Rain & Sunny

Rain & Sunny
Bagian 28



Galaksi sedang pusing tujuh keliling saat ini ia harus mencari sebuah tempat yang strategis.


“Ah, Ya Tuhan aku rasanya ingin menyublim saja jika begini, dia pikir mencari bangunan itu mudah?!” gerutunya.


Jika boleh jujur, ingin rasanya Galaksi merebus sahabatnya itu lalu memberikannya pada kucing kesayangan Triton, Jiji namanya.


Antonio yang melihat raut wajah Galaksi seperti sehabis diputuskan kekasih sebanyak tujuh kali pun mengernyitkan dahi.


“Ada apa denganmu, anak muda. Mengapa kau bermuram durja, bak ditinggal kekasihmu tanpa kepastian sebanyak tujuh kali?”


“Uncle, aku sedang banyak pikiran saat ini."


“Kau itu masih lajang, masih belum memiliki tanggungan, mommy dan daddy-mu pun hidup dari perusahaan, lalu apa yang membuatmu bermuram durja begini?”


“Siapa lagi kalau bukan dia!” jawab Galaksi.


“Huh?” beo Antonio.


“Iya siapa lagi kalau bukan karena si Hujan badai halilintar,” ucap Galaksi lagi.


“Memangnya kenapa dengan anak itu?” tanya Antonio.


“Uncle bisa lihat sendiri pesannya.” ujar Galaksi sambil menyodorkan ponselnya pada Antonio.


Antonio yang membaca pesan tersebut hanya tersenyum, “Kau tahu, Nak? Dalam mengambil sebuah keputusan pasti ada konsekuensi yang harus ditanggung, dan kau mengambil keputusan untuk mengabdi pada putraku, maka kau harus siap dengan segala konsekuensinya.”


“Lalu kapan aku bisa istirahat?” tanya Galaksi.


“Kau bisa istirahat, kalau kau mau asal kau minta izin padanya, dia pasti mengizinkan,” jawab Antonio.


“Dia tidak pernah mengizinkan!” seru Galaksi kesal.


“Apa kau pernah minta izin padanya?” tanya Antonio.


“Aku sudah minta izin untuk berkencan, tapi dia tak mengizinkan, Uncle. Tega sekali, bagaimana jika aku menjadi bujang tua, karena tak pernah berkencan?” tanya Galaksi dengan wajah memelas.


“Kau memiliki kekasih?”


“Tentu saja aku punya, tapi baru saja hubunganku kandas, karena aku tak pernah ada waktu untuknya, Uncle.”


“Kasihan sekali. Aku turut berdukacita untukmu, Anak muda.”


“Memang kisah cintaku sungguh miris.”


“Silahkan berkencan, biar soal itu Uncle yang urus.”


“Sungguh?!” tanya Galaksi dengan mata berbinar.


“Iya, tapi setelah pekerjaanmu, beres.”


“Kalau begitu jangan memberiku pekerjaan,yang banyak, dan jangan memberikanku berkas setinggi gunung Fuji” pinta Galaksi.


“Uncle tak bisa berjanji soal itu. Lihat saja nanti,” ujar Antonio santai.


“Argh, Uncle menyebalkan!” pekik Galaksi kesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari ini Noe, sudah berada di perusahaan, ditemani oleh Titan, untuk sedikit menjelaskan sudah sejauh mana pekerjaan yang dikerjakan oleh adiknya itu, dengan begitu ia tinggal melanjutkannya saja.


Berkali-kali Noe memijat pelipisnya. Kepalanya serasa ditimpa beban 200 ton, berkas-berkas ini sangat membuatnya pusing.


“Aku tak mengerti, apa yang membuat Daddy betah dengan perusahaan ini. Lihat, angka-angka ini membuatku mual, perutku terasa dikocok dengan cepat,” keluh Noe.


“Baru sebentar saja sudah menyerah,” cibir Titan.


“Lebih baik untukku membaca notasi balok, dari pada membaca angka-angka yang menyiksaku ini,” ujar Noe.


“Aku juga berpikir begitu,” jawab Titan menyetujui.


“Ini semua tanggung jawab Kelinci gemas,” gerutu Noe.


“Dia memilih menjadi dokter, jika kau lupa,” Titan menimpali.


“Itu adalah pekerjaan yang sama-sama merepotkan.”


“Omong-omong soal Kelinci gemas, sepertinya dia berniat ingin berhenti menjadi dokter,” kata Noe.


“Ha, kau serius?!” seru Titan.


“Serius.”


“Demi apa?”


“Demi cintaku padamu, kemana pun kau, kan kubawa.” ujar Noe.


“Menggelikan!” cibir Titan.


“Ya, sudah kalau tak percaya,” ucap Noe.


“Aish. Eh, tapi aku penasaran, kenapa tiba-tiba ia ingin berhenti menjadi dokter!?” tanya Titan.


“Dia bilang sudah waktunya dia fokus pada perusahaan Daddy, tapi menunggu satu tanggung jawab yang harus dia selesaikan sebagai dokter, itu katanya,” jelas Noe.


“Memang ada masalah apa?” tanya Titan penasaran.


“Anak dibawah umur tak boleh mengetahui urusan orang dewasa,” jawab Noe tak lupa dengan wajah mengesalkan.


“Sialan!” umpat Titan, sementara Noe sudah tertawa terbahak-bahak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jupiter sedang fokus pada laptopnya. Ia sedang mengawasi seseorang yang dianggap mencurigakan olehnya.


“Ternyata benar, huh dia ingin berniat curang, pada salah satu markas, tak kusangka kau ternyata pengkhianat kakakku.” ucap Jupiter sembari mengunyah keripik singkong tanpa henti.


“Aku harus menghubungi, kak Galaksi.” ujarnya sambil men-dial ponsel Galaksi.


“Halo, Kak


“Sepertinya anggota kita ada yang menjadi musuh dalam selimut.”


“Maksudnya?”


“Ada yang mengambil senjata kita lalu membawanya pergi, beruntung aku sudah memasang penyadap di ponselnya kala Pak Tua itu sudah mulai curiga.”


“Apa katanya? ”


“Di sini dikatakan aku sudah berhasil mengambil senjata andalan Red Stars sesuai pesananmu, sekarang jemput aku, begitu.”


“Dasar menyusahkan, perintahkan orang-orang kita, untuk menangkap si pengkhianat, nanti malam kita eksekusi!”


“Oke baiklah. Aku akan menghubungi mereka.”


“Nanti malam aku akan menghubungi Triton untuk menjatuhkan eksekusi.”


“Heee, mengapa bukan Kak Rain?”


“Saat ini Rain sedang tidak ada di tempat. Dia sedang pergi ke suatu tempat untuk misi penebusan dosa.”


Loading...


“Maksudnya?”


“Dia sudah menyadari kesalahannya yang dia perbuat waktu itu, dan sekarang saat ini berusaha untuk memperbaiki kesalahannya.”


“Dengan cara apa, apakah dia melakukan perjalanan ke barat untuk mencari kitab suci, atau berpuasa berpuluh-puluh hari lamanya?”


“Kaupikir dia itu seorang pertapa suci, mana mungkin kakakmu yang satu itu mau melakukan hal semacam itu. Dia, kan tidak mau repot?!”


“Benar juga. Ya sudah, cepat kau hubungi Kak Triton. Aku yakin eksekusi kali ini akan lebih menyakitkan dari biasanya.”


“Dia seorang malaikat berhati iblis, itu yang Rain katakan. Maklum saja karena daddy-nya adalah seorang yang perawakannya sangat tenang tapi sebenarnya sangat bengis.”


“Ha-ha-ha... Benar juga. Ya sudah Kak, selamat bekerja, aku akan menghubungi orang-orang kita.”


“Ya.”


Sambungan terputus, Jupiter pun segera mengirim pesan untuk anak buahnya, agar segera mencari pengkhianat itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Triton sedang memijit pelipisnya, istrinya yang hamil mengapa pula ia yang mudah merasa lelah?


Hari ini ia melakukan operasi, setelahnya ia melakukan visit pasien sebagai dokter ahli bedah baru setelah itu visit pasien sebagai dokter ahli jiwa.


Sungguh melelahkan.


Dari kunjungannya tadi di bangsal jiwa, ia melihat perkembangan Mr. Lee, ya sekarang dia tidak sehisteris yang sebelum-sebelumnya, dia sudah mau berkomunikasi walaupun hanya beberapa kata saja.


Ponsel Triton berbunyi, tertera nama Galaksi, yang membuat Triton mendengus kesal, dengan cepat ia menjawab panggilan dari Galaksi.


“Nomor yang Anda tuju, tidak dapat dihubungi, silahkan coba beberapa saat lagi atau tinggalkan pesan,” ujar Triton menirukan suara operator.


“Terdengar seperti orang yang tengah menikmati gaji buta,” balas Galaksi di seberang telepon.


“Bicara asal lagi kujahit mulutmu!” sentak Triton.


“Aku ingin bicara padamu, ini penting.”


“Ada apa?”


“Ada pengkhianat dalam kelompok kita, saat ini Rain sedang tidak ada di tempatnya karena sedang misi penting, jadi aku mau kau yang menggantikan posisi Rain untuk dunia gelapnya.”


Triton diam tak bersuara. Pekerjaan ini lagi, sampai kapan pun ia pasti terjebak dalam dunia seperti ini.


“Kau tahu, Galaksi? Istriku sedang hamil saat ini.”


“Eh, sungguh?”


“Rasanya aku takut sekarang jika mengambil pekerjaan seperti ini. Aku tiba-tiba memikirkan karma yang akan diperoleh anakku kelak, karena perbuatan ayahnya.”


“Oh, ayolah kau takkan bisa keluar dari sarang iblis ini saudaraku. Daddy-mu saja seorang mafia.”


“Itu dia masalahnya. Hidupku sudah terlalu kotor.”


“Lupakan ketakutanmu sebentar saja. Kau harus segera memimpin Red Stars. Mungkin di luar sana banyak orang yang berpikir bahwa Rain adalah orang kejam yang tak punya hati, tapi kau yang paling bengis di antara kami.”


“Baiklah nanti malam aku akan memimpin kalian.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam harinya Red Stars sudah berada markas mereka, dengan menggunakan topeng mereka beraksi melakukan eksekusi pada pengkhianat.


Ya pengkhianat tersebut diikat dengan tali diantara dua tiang dan kemudian mereka mulai dengan sebuah penyiksaan yang mereka lakukan.


Sebelumnya pengkhianat itu disiksa terlebih dahulu secara keji. Itu semua adalah ide dari Triton.


Hingga, akhirnya pengkhianat itu pingsan dan kondisinya sangat mengenaskan.


Anak buah Rain yang melihat Triton seperti kesetanan saat menyiksa pengkhianat tersebut hanya bisa menelan ludah mereka.


Triton sangatlah mengerikan. Apa lagi setelah ia tahu jika senjata andalan Red Stars rakitannya dibawa kabur dan diberikan oleh musuhnya.


“Kau seperti iblis sungguhan. Sangat mengerikan,” komentar Galaksi.


“Diam, aku sangat lelah hari ini,” sentak Triton.


“Ah, kau tahu sebuah bangunan di daerah xxx?” tanya Galaksi.


“Untuk apa?” tanya Triton.


Galaksi membisikkan sesuatu pada Triton yang membuat Triton menggerutu, “Aish, Dasar menyusahkan!”


TBC