
Hari terus berjalan dan kisah terus berlanjut. Semakin hari Andy dan Sunny semakin lengket saja bak amplop dan perangko, yang menempel satu sama lain.
Tak jarang mereka menunjukkan kemesraan antara satu sama lain, namun masih dalam batas wajar, tidak berlebihan.
Seperti contohnya saat ini. Sunny sedang semangat menemui kekasih hatinya.
“Selamat pagi, Bear,” sapa Sunny.
“Bear?” beo Andy.
“Iya, karena kau adalah beruangku yang manis.”
“Dan nyaman untuk dipeluk?” goda Andy.
“Jangan membuatku malu!” pekik Sunny sambil memukul pundak Andy manja.
“Kau sendiri yang bilang waktu itu,” Andy masih menggodanya, meski wajah Sunny sudah semerah tomat masak.
“Ugh... Sudahlah kembali bekerja, aku tak ingin memiliki Bos yang pemalas,” ujar Sunny.
“Ha-ha-ha... Bilang saja kau malu mengakuinya kala itu keceplosan,” ledek Andy.
“Iya-iya, kau seperti beruang yang enak dipeluk, apa kau puas dengan pengakuanku?!” tanya Sunny kesal.
“Oh sangat, aku sangat puas dan bahagia.”
“Kembalilah bekerja, dasar menyebalkan!” perintah Sunny diakhiri dengan gerutuan.
“Hei, kata-kata itu seharusnya, aku yang ucapkan,” ucap Andy seraya terkikik geli.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini Antonio sedang memeriksa berkas dengan serius.
“Galaksi, apa Rain jadi mengembalikan uang perusahaan Sullivan yang diceritakan itu?”
“Sudah Uncle, tapi kita memberikan secara bertahap jadi jika perusahaan itu masih butuh dana, kita baru memberikan. Itu yang disepakati waktu lalu,” jelas Galaksi.
“Anak durhaka, seharusnya aku sudah beristirahat tenang sambil menggendong cucu sekarang, bukan bekerja seperti ini.”
“Menantu saja belum punya tapi ingin menggendong cucu, Uncle ini bagaimana?” cibir Galaksi.
“Tidak perlu kau perjelas anak muda, aku sedikit miris dengan kisah cinta, anakku, aku jadi ragu dia itu seorang Jonathan atau bukan?”
“Sudah pasti dia seorang Jonathan, Uncle. Mengingat sama-sama diktator dan menyebalkan, orang pasti akan dengan mudah menebaknya,” jawab Galaksi.
“Dasar Danendra Junior yang durhaka, mau aku adukan pada Mami dan Papimu, agar mereka menjualmu, huh?!”
“Akan tetapi Galaksi, kan mengungkapkan fakta, kenapa Uncle marah?” ujar Galaksi polos.
“Kau benar-benar, Aish!” gerutu Antonio.
“He-he-he...” cengirnya tanpa dosa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di suatu tempat tersembunyi yang lain ada sebuah penghuni yang merupakan sebuah kelompok, gangster dengan lima orang anggota utama dan sisanya adalah pengikut.
“Bagaimana bisa anggota Red Stars mengetahuinya, ck... Benar-benar bodoh?!” sentaknya marah.
Para anggotanya hanya bisa tertunduk diam, mereka takut, jika bersuara sedikit saja, sudah dipastikan mereka tak akan bisa melihat hari esok.
“Ma-maafkan kami, Bos,” ujar anak buahnya.
“Aku tidak butuh kata maaf, aku hanya butuh hasil yang memuaskan, bukan hanya omong kosong belaka!”
Mereka semua terdiam, tak berani menimpali ucapan sang ketua.
“Zeno, aku baru saja mendapatkan info. Mungkin ini bisa menjadi angin segar untukmu,” ujar tangan kanannya tersebut.
“Aku baru mengetahui jika salah satu anggota Red Stars sudah melangsungkan pernikahan,” kata tangan kanannya itu.
“Oh benarkah, siapa?” tanya ketua.
“Hero,” jawabnya.
“Hero, dia sudah menikah?”
“Ya, dan kau tau apa lagi yang menarik?”
“Apa?”
“Istrinya tengah hamil saat ini,” jelasnya pada ketua.
“Wow, sungguh menarik. Kalian semua cari tahu tentang kehidupan pribadi Hero dan istrinya, bawa istrinya kemari!” perintah sang ketua pada anak buahnya.
“Akhirnya kita dapat salah satu kartu as,” ujarnya sambil menyeringai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu saat Triton tengah tertidur di ruangannya, ia seperti mendengar sebuah suara memanggilnya.
“Bangunlah, Triton!”
Mendengar suara membuat tidur Triton sedikit terusik. Ia memandang sekeliling, tetapi tak menemukan siapa pun.
“Suara siapa itu?” gumamnya.
“Lihatlah ke cermin, dan kau akan melihat dengan siapa kau bicara!” kata suara tersebut.
Sebenarnya Triton enggan, tetapi entah mengapa tubuhnya bergerak sendiri seolah mau melakukan apa yang diperintahkan suara tersebut.
Saat ia sudah berada di depan cermin, sebuah suara menyapanya.
“Hai Triton, lama tidak jumpa,” sapa bayangannya.
“K-kau, bagaimana bisa kau muncul lagi di hadapanku, bukankah kau sudah menghilang?”
“Aku, menghilang? Ha-ha-ha...”
Triton mengepalkan tangannya kesal. Ingin rasanya dia menghajar orang yang ada di depannya ini, tapi tidak mungkin, kan dia menghajar diri sendiri?
“Wow, santai, Bung. Sepertinya kau kesal ya? Aku bukan ingin mengajakmu bertengkar, aku hanya ingin menyampaikan sesuatu padamu,” ujar orang tersebut.
“Kuharap itu sesuatu yang penting.”
“Jahat sekali, memang kapan aku memberitahu hal yang tak penting padamu?”
“Berhentilah mengoceh, Dione!”
“Oke. Aku hanya ingin memberitahu, kau harus berjaga-jaga, karena tak lama lagi, hal besar akan menimpamu, terlebih istrimu, jadi berhati-hatilah.”
“Apa ini pertanda sesuatu yang buruk akan terjadi?” tanya Triton.
“Firasatku mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi pada istrimu,” jelas Dione.
“Dasar sampah menyusahkan, dia ingin bermain-main rupanya.”
“Huh, maka dari itu sudah kubilang, kau membutuhkan partner lagi, seperti beberapa hari yang lalu, saat kita menyiksa pengkhianat itu,” jelas Dione.
Triton hanya diam, tak lama dia menyeringai mengerikan. Dione yang melihat seringai dirinya yang lain juga tersenyum puas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat ini adalah jam istirahat, Sunny dan Andy tengah keluar bersama. Mereka berjalan-jalan sebentar, mencari angin katanya.
“Kita tak bisa pergi terlalu lama, aku tak enak dengan para pegawai.”
“Tenang ini tidak akan lama, kita akan belanja untuk makan malam kita, nanti,” jawab Sunny.
“Ke pasar tradisional lagi?” tanya Andy.
“Iya sayang, kenapa memangnya?”
“Tidak di supermarket saja?”
“Di pasar tradisional harganya lebih terjangkau, kita bisa hemat uang belanja kita, kau tahu?” jelas Sunny.
Andy hanya menghela nafas, “Ya Tuhan, mohon berikan aku kekuatan.”
Mereka pun sampai di pasar tradisional dan mulai berbelanja. Sunny berjalan dengan riang sembari menggandeng mesra tangan kekasihnya.
Banyak pengunjung pasar yang mencibir mereka karena tidak cocok. Tak sedikit pula yang gemas dengan tingkah keduanya.
“Ya ampun lihat mereka, mereka nampak serasi.”
“Pemuda itu sangat kuno, wanita itu terlalu cantik untuknya, ha-ha-ha...”
“Mereka terlihat menggemaskan dan sangat manis.”
“Pemuda itu pasti hanya pemuda dari kalangan biasa, lihat saja pakaiannya. Kenapa pula wanita itu mau dengan lelaki yang belum mapan seperti dia? Anakku saja jauh lebih tampan darinya.”
Dan masih banyak lagi bisik-bisik lainnya dari pengunjung pasar entah itu dari penjual atau pun pembelinya.
Sunny sebenarnya mendengar bisik-bisik mereka, dia jadi tidak enak pada kekasihnya. Pasti kekasihnya sangat sakit hati mendengar bisik-bisik mereka.
Ia meremat tangan Andy, Andy sebenarnya sadar jika Sunny khawatir padanya, hatinya menghangat kala Sunny meremat tangannya seolah mencoba meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Ia juga mendengar bisik-bisik itu, tentu saja, hei dia itu belum tuli tahu? Akan tetapi ia hanya mencoba tak acuh dengan bisik-bisik ibu-ibu yang menurutnya tidak penting itu.
“Dasar manusia kurang kerjaan, kau iri padaku pun percuma, nyatanya aku yang mendapatkan hatinya, selamat menikmati rasa dengki di hati kalian masing-masing.” batin Andy.
Mereka terus berjalan tanpa menghiraukan gunjingan yang terdengar sengau untuk telinga mereka.
Saat mereka selesai berbelanja dan keluar dari pasar. Sunny berhenti sebentar dan menatap Andy seraya memegang tangannya. “Yang tadi itu tidak usah kau dengarkan. Cukup kau tahu bahwa aku mencintaimu apa adanya tanpa memedulikan bagaimana dirimu.”
Andy balas menatap Sunny dengan tatapan lembutnya, “Maaf karena aku, kau jadi bahan gunjingan orang-orang. Dan terima kasih sudah mencintaiku apa adanya, aku percaya padamu.”
“Aku tidak memikirkan gunjingan mereka terhadap kita, yang harus kau tahu aku bersungguh-sungguh mencintaimu,” ujar Sunny.
Mendengar jawaban Sunny entah mengapa Andy merasakan geli seperti ada jutaan kupu-kupu di perutnya dan hatinya seakan ingin meledak seperti ada ribuan kembang api yang memenuhi hatinya.
“Sekarang kita pulang sebelum waktu istirahat habis.” ajak Sunny sambil menggandeng erat tangan Andy.
Namun saat di tengah jalan ada segerombolan pemuda yang menghalangi jalan mereka.
“Ada mangsa baru sepertinya,” kata salah seorang di antara mereka.
“Siapa kau, pergilah jangan ganggu kami?!” ujar Andy.
“Jika kami tidak pergi kau mau apa, Nerd?” jawab mereka dengan nada mengejek.
“Pergilah, kami tidak ada urusan apa pun dengan kalian!” ujar Sunny angkat suara.
“Ah, jangan ketus begitu cantik, wajah cantikmu itu tidak pantas jika kau bersikap ketus seperti itu,” jawab preman pasar tersebut.
“Pergilah, apa yang kau inginkan dari kami?” tanya Sunny.
“Bukan hal yang sulit, kok. Kami hanya butuh uang kalian saja,” jawab mereka.
“Kami tidak punya.”
“Ah, dasar pembohong. Kalian semua periksa dan temukan dompet mereka!” ujar ketua komplotan preman pasar.
“Baik Bos!” mereka pun segera menghampiri Andy dan Sunny dan memeriksa barang bawaan keduanya dengan paksa.
“Lepaskan, pergi kalian. Jangan ambil barang-barang kami!” marah Andy.
“Ah diam kau, tidak usah cerewet!” balas preman itu dan mencoba merebut belanjaan yang dipegang Andy. Andy tentu saja mempertahankan barang belanjaannya.
“Kau ini keras kepala sekali, huh?” karena kesal preman itu meninju Andy keras secara tiba-tiba.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Mereka meninju Andy tanpa henti hingga Andy terjatuh dan wajahnya babak belur karena preman.
Sunny yang melihat kekasihnya dihajar habis-habisan memekik histeris dan berteriak meminta pertolongan.
“Andy, tolong, tolong kami, kami dipalak. Kumohon hentikan!” teriak Sunny mengundang perhatian warga.
Warga yang melihatnya pun berbondong-bondong menghentikan aksi anarkis itu, dan menolong Andy dan Sunny.
Terjadilah aksi main hakim sendiri hingga preman itu kabur dengan tangan hampa.
Sunny menutup mulutnya dengan tangan dan menangis melihat kondisi Andy, yang sudah penuh lebam dan babak belur.
“Andy!” pekik Sunny menghampiri Andy.
Mereka akhirnya pulang dibantu oleh warga yang memapah Andy.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya Sunny berada di rumah Andy ia mengobati luka-luka dan mengompres lebam Andy untuk kedua kalinya. Setelah di restoran siang tadi.
“Sudahlah, jangan menangis, aku tidak apa-apa,” kata Andy berusaha menenangkan Sunny.
“Tidak apa-apa bagaimana, jelas-jelas wajah dan badanmu jadi begini karena preman-preman itu, kau masih bilang tidak apa-apa?!” jawab Sunny yang masih merasa bersalah dan khawatir.
“Ini sudah jauh lebih baik, kan ada dirimu yang mengobati lukaku, dan setelah diobati luka-luka ini sudah lumayan membaik,” jawab Andy berusaha tersenyum meski terasa sakit karena ujung bibirnya robek.
“Besok, kau istirahatlah di rumah, jangan bekerja dulu, sampai kondisimu membaik!” ucap Sunny.
“Iya. Sekarang kau pulang ya, ini sudah malam. Tidak baik jika seorang wanita masih ada di rumah seorang pria ketika sama-sama belum terikat. Apa kata orang nanti, jika mereka memergoki kita? Aku tak ingin membuat nama kekasihku menjadi buruk.” ujar Andy.
Sunny tersenyum lembut. Ah, sikap Andy selalu membuatnya meleleh. Dia selalu menghargai wanita.
“Baiklah aku pulang. Ingat jangan lupa istirahat!” peringat Sunny kemudian pamit pulang dari rumah Andy.
“Iya, siap laksanakan komandan!” goda Andy.
Sunny sudah keluar tak lupa menutup pintu rumah Andy.
“Ternyata dia manis sekali. Ah beruntungnya aku bisa merasakan tangan selembut bidadari ini mengobati lukaku, Auch, sialan ini sakit sekali!” gumam Andy sambil mengumpat.
Saat sedang sibuk menggerutu ponselnya berdering, ternyata ada panggilan video call masuk, ternyata dari Triton. Segera saja ia mengangkatnya.
“Ada apa?” tanyanya ketika sudah tersambung.
“Wow, aku tidak salah menghubungi seseorang bukan, sejak kapan seorang Rain Steve berubah menjadi badut Taman bermain?!”
“Diam kau kelinci gemas, katakan apa tujuanmu menghubungiku?!”
“Istriku ingin mendengar suara kakak sepupunya yang sumbang sebelum ia melahirkan,” jawab Triton.
“Dasar kelinci sialan!”
“Apa, kau berani padaku, Rain. Mau aku penggal kepalamu, dasar makhluk menyusahkan?!”
“Hei kalian, jangan bertengkar dan mengumpat di depan orang hamil!” marah Cleo.
“Kak Rain, ada apa dengan wajahmu?”
“Aku dikeroyok preman pasar saat belanja.”
“Huh/Ha?” jawab Triton dan Cleo bersamaan.
“Ha-ha-ha... Apa kau lupa ilmu beladirimu, Beruang?”
“Tentu saja tidak. Aku hanya sedang mengasah kemampuan aktingku.”
“Sok seperti artis papan atas sekali kau, hanya orang bodoh yang dapat mempercayai aktingmu. Mengingat kau sangat buruk dalam berakting,” cibir Triton.
“Kak, kau tak ingin menyapa keponakanmu? Sebentar lagi akan lahir dia jagoan tampan.”
“Oh benarkah? Halo keponakan Uncle yang tampan. Semoga kau selalu sehat dan lahir dengan selamat, serta bisa menjadi kebanggaan orang tua serta keluarga. Dan semoga kau tidak menuruni sifat dan sikap aneh Daddy-mu, itu saja doa dari Uncle untukmu.”
“Uncle tidak berguna. Sudahlah kututup teleponnya, malas berbicara denganmu.”
Triton menutup video call karena kesal.
“Dasar calon ayah labil,” gerutu Rain.
TBC
Visualisasi
VIP GANGSTER
RED STARS