morning sickness. Menurut penjelasan orang tua mereka, itu berarti Triton benar-benar mencintainya, bahkan sangat mencintainya.


Cleo menatap Triton dengan sendu, ia merasa bersalah dan kasihan terhadap suami yang sedari tadi mondar-mandir ke toilet.


“Istirahat terlebih dahulu, aku sudah menyuruh asisten membuatkan minuman asam, agar meredakan rasa mualnya," kata Cleo pada Triton.


“Rasanya sangat lemas sekali,” jawab Triton.


“Kalau begitu, kau istirahatlah di rumah, aku akan bilang jika kau cuti karena sakit,” saran Cleo.


“Tidak perlu, aku masih kuat dan masih bisa menahannya, lagi pula aku ada jadwal operasi hari ini,” jawab Triton. Meski Triton terlihat bengal dan menyebalkan, dia tetap tak melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang dokter.


“Apa tak bisa digantikan orang lain?” tanya Cleo.


“Tak bisa, Sayang. Hari ini merupakan operasi besar dan aku yang akan bertanggung jawab, kau tahu, kan selain menjadi dokter jiwa aku juga menjadi dokter spesialis bedah?” jawab Triton.


Cleo menghela nafas, sebenarnya ia khawatir dengan kondisi suaminya pagi ini, tapi dirinya juga seorang dokter, juga memahami bahwa pasien adalah prioritas utama. Ia juga tak boleh egois.


“Baiklah, tapi jika kau tidak kuat, minta asistenmu untuk menangani operasinya, karena bagaimana pun, keselamatan pasien adalah yang utama,” putus Cleo.


“Iya, Sayangku.” jawab Triton sambil mencubit gemas hidung sang istri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sunny berangkat kerja hari ini, ia sudah bersemangat menjalani hari seperti biasanya, tapi sesampainya di rumah makan tempat ia bekerja, ia justru mendapatkan hal tak menyenangkan.


Ya, setelah ia sampai di rumah makan tersebut, ia dipanggil oleh pemilik rumah makan dan berakhir dengan pemecatan dirinya, ia sempat menanyakan kesalahan apa yang ia perbuat pada pemilik rumah makan, tapi sang pemilik enggan memberikan jawaban yang jelas.


Sunny terpaksa pulang ke rumah dengan lesu dan perasaan sedih, ia tak paham apa kesalahan yang ia perbuat hingga ia dipecat begitu saja, sungguh ia ingin menangis sekarang, ke mana lagi ia harus mencari pekerjaan. Sesampainya di rumah ia menangis sejadi-jadinya.


Di suatu tempat terdapat seseorang yang tidak diketahui namanya itu, tengah menghubungi seseorang.


“Tuan, dia sudah dikeluarkan dari tempatnya bekerja sesuai perintah Anda,” lapornya.


“Kerja bagus! Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik, bayarannya akan kutransfer nanti,” ujar seseorang di seberang telepon.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari ini si pemuda sedang bersepeda santai mengelilingi komplek lagi, tapi ditengah perjalanan dia melihat Sunny nampak murung di teras rumahnya.


“Selamat pagi, Nona,” sapa si pemuda, membuat Sunny mengalihkan pandangan ke arah suara yang menyapa telinganya.


“Ah, selamat pagi,” jawab Sunny.


“Mengapa kau nampak murung begitu, dan matamu terlihat sembab, kau habis menangis?”


“Tidak, mataku hanya kemasukan debu saja,” jawab Sunny memberikan alasan.


“Tidak bekerja?”


“Aku sudah tidak bekerja, aku baru saja dipecat,” jawab Sunny.


“Dipecat?” beo si pemuda. Sunny hanya mengangguk.


“Apa alasannya, apa kau membuat kesalahan? Maaf jika aku banyak bertanya dan membuatmu sedih,” ujar si pemuda.


“Aku juga tak tahu, di mana letak kesalahanku, sewaktu aku meminta penjelasan, mereka enggan buka suara,” jelas Sunny.


Pemuda tersebut merasa kasihan pada Sunny. Terlihat sekali jika Sunny seperti habis menangis. Wajahnya pun memerah, dan matanya sembab.


“Bolehkah aku minta bantuanmu, Nona?”


“Apa yang bisa kubantu?”


“Aku, habis membeli bahan makanan, tapi saat aku mencoba memasak sendiri, hasilnya justru hancur. Maukah, kau memasakkanku?”


Kening Sunny mengerut bingung, “Kau tidak bisa memasak?”


“A-aku memang tidak bisa memasak dengan baik. Biasanya aku membeli makanan secara online, tapi aku hanya ingin mencoba hal baru dengan memasak sendiri,” jelas si pemuda merasa malu.


“Aku bisa saja membantumu memasak, tapi aku tidak yakin apakah masakanku sesuai dengan seleramu,” jawab Sunny jujur.


“Kalau begitu, kau bersedia membantuku? Jika, iya. Ayo kita ke rumahku sekarang,” ajak pemuda tersebut pada Sunny.


“Em, kita naik apa ke sana?” tanya Sunny.


“Naik sepedaku, kau berdiri di belakang, ya jika kau takut jatuh, kau bisa berpegangan pada pundakku,” kata pemuda tersebut.


“Memang boleh?” tanya Sunny ragu-ragu.


“Aku sudah memberimu izin, kan. Ayo bergegas aku sudah lapar!” ajak pemuda itu lagi.


Sunny segera naik dan berpegangan erat pada pundak si pemuda.


Pemuda tersebut melajukan sepedanya menuju ke rumah.


Tak membutuhkan waktu lama mereka telah sampai di rumah si pemuda.


“Silahkan masuk, maaf kalau rumahku kecil,” ucapnya.


“Tak masalah. Walau kecil rumahmu sangat nyaman,” jawab Sunny.


“Itu dapurnya. Kau bisa langsung memasak kalau kau mau.”


Sunny mengangguk. Walaupun tempatnya minimalis tapi cukup rapi dan nyaman untuk ditinggali.


Sunny segera menuju dapur dan membuka kulkasnya. Ia langsung mengolah bahan yang ada, sementara pemuda tersebut sedang berkirim pesan pada kawannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tempat lain Galaksi sedang menggerutu, “Hah, mulai lagi dia,” ujar Galaksi sambil menghela nafas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sunny sudah selesai memasak. Bau harum makanan yang menggoda indera penciuman mulai menguar, perutnya meronta seakan minta diisi.


“Apa makanannya sudah siap?”


“Ya, kau boleh langsung mencicipinya, maaf aku tidak tahu apa kesukaanmu, jadi aku hanya membuat menu seadanya, sesuai bahan yang ada, semoga kau suka,” ujar Sunny.


Sunny menghidangkan masakannya dan serta mengambilkan nasi untuk si pemuda.


“Serasa, dilayani seorang istri,” batin pemuda itu sambil tersenyum.


“Makanlah, sedari tadi perutmu bernyanyi dengan merdu, menyaingi penyanyi idolaku,” goda Sunny.


Pemuda itu hanya tersipu malu mendengar candaan Sunny. Ia mencicipi hasil masakan Sunny.


Ternyata rasanya sangat pas kala makanan itu menyapa indera pengecapnya.


“Masakanmu enak! Sangat cocok dengan lidahku,” pujinya pada masakan Sunny.


“Benarkah? Terima kasih, aku senang kau menyukainya. Padahal aku sudah lama, tak memasak. Rasanya aku tidak percaya diri,” ujar Sunny.


“Terima kasih, telah memasakkanku makanan selezat ini,” ucap si pemuda.


“Sama-sama. Omong-omong kita belum berkenalan, siapa namamu?” tanya Sunny.


“Namaku Andy,” jawab pemuda tersebut.


“Hai Andy, aku Sunny, senang berkenalan denganmu!” ujar Sunny sambil mengulurkan tangannya.


“Hai Sunny, senang berkenalan denganmu!” balas Andy.


TBC


Andy



Rumah Andy