Rain & Sunny

Rain & Sunny
Bagian 15



Seminggu kemudian, Rain dan Galaksi telah pulang dari Rusia setelah meninjau pembangunan unit apartemen mewah di negara tersebut.


Rain masih merasa kesal dengan penolakan Sunny tersebut, ia segera memanggil seseorang untuk melancarkan rencananya secara perlahan.


“Halo Marcus, kau sibuk hari ini?"


“Tidak ada, memangnya kenapa, ah aku tahu, bau-baunya kau seperti ingin meminta pertolongan."


“Sialan kau, jika kau lupa, kau masih bekerja untukku."


“Baiklah-baiklah, dasar Tuan sensitif. Memang ada pekerjaan apa lagi?"


“Aku tidak bisa menjelaskannya di telepon. Bisakah kau kemari?"


“Setelah aku menyelesaikan battle game-ku dengan Jupiter."


Rain hanya mendengus, temannya ini walau sudah berumur terkadang suka bertingkah layaknya anak kecil.


“Baiklah ajak pula Jupiter kemari. Kalian mungkin akan bekerjasama nanti!"


“Iya-iya. Sudah ya aku tutup dulu, kau mengganggu battle kami, Kak."


Lalu Marcus memutuskan sambungan teleponnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu di sebuah apartemen minimalis namun terkesan mewah terdapat dua pria tampan yang masih asyik dengan kegiatan mereka.


“Hei Jupiter, kita mendapatkan tugas dari pak tua tukang atur itu," ujar Marcus.


“Tugas apa memangnya?"


“Entahlah aku juga tidak tahu, kita harus bergegas menuju kantornya atau kita akan kehilangan kepala kita nanti." ujar Marcus sambil beranjak dari tempat tidur.


“Tunggu aku!" seru Jupiter, kemudian ikut menyusul Marcus.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jupiter dan Marcus telah sampai di kantor bergegas menuju ruangan Rain. Beberapa pegawai wanita melirik mereka secara terang-terangan.


“Kau lihat itu, Kawan? Dia sangat sexy," ujar Jupiter.


“Terserah aku tidak tertarik dengan para bibi-bibi," jawab Marcus cuek.


Tiba di depan ruangan Rain, mereka disambut oleh raut wajah Galaksi yang terlihat kusut.


“Hai, Kak. Ada apa dengan wajahmu, seperti habis diterjang badai saja?" sapa Marcus.


“Aku merasa akan gila sebentar lagi, lihat pekerjaan yang menggunung ini, Rain sungguh kejam, dia melimpahkan ini semua padaku!" pekik Galaksi frustasi.


“Turut berdukacita." ujar keduanya dan langsung masuk ke ruangan Rain.


“Kami datang, Kak!" seru keduanya seperti bocah kembar.


“Oh duo bocah kematian sudah datang rupanya, duduklah, aku akan menyelesaikan pekerjaanku terlebih dahulu!" ujar Rain.


Bukannya duduk, mereka malah menjarah kulkas Rain memastikan apakah ada yang bisa dimakan atau tidak.


“Mana kue kesukaanku, seingatku kau masih menyimpannya?"


“Kue itu sudah lama habis, Tea dan Kak Angelo yang memakannya, lagi pula kue itu sudah lama sekali, kau tidak berniat memakan kue basi, kan?" tanya Rain matanya masih terfokus di layar monitor.


“Kalau begitu, belikan aku tiramisu!" ucap Jupiter dengan nada perintah.


“Kurasa aku akan menyekolahkanmu ke sekolah tata krama dalam waktu dekat," ujar Rain.


“Maklum saja, Kak, saat ia lahir ia tidak diberikan pelajaran tata krama, karena dia lahir atas kehendak iblis, bukan kehendak Tuhan," sahut Marcus.


“Kalau begitu kau juga atas kehendak iblis juga karena kita itu sama, apa kau tak pernah berkaca?" tanya Jupiter sengit.


“Sudahlah sesama anak iblis jangan saling bertengkar, karena itu percuma." kata Rain sambil melangkah menuju sofa.


“Jadi tugas apa yang akan kami lakukan?" tanya Marcus.


“Aku ingin kau menyamar dan masuk sebagai penyusup ke sebuah perusahaan, nanti kau akan bekerjasama dengan Jupiter."


“Wah, aku menjadi penyusup?!" pekik Marcus.


“Kita akan masuk di perusahaan mana?" tanya Jupiter.


“Perusahaan milik Sullivan."


“Tunggu, bukankah perusahaan itu berada di bawah naungan perusahaan keluargamu, Kak?" tanya Jupiter, dan Rain hanya mengangguk.


“Salah satu dari kalian bertugas memanipulasi data keuangan perusahaan, buatlah keuangan perusahaan itu terus merosot secara tidak wajar, dan jika masalah ini sudah terjadi, pastikan putri mereka menjadi kambing hitam, seolah-olah putri mereka yang menjadi dalang merosotnya keuangan perusahaan."


“Penggelapan dana perusahaan?" tanya Marcus. Rain hanya tersenyum mengangguk.


“Kalian bisa melakukannya, kan?" tanya Rain.


“Kami pasti bisa, tapi apa itu tidak keterlaluan?" tanya Jupiter.


“Kurasa tidak, sudah itu saja tugas untukmu sisanya biar aku yang urus, kalian keluarlah aku akan kembali bekerja!" perintah Rain.


Marcus dan Jupiter keluar dari ruangan Rain dengan wajah lesu, entahlah mereka merasa tugas mereka ini mempunyai tanggungjawab dan dosa yang besar.


“Apa perusahaan Sullivan mempunyai masalah dengan Jonathan?"


“Aku tak mengerti, coba saja tanya Kak Galaksi."


“Kak Galaksi," panggil Marcus.


“Kenapa?"


“Apa perusahaan Jonathan sedang ada masalah dengan perusahaan Sullivan?"


“Sepertinya tidak. Kenapa kalian bertanya?" tanya Galaksi keheranan, namun sedetik kemudian kedua matanya membola.


“Aku permisi sebentar anak-anak, ada urusan dengan Rain yang harus aku selesaikan." ujar Galaksi kemudian buru-buru masuk ke ruangan Rain sambil membanting pintu.


BRAK...


“Kau pikir di mana sopan santunmu?!"


“Lupakan soal sopan santun, aku ingin bicara serius padamu."


“Apa yang ingin kau bicarakan?"


“Rain kau tidak serius menghancurkan perusahaan Sullivan karena masalah yang itu, bukan?"


Rain hanya tersenyum tipis, “Aku tak menghancurkan perusahaan mereka, hanya memberi mereka pelajaran saja."


“Demi Tuhan, Rain. perusahaan tidak ada kaitannya dengan masalah pribadimu!" seru Galaksi kesal karena tingkah Rain yang semakin menjadi-jadi.


“Kau sangat mengenalku dengan baik Galaksi, jadi jangan paksa aku mengatakannya berulang kali," ujar Rain.


“Terserah aku sudah memperingatkanmu, Rain, jangan sampai kau menyesal nantinya!" sahut Galaksi kemudian keluar dari ruangan Rain.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi ini Sunny sudah berada di sebuah Cafe. Ia sedang ingin sarapan di luar. Ia memesan sandwich favoritnya, saat sedang makan santai, ia dikejutkan dengan kedatangan Aurora yang tiba-tiba duduk dihadapannya.


“Hai Sunny," sapanya ramah.


“Kak Aurora?"


Aurora langsung duduk di depannya sambil menunggu kopi pesanannya siap, dia berbicara pada Sunny untuk sekedar basa-basi. Hingga akhirnya ia bicara masalah inti dia menemui Sunny.


“Kudengar kau baru saja dilamar beberapa hari yang lalu?"


“Bagaimana Kakak bisa tahu, seingatku aku tak pernah cerita pada Kakak?" tanya Sunny keheranan.


“Anggap saja aku memiliki mata batin, jadi aku bisa mengetahui semuanya," jawab Aurora. Obrolan mereka terhenti sejenak karena seorang pelayan cafe datang membawa pesanan Aurora.


“Menurutku sudah bagus kau menolaknya, ini sudah bukan jaman Siti Nurbaya lagi, bukan? Dan perlu kau ketahui satu hal, Rain Jonathan itu seorang player. Dia memiliki wanita di mana-mana, selain itu dia juga ringan tangan—,"


—dia juga akan meninggalkanmu jika dia sudah merasa bosan, bahkan dari cerita yang kudengar dia kerap membawa pulang seorang wanita untuk bermalam bersama, parahnya setiap harinya wanita yang ia bawa selalu berbeda," jelas Aurora.


“Apa benar dia sosok yang seperti itu?" tanya Sunny.


“Tentu saja! Ini bukan lagi sebuah rahasia, semua orang yang mengenal Rain Jonathan pasti juga akan berpendapat demikian, sudah jadi rahasia umum jika Rain Jonathan adalah seorang player yang memiliki hasrat seksual yang tinggi. Bahkan ada wanita yang sempat hamil anaknya namun ia tak bertanggungjawab," jelas Aurora sedikit hiperbola.


“Ia sampai menghamili wanita?" tanya Sunny.


“Ya, dan beberapa dari mereka dipaksa oleh Rain untuk menggugurkan kandungannya," jawab Aurora.


“Mengerikan apa dia tidak punya hati?" ujar Sunny bertanya-tanya.


“Entahlah tapi memang kenyataannya seperti itu." sahut Aurora sambil menyeruput kopinya.


“Begitu, kalau begitu aku pergi dulu, ini sudah hampir terlambat. Terima kasih atas informasinya, Kak!" ujar Sunny sambil bergegas menuju kasir kemudian menuju ke kantor.


Usai Sunny meninggalkan Cafe, Aurora menyeringai, ”Tidak ada yang boleh memiliki Rain, Rain hanya milikku."


TBC