Rain & Sunny

Rain & Sunny
Bagian 30



Pagi harinya adalah hari yang indah bagi Sunny, entah mengapa ia tersenyum sepanjang hari pada hari ini.


Hari ini ia bangun pagi-pagi sekali karena ia hendak mengajak Andy ke suatu tempat, dan sesuai permintaan Sunny, Andy mengunjungi rumahnya pagi-pagi sekali, seperti tak mengerti jam bertamu.


Sampailah Andy di rumah Sunny, Sunny menyambutnya dengan penuh senyuman. Ia hendak naik dan berdiri di belakang seperti biasanya, tapi tangannya masih ditahan oleh Andy, hal itu membuat Sunny mengerutkan dahinya bingung.


“Kau sudah mandi, kan?" tanya Sunny.


“Tentu saja sudah memangnya kau." cibir Andy sambil mendorong jidat Sunny dengan telunjuknya.


“Enak saja, aku mandi ya?!" protes Sunny dengan mengerucutkan bibirnya terlihat sangat imut.


Melihat itu membuat Andy terdiam ia terpaku pada makhluk indah di depannya.


“Bibirnya menggoda sekali, kira-kira bagaimana ya rasanya?" batin Andy.


“Andy, kau ini kenapa?" tanya Sunny saat tangannya entah dari kapan sudah berada pada bibir Sunny yang semerah buah ceri yang masak.


“Eh? A-aku minta maaf." jawab Andy lalu menarik kembali tangannya dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Sementara Sunny diam membisu, ia juga merasa terkejut, saking terkejutnya ia tak tahu harus memberikan respon yang bagaimana.


“Ah, kalau begitu naiklah, nanti keburu siang," ujar Andy mengembalikan kesadaran Sunny.


“Ah baiklah." jawab Sunny sambil naik dan berdiri di belakang berpegangan erat pada pundak Andy.


Andy mengayuh sepedanya dengan tenang, suasana hening dan canggung karena kejadian tadi. Andy memutuskan untuk bertanya, “Sebenarnya kau ingin mengajakku ke mana?"


“Ke taman setelah itu baru ke pasar untuk belanja," jawab Sunny.


“Oh ke Supermarket, kan?"


“Bukan, tapi ke pasar tradisional."


“What the— pasar tradisional?" batin Andy.


“Andy, kamu tidak apa-apa?"


“Aku baik-baik saja bahkan sangat baik."


“Baiklah kalau begitu, ayo kita ke taman. Kita olahraga di sana!" seru Sunny.


“Iya."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tak butuh waktu lama mereka berdua sampai di taman. Mereka turun dari sepeda dan melakukan lari pagi, mengitari taman bersama.


“Andy, jangan cepat-cepat. Tunggu aku!" teriak Sunny. Andy berhenti dan menoleh ke belakang, sedikit terkekeh saat melihat Sunny seperti kelelahan menyamakan langkah kaki.


“Kau seperti siput!" ejek Andy.


“Kakimu saja yang terlalu besar dan panjang seperti big foot," balas Sunny kesal.


“Kau saja yang seperti anak kecil, ayo cepat aku tunggu!" teriak Andy.


Sunny berlari sambil terengah-engah mengejar Andy.


Andy berhenti dan menunggu saat Sunny berada di dekatnya, terlihat jika Sunny sangat berkeringat, peluh membasahi wajahnya.


“Ini minum, untung aku bawa tadi." ucap Andy sambil menyodorkan sebotol air mineral pada Sunny. Sunny meneguk dengan rakus.


“Pelan-pelan saja, tidak perlu terburu-buru, tak ada yang merebut, kok."


Andy tersenyum melihat tingkah Sunny yang seperti anak TK saja.


“Ah, aku lelah, lebih baik kita langsung ke pasar saja," putus Sunny.


“Oh my, apa harus sekarang ke pasarnya?!" batin Andy wajahnya langsung mendelik horor.


“Ayo!" ajak Sunny sambil menggandeng tangan Andy untuk kembali menaiki sepeda. Andy pun menurut saja ia mengayuh sepedanya sesuai arahan Sunny.


Jarak pasar lumayan jauh. Beruntung Andy adalah pria yang kuat dan rajin berolahraga, jadi hal itu tidak masalah baginya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kini sampailah ia di pasar. Mereka segera masuk ke dalam pasar setelah Andy memarkirkan sepedanya.


Andy ditarik kesana-kemari oleh Sunny. Mereka membeli aneka sayur dan bumbu-bumbu dapur untuk menu restoran mereka, banyak genangan air di sekitar pasar, walau masih pagi, suasana hiruk-pikuk pasar sudah terasa.


Beberapa kali Andy terdesak oleh sekumpulan ibu-ibu dan bapak-bapak juga, bahkan dari mereka ada yang memanggul sekarung sayur-sayuran.


Ingin rasanya Andy mengumpat dengan merdu, saat ada ibu-ibu yang dengan sengaja menabrak tubuhnya.


“Ingatkan aku untuk memberi ibu-ibu itu pelajaran, saat kita bertemu kembali entah kapan," batin Andy menggerutu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sunny tiba di penjual kentang dan hendak membelinya ia masih belum menemukan harga yang pas, tawar-menawar pun masih berlangsung. Hingga Andy yang merasa gerah pun maju dan melakukan penawaran harga, tak lupa dengan tatapan tajamnya yang seakan mengintimidasi sang penjual.


Beruntung Sunny tak menyadari hal itu. Selepas membeli bahan sayuran dan bumbu kini mereka beralih, ke penjual protein hewani, ya mereka ke penjual daging, daging ayam dan sapi.


Saat penjual sedang mengerjakan pesanan Sunny. Sunny dengan usil bertanya pada Andy, “Andy, apakah kau bisa memotong daging seperti itu?"


“Iya, kau memotong daging, seperti yang dilakukan para penjual itu, kau bisa tidak?" tanya Sunny.


Di dalam otak Andy terlukis memotong sama dengan memutilasi, akan terasa berbeda jika ia yang disuruh memotong dan mengolah daging tersebut.


Maaf saja ia tak ingin membuat keributan di pasar dan berujung akan aksi protes yang dilakukan oleh para ibu-ibu itu.


“Kau tidak lupa jika aku tak bisa memasak, bukan? Aku bahkan tak ahli dalam memegang pisau," jawab Andy.


“Serius kau tak bisa memegang pisau?"


“Ibuku sering protes, ketika aku menggunakan peralatan dapurnya, setiap kali aku ke dapur hanya untuk memasak telur goreng saja, aku bisa menghancurkan dapur ibuku," jelas Andy.


“Kau sungguh tak bisa menggoreng telur?" tanya Sunny yang dijawab anggukan polos Andy.


“Lalu untuk makan sehari-hari bagaimana?" tanya Sunny.


“Aku memesan makanan secara daring, lewat sebuah aplikasi, dari pada aku menghancurkan dapur dan membakar seisi rumah, lebih baik beli saja, bukan?" terang Andy.


“Apa uangmu tak habis jika seperti itu? Kau terlihat boros dan suka menghambur-hamburkan uang namanya. Kenapa kau tak memasaknya sendiri? Dengan begitu kau bisa hemat dan makanan dijamin lebih sehat," saran Sunny.


“Aku tidak berbakat dalam hal memasak," jawab Andy.


“Bagaimana jika kita belajar masak bersama, aku yang akan mengajarimu?" tawar Sunny.


“Kau... mengajariku?"


“Tentu saja, aku bisa mengajarimu saat kita memiliki waktu luang kalau kau mau," jawab Sunny.


“Tentu aku mau," jawab Andy.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Usai membeli daging mereka membeli makanan laut, bau amis yang menyengat menyapa indera penciuman Andy.


Baunya sangat menyengat tidak hanya bau amis tapi bau kotoran hewan laut juga ikut menyapa indera penciuman Andy, membuat Andy mual dan serasa ingin muntah.


“Uhm," Andy menahan muntahannya agar tidak keluar.


“Eh, kau mual?" tanya Sunny.


“Se-sedikit." jawab Andy mencicit.


“Kau tidak pernah ke pasar tradisional, ya?" tanya Sunny penuh selidik. Andy menggeleng lemah.


Sunny hanya melongo, sungguh dia Andy benar-benar tak pernah ke pasar tradisional.


“Kau tak pernah menemani ibumu berbelanja?" tanya Sunny.


“Ah itu, itu karena rumah kami dekat pasar tradisional, jadi ibuku sering ke pasar sendirian tanpa perlu ditemani," jawab Andy.


“Bicara apa kau, mana mungkin aku menginjakan kakiku di tempat kotor dan bau begini, ini saja pertama kali," keluh Andy dalam hati.


Mereka terus berbelanja dengan Andy yang menahan mual dan muntah. Keringat dingin mengucur deras di sekujur tubuhnya.


“Ini lebih mengerikan dari pada menyaksikan pembunuhan di depan mata," batin Andy meringis.


Ia benar-benar tak tahan akan suasana dan bau pasar tradisional, karena ia tak terbiasa, maklumlah ia selama ini hanya menemani sang mommy belanja ke supermarket. Bukan berarti mommy-nya tak pernah belanja ke pasar tradisional, tentu saja pernah hanya saja dia enggan menemani dan lebih sering menyuruh sopir untuk mengantar sang mommy.


Sunny memilih beberapa bahan-bahan laut seperti ikan, cumi, kerang, udang, dan masih banyak lagi.


Andy sampai heran bagaimana Sunny bisa dengan yakin memilih semua bahan itu, siapa tahu jika bahan itu kadaluarsa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Usai membeli olahan seafood mereka pergi ke stan lain, kali ini mereka ke stan yang menjual buah-buahan.


“Andy, coba kau pilih jeruk yang kualitasnya baik!" perintah Sunny.


Ya Tuhan apa lagi ini? Dia tak begitu paham soal bagaimana membedakan jeruk yang sudah matang dan mana yang belum, baginya semua jeruk yang berwarna kuning itu berarti sudah matang, tapi bagaimana jika semua kulitnya berwarna hijau?


Andy benar-benar ingin menyerah rasanya. Ingin menangis pun air matanya tak sanggup untuk keluar.


“Andy mengapa kau belum memilih jeruknya?" tanya Sunny heran.


“Aku tidak tahu bagaimana rupa jeruk yang sudah masak, jika warnanya hijau semua seperti ini," jawab Andy dengan menggaruk tengkuknya.


Lagi dan lagi Sunny hanya menghela nafas, ya ampun Andy ini benar-benar membuatnya gemas setengah mati, ingin marah tapi ia tidak tega melihat wajah Andy.


Akhirnya dengan kesabaran yang setebal kitab, Sunny mau memberikan contoh pada Andy bagaimana memilih jeruk yang sudah masak.


Andy pun memperhatikan dengan seksama sesekali memegang dan merasakan contoh jeruk yang ditunjukkan oleh Sunny.


“Ah jadi begini bentuk jeruk yang sudah matang," batinnya senang, seperti menemukan penemuan baru.


Setelah selesai berbelanja, mereka pun pulang ke rumah dahulu sebelum ke restoran. Barang belanjaan mereka pun dibawakan oleh buruh angkut di pasar.


TBC


Visual Restoran