
Waktu demi waktu terus berlalu, akhirnya Andy sudah memiliki sebuah restoran untuk mengisi waktu luangnya. Ia meminta Sunny untuk membantu mengurus restoran yang baru saja ia bangun.
Ya, Andy telah mempercayakan cafe ini pada Sunny. Sunny yang tak memiliki pekerjaan waktu itu, dengan senang hati menerima tawaran Andy. Dengan begitu, ia tidak menganggur lagi.
Andy datang sesekali, untuk melihat perkembangan restoran dan ia cukup senang bahwa restoran yang ia bangun mendapat respon positif dari para pengunjung. Ia selalu melibatkan Sunny dalam merencanakan pembangunan restoran ini.
Mulai dari menu, harga, pembukuan keuangan. Soal desain interior juga tak luput dari diskusi mereka berdua.
Andy bisa melihat bakat terpendam Sunny dalam bidang desain interior dan perlu ia akui hasilnya sangat bagus dan memuaskan.
“Hai, Sunny," sapa Andy.
“Hai Andy."
“Kulihat restoran ini selalu ramai?"
“Bukankah itu bagus, kalau restoran tersebut selalu ramai, berarti restoran ini laku keras bukan?" kata Sunny.
“Ya, kau benar, tapi jangan lupa untuk istirahat juga aku khawatir kau terlalu lelah dan membuat tubuhmu menjadi kurus begini."
“Kau berlebihan, aku masih kuat, lagi pula aku hanya terlalu bersemangat, melihat mereka memberikan respon yang baik, membuatku ingin memberikan feedback yang baik juga pada mereka," jelas Sunny.
“Tak kusangka kau juga memikirkan pelanggan ternyata," ujar Andy.
“Hei, itu harus kenyamanan dan kepuasan pelanggan adalah yang utama dalam bisnis, agar usaha kita semakin maju dan berkembang," jawab Sunny.
Andy hanya tersenyum. Entah mengapa senyum dan keceriaan yang Sunny tunjukkan membuat hati Andy merasa hangat.
“Teruslah tersenyum seperti itu, senyumanmu sangat indah," batin Andy.
“Andy, kau baik-baik saja, mengapa kau melamun?" tanya Sunny.
“Ah, aku tidak apa-apa. Maaf jika aku melamun," jawab Andy.
“Kau sakit?"
“Tidak. Aku tidak sakit dan aku masih baik-baik saja, jangan khawatirkan aku Sunny."
“Baiklah. Jika kau merasa tidak enak badan cepat beritahu aku, ya!" ujar Sunny dengan senyuman manis. Hal itu membuat pipi Andy bersemu merah.
“Wajahmu memerah, kau yakin kau baik-baik saja?!" tanya Sunny panik, tangannya menjulur memegang kening Andy. Memastikan apakah Andy demam atau tidak.
“A-aku baik-baik saja sungguh." jawab Andy terbata.
“Ya Tuhan jika dilihat sedekat ini wajah Andy manis sekali, dia juga terlihat imut. Apa yang kau pikirkan Sunny, berhentilah berpikir yang tidak-tidak!" Sunny mulai berperang batin.
“Sunny, hei. Ada apa denganmu, kau melamun?" tanya Andy, seketika membuat Sunny gelagapan dan salah tingkah.
“A-apa, siapa juga yang melamun, aku tidak. Sudahlah kau bantu aku bekerja, kau, kan pemilik restoran ini. Dari pada hanya melihat, lebih baik membantu aku bekerja?!" elak Sunny dan memberikan alasan dengan mengalihkan pembicaraan.
“Baiklah," jawab Andy, kemudian Sunny segera melarikan diri karena malu, meninggalkan Andy yang tersenyum tipis.
“Dia lucu sekali jika sedang salah tingkah," gumam Andy dan ia segera menyusul Sunny untuk bekerja melayani pelanggan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Andy melayani pelanggan, tetapi banyak orang mencibir karena penampilannya yang sangat yang sangat jelek menurut orang-orang itu.
Dia mendengar gunjingan orang-orang tentang dirinya, tangannya mengepal erat menahan kesal, tapi ia harus bersabar, jangan sampai emosinya meledak dan membuat kekacauan di restoran hingga kenyamanan pelanggan terganggu.
Sunny berusaha menetralkan detak jantungnya yang berisik itu. Ia menarik nafas sebentar dan menghembuskan nafas kembali, supaya perasaannya bisa tenang.
“Aku, kenapa aku bisa seperti ini, aku tidak mengidap penyakit jantung koroner, kan. Ah ya Tuhan sejak kapan jantungku berdetak melihat Andy, aku, kan tidak memiliki phobia sebelumnya, apa sekarang aku punya?" gumam Sunny.
Ah Sunny kita masih sangat polos ternyata. Dia tak mengerti soal jatuh cinta.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Triton hari ini ia berangkat ke rumah sakit dengan mata panda. Kenapa? Semalam ia tidak bisa tidur akibat memenuhi masa mengidam sang istri, dan kali ini permintaan istrinya sungguhlah aneh. Ia ingin dicarikan seblak super pedas, terdengar sederhana memang, tapi yang jadi masalahnya adalah mana ada kedai seblak yang buka hingga pukul 2 pagi?
Triton harus lebih bersabar lagi menghadapi mood swing sang istri, untung dia cinta, jika tidak pasti sudah Triton tenggelamkan.
Kembali di rumah sakit sekarang,Triton sedang meminta waktu untuk istirahat sebentar pada perawat sekaligus asistennya.
Biarlah ia menjadi dokter yang makan gaji buta walau hanya sekali ini saja, ia mengantuk sekali, selain itu badannya juga terasa sakit, akibat terlalu lama tidur di sofa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lain halnya dengan Galaksi yang saat ini sedang tersenyum sejuta watt tak seperti biasanya, pasalnya setelah sekian lama, akhirnya ia bisa berkencan dengan kekasih barunya. Berterima kasihlah pada Antonio, yang memberinya kelonggaran.
“Senyumanmu membuatku silau anak muda," ujar Antonio.
“Aku sedang senang, Uncle. Akhirnya dia mau menerimaku setelah aku menyatakan perasaanku padanya."
“Aku turut senang untukmu, Nak. Akhirnya kau mendapatkan wanita juga, tak seperti anakku yang masih betah menjadi ketua persatuan lajang seluruh jagat raya."
“Ha-ha-ha... Dia bisa murka jika dia mendengar apa yang Uncle katakan," ucap Galaksi.
“Dia tidak akan mendengarnya, karena saat ini tengah sibuk dalam misinya."
“Menurut Uncle apakah misinya akan berhasil?" tanya Galaksi.
“Sebagai seorang ayah yang baik aku berharap dia akan berhasil dalam misi penebusan dosanya, tapi aku masih fifty-fifty."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Andy merasa lelah meski ia hanya berdiri di depan meja kasir.
“Ah punggungku pegal sekali sialan!" batinnya berteriak.
Saat ia sedang sibuk membatin ada seorang perempuan yang hendak membayar, langsung saja Andy menghitung total pesanan dengan sigap. Wanita itu berwajah ketus dan mengernyit jijik kala ia tak sengaja bersitatap dengan Andy.
“Apa lihat-lihat, dasar nerd menyebalkan. Memangnya kau tak pernah melihat wanita cantik sepertiku?!" gertaknya pada Andy.
“Cih cantik dari mana?! Wajahnya saja tidak lebih cantik dari para Bibi-bibi yang berjualan di pasar, untung saja keadaan sedang ramai, jika tidak aku sudah mencekik lehermu tanpa ampun," cibir Andy dalam hati.
“Cepat hitung pesananku Pelayan Nerd. Aku tahu jika aku cantik dan kau merasa terpesona padaku, tapi maaf aku tidak tertarik pada laki-laki nerd sepertimu, kau itu tidak selevel untuk bersanding denganku!" gertaknya pada Andy, sembari menyombongkan diri.
“Tuhan, ingin sekali aku meninju wajahnya dan merontokkan giginya meskipun ia seorang perempuan, kau benar Nona, aku tidak selevel denganmu, kau bahkan berada jauh dibawahku!" batinnya berteriak lantang.
Ia segera menghitung pesanan wanita menyebalkan tersebut, setelah pesanan selesai dihitung, wanita tersebut pergi.
“Astaga aku pikir waktu Tuhan menciptakan dirinya Tuhan lupa mengingatkannya untuk selalu berterima kasih," gumam Andy.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Siang telah berganti malam. Sunny dan Andy pulang ke rumah, mereka bersepeda bersama. Sunny berpegangan erat pada pundak Andy, agar tidak jatuh.
Jantung Sunny berdegup kencang kala badannya menempel pada punggung Andy.
Dug... dug... dug...
“Apa penyakit jantung koronerku kambuh kembali?" batin Sunny.
Sedangkan Andy masih mengayuh serata tersenyum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tak butuh waktu lama mereka telah sampai di rumah Sunny. Sunny langsung turun dari sepeda Andy tak lupa mengucapkan terima kasih.
“Sudah sana masuk, ini sudah malam, selamat beristirahat," ujar Andy. Sunny pun melakukan hal yang sama pada Andy, kemudian Andy berpamitan.
Setelah Andy pulang Sunny masuk ke rumah dan menjerit tidak jelas, “Ah... Andy manis sekali, Tuhan. Dia juga sangat baik dan hangat!"
Tak jauh berbeda dengan Sunny. Andy pun juga mulai bertingkah tidak jelas kakinya menendang-nendang udara, dia tidak bisa tidur dengan tenang, karena memikirkan Sunny, “Sunny, kau membuatku semakin jatuh cinta padamu."
TBC