Rain & Sunny

Rain & Sunny
Bagian 31



Sekarang Andy sudah sampai di rumahnya sebelum kembali lagi ke restoran. Dan tepat sampai di rumah ia segera berlari ke toilet dan muntah-muntah.


“Ah aroma pasar tradisional itu membuatku mual. Rasanya seperti di neraka saja," keluh Andy.


Dia terpaksa mandi lagi karena berkeringat, setelah itu ia baru berangkat ke restoran.


Sunny juga melakukan kegiatan serupa, ia melakukan ritual keseharian. Baru setelah selesai ia berangkat ke restoran.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


Triton menghela nafas untuk kesekian kalinya, Pasalnya sudah beberapa hari ini istrinya suka mengidam makan, makanan pedas, jika beberapa waktu lalu mengidam makan seblak, kali ini istrinya ingin makan ramyun super pedas.


“Sayang, apa tidak ada menu lain untuk acara mengidammu itu?" tanya Triton pada sang istri.


“Tidak ada. Anakmu hanya ingin itu, tidak ada yang lain titik!" jawab Cleo.


“Akan tetapi itu pedas, Sayang. Tidak baik untuk kandunganmu dan baby, bagaimana jika terjadi apa-apa pada baby kita?"


“Kau menyumpahi anakku, kau tidak sayang dengan mereka?!"


“Bukan begitu maksudku. Aku hanya khawatir pada bayi kita, saja. Apa kita harus konsultasi lagi, memastikan kandunganmu baik-baik saja?"


“Anak kita itu kuat, Triton. Ia bisa makan, makanan pedas. Bukankah kau juga penggila makanan pedas?"


“Memang, tapi aku, kan tidak sedang hamil dan mengandung anak kita, Sayang," ujar Triton.


“Aku tidak mau tahu. Anakmu itu kuat, sayang. Pokoknya tetap belikan aku ramyun super pedas, sepedas mantan-mantanmu itu, titik!" kata Cleo tak dapat dibantah.


“Baik, Nyonya. Siap laksanakan!" jawab Triton pada akhirnya karena enggan mencari masalah dengan ibu hamil.


“Tuhan, kenapa mantanku juga ikut dibawa?" batin Triton


Bersabarlah Triton penderitaanmu masih belum usai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Suasana restoran begitu padat, para pegawai sibuk melayani pelanggan dari pelanggan satu ke pelanggan lain. Dan seperti biasa Andy selaku pemilik restoran selalu bertugas sebagai kasir untuk membantu.


Beberapa kali Andy mencoba tersenyum hangat ke arah pelanggan walaupun perilakunya itu selalu tidak diacuhkan oleh pelanggan terlebih pelanggan wanita.


Mereka sangat tidak suka dengan penampilan Andy yang sangat kuno dan ketinggalan jaman itu.


Terlebih kacamatanya yang setebal pantat botol itu sangat mengganggu pemandangan mereka.


Sunny menghampiri Andy kala restoran sudah sedikit lengang, “Hai Andy, apa kau lelah?"


“Lumayan, hari ini pelanggan banyak sekali. Kami sedikit kewalahan tadi," jawab Andy.


Sunny tersenyum, melihat Andy yang terkadang berekspresi menggemaskan, membuat Sunny tak tahan untuk mengacak surai Andy.


“Semangatlah! Ini belum berakhir Andy, nanti akan kuberi hadiah jika kau bisa bertahan sampai akhir," ujar Sunny.


Andy hanya diam terpaku. Hatinya menghangat dengan perlakuan spontan Sunny.


“Andy, jangan sering melamun, kau seperti kelinci yang ingin dicarikan pasangan saja, sering melamun seperti itu," ledek Sunny.


“Aku bukan kelinci asal kau tahu, memangnya tidak ada yang lebih bagus dari pada seekor kelinci?" tanya Andy.


“Lalu kau ingin hewan apa, seekor beruang?" tanya Sunny balik.


“Bagian mana dari diriku yang mirip dengan beruang, coba katakan?" tanya Andy.


“Badanmu besar seperti beruang. Apa kau tidak tahu?"


“Badanku tinggi."


“Iya memang tinggi layaknya seekor beruang besar berwarna cokelat. Tinggi dan besar."


Andy hanya cemberut, bukannya merasa bersalah Sunny justru tertawa. Wajah cemberut Andy merupakan mood booster-nya.


“Tega sekali kau menyamakanku dengan beruang," kesal Andy.


“Bukankah beruang itu favorit semua orang? Karena dia lucu dan menggemaskan, selain itu karena ia nyaman dipeluk," jelas Sunny.


Mendengar hal itu lantas Andy terperangah, kemudian menyeringai dan berkata, “Oh, jadi aku nyaman dipeluk?"


Sunny mengatupkan bibirnya. Sial, ia salah bicara. Matanya bergerak gelisah mencari alasan.


“T-tidak, kata siapa kau nyaman untuk dipeluk?"


“Itu tadi kau bilang," balas Andy.


“Mungkin kau salah dengar," elak Sunny.


Andy tersenyum melihat wanita di depannya ini salah tingkah. Jelas-jelas dia tadi mendengar apa yang Sunny katakan. Oh ayolah, telinganya itu masih berfungsi dengan baik, bahkan sangat baik.


Akan tetapi Andy akan mengalah dan memilih diam saja kali ini. Jika diteruskan ia yakin Sunny akan merasa terpojok dan merasa tidak nyaman. Ia tak ingin Sunny menjauh darinya.


“Baiklah, mungkin aku salah dengar tadi," jawab Andy mengalah.


Wajah Sunny memerah malu. Bisa-bisanya ia keceplosan bicara seperti itu di depan Andy.


“Bodoh kau, Sunny. Mama aku malu sekali. Rasanya mau menyublim saja!" batin Sunny menjerit.


“Wajahmu memerah, apa cuaca hari ini terlalu panas untukmu?" tanya Andy.


“M-mungkin saja. Lebih baik aku kembali bekerja." ujar Sunny lalu kabur dari hadapan Andy.


“Dia lucu sekali," gumam Andy pelan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aurora sedang berdiam diri di meja kantin. Ia sedang memikirkan Rain yang kabarnya sedang mengambil cuti panjang.


“Rasanya sepi sekali ketika Pak Rain tak ada di tempat, kenapa ia tiba-tiba mengambil cuti, ya? Padahal, kan dia adalah salah satu alasanku untuk bekerja, jika seperti ini rasanya aku malas," keluh Aurora.


Ia mengaduk-aduk milkshake-nya dengan tidak semangat, karena terus memikirkan Rain yang sudah lama cuti.


“Selamat pagi, Pak Galaksi," sapa Aurora ramah terkesan dibuat-buat.


“Hem," jawab Galaksi.


“Pak Galaksi bisa saya bicara sebentar?"


“Bukankah sedari tadi kau sudah bicara?"


Aurora bungkam, ucapan Galaksi menohok dirinya.


“Ingin bicara apa?" tanya Galaksi.


“Ah itu, saya hanya ingin bertanya, kira-kira apa alasan Pak Rain mengambil cuti, kenapa mendadak sekali?" tanya Aurora ingin tahu.


“Rain mengambil cuti karena ada keperluan, selain itu dia ingin beristirahat setelah urusannya selesai," jelas Galaksi.


“Kalau boleh tahu, urusan apa ya, Pak kira-kira?"


“Aku juga tidak tahu, urusan apa itu," jawab Galaksi.


“Bukankah Anda sahabatnya?" tanya Aurora.


“Dengar Nona. Aku adalah sahabatnya, ingat sahabatnya, bukan orang tuanya. Setiap orang itu memiliki privasi masing-masing jadi meskipun aku sahabatnya, tidak semuanya aku harus mengetahui tentang Presdir. Begitu juga dirimu. Jadi aku mohon hargai privasi orang lain—,"


“—atau jangan-jangan kau tak mengerti apa itu privasi seseorang? Sehingga kau harus tahu seseorang dari a-z?" ujar Galaksi lagi.


Aurora terdiam, sial sekali lagi-lagi ia tertohok ucapan Galaksi yang pelan namun terdengar sarkas.


“Jika tidak ada keperluan saya permisi." ujar Galaksi berlalu meninggalkan Aurora.


“Argh, sial. Kenapa ia tak ingin memberitahu?!" kesal Aurora. Teman-teman sesama karyawan banyak yang menertawakannya. Mereka jelas mengenal Aurora. Karyawan yang sangat terobsesi pada sosok Rain Steve.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu terus berjalan tak terasa malam telah tiba, saatnya restoran tutup. Hari ini Sunny memaksa Andy untuk menemaninya jalan-jalan serta menikmati makanan kaki lima. Ya, membayangkannya saja sudah membuat Andy bergidik ngeri.


Bagaimana jika makanan itu tidak sehat, tidak higienis dan yang terpenting kualitasnya sangat rendah serta rasanya tidak enak?


Ia sangat ingin menolak ajakan Sunny, namun ia tak mampu.


“Pokoknya kau harus ikut denganku pergi hari ini, tidak ada penolakan!" ujar Sunny mutlak.


“Dia meniru kata-kataku," batin Andy.


Mereka bergegas pergi setelah restoran tutup, sepanjang jalan mereka mengobrol ringan, sembari menikmati semilir angin yang berhembus.


Setelah membutuhkan waktu beberapa menit bersepeda sampailah mereka di jajaran pedagang kaki lima.


Banyak makanan yang dijajakan dan membuat Sunny kalap.


“Bagaimana jika kita membeli ramen itu?" tawar Sunny sambil menunjuk tenda yang merupakan kedai ramen.


“Di kedai itu?" tanya Andy memastikan. Entahlah, ia juga merasa tak yakin.


“Iya, ayo ke sana!" ajak Sunny sambil menarik tangan Andy.


Mereka menuju kedai ramen, sesampainya di sana Sunny dan Andy memesan.


“Kau ingin ramen apa?" tanya Sunny.


“Aku Kagoshima," jawab Andy.


“Baiklah. Paman, tolong buatkan kami Kurume ramen dan Kagoshima ramen masing-masing satu ya!" pesan Sunny.


“Baiklah, tunggu sebentar," jawab pemilik kedai.


Pemilik kedai tersebut segera meracik pesanan Sunny.


“Kau tahu kedai ramen ini terkenal enak. Aku baru pertama kali ke kedai ini, sebelumnya ingin mencoba tapi selalu penuh. Lagi pula waktuku habis untuk bekerja," jelas Sunny.


Andy hanya mengangguk saja sambil berdoa dalam hati supaya ia tak mengalami masalah pencernaan setelah ini.


Setelah beberapa menit akhirnya pesanan mereka jadi juga dan mereka langsung menyantap ramen itu. Andy yang pada awalnya ragu-ragu untuk mencoba menjadi ketagihan kala ia menyeruput sedikit kuah ramen yang rasanya memanjakan lidah.


Sunny yang melihat Andy makan dengan begitu lahap hanya tersenyum. Wajahnya yang seperti anak kecil tengah menikmati makanan kesukaan yang dimasakkan oleh ibunya membuat Sunny terkekeh pelan.


Setelah selesai menghabiskan ramen, Andy pun membayar dan pergi dari kedai tersebut bersama Sunny.


“Bagaimana, enak bukan rasanya?" tanya Sunny.


“Kau benar, aku tidak menyangka ada jajanan kaki lima selezat itu!" jawab Andy antusias.


“Ingin mencoba yang lain?" tawar Sunny.


“Eh?"


Dan lagi-lagi ia harus pasrah ketika tangannya ditarik Sunny kesana-kemari. Mulai dari membeli corndog, wafel isi es krim, dan masih banyak lagi mereka coba.


Andy pun yang belum pernah merasakannya jadi ikut senang, karena perutnya kenyang dengan makanan enak.


Lelah dengan kegiatan kuliner dan karena waktu sudah semakin malam, mereka memutuskan untuk pulang.


TBC


Visualisasi kedai ramen



Kurume ramen



Kagoshima ramen