Rain & Sunny

Rain & Sunny
Bagian 21



Hari baru akan dilewati oleh Sunny hari ini. Hari dimana ia bukan lagi seorang Sullivan semenjak papanya mengusirnya dari rumah.


Pagi ini ia memasak menu seadanya untuk sarapan ia belum bisa melamar pekerjaan saat ini karena masih banyak yang harus diurus.


Ditengah kesibukannya, Sunny tidak lupa membuat surat lamaran pekerjaan, untuk ia masukan nanti di perusahaan-perusahaan lainnya.


“Selamat pagi Sunny, mulai hari ini kau harus berjuang sendiri untuk hidupmu, tak ada lagi papa dan mama di sampingmu. Semangat!" gumam Sunny menyemangati diri sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi ini adalah pagi yang cerah untuk Rain tak ayal senyum sejuta watt terukir di wajahnya yang terkenal dingin dan kaku itu, sampai-sampai mommy dan daddy-nya dibuat heran.


“Kau baru saja memenangkan tender, Honey?" tanya Vincentia.


“Bukankah aku selalu menang tender, Mom? Hal itu sudah biasa untuk kita, kan?" tanya Rain.


“Apa kau memiliki calon menantu yang hendak dikenalkan pada kami?" tanya Antonio juga.


Mendengar pertanyaan sang daddy di pagi hari membuatnya murung sekaligus merasa kesal.


“Kenapa diam? Huh pasti belum punya, tak kusangka ternyata kau sangat payah jika dalam urusan wanita," cibir Antonio.


“Tidak ada wanita yang baik dan pengertian selain Mommy. Jadi jika Daddy ingin memiliki menantu sediakan dahulu wanita yang seperti Mommy," jawab Rain.


“Mommy ragu jika ada yang seperti itu di dunia ini selain Mommy," timpal Vincentia.


“Kau menyukai ibumu sendiri, dasar anak durhaka?!"


“Bukan seperti itu konsepnya, Ahjusshi. Aku, kan hanya bilang jika ada yang mirip seperti Mommy," jelas Rain.


Antonio hanya bisa mendengus dan membatin karena kelakuan sang putra yang semakin hari semakin membuatnya hipertensi.


“Entah mengapa aku menyesal karena tak memiliki anak lagi," ujar Antonio.


“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, mempunyai adik, enak saja?!" protes Rain.


Vincentia hanya tersenyum menyaksikan perdebatan antara suami dan anaknya yang sama sekali tidak berfaedah.


“Lagi pula seharusnya Daddy bersyukur memiliki anak sepertiku, aku anak yang mandiri, cerdas, tampan, gagah, dan aku masih nampak imut serta menggemaskan," kata Rain lagi.


Antonio membuat gestur ingin muntah sedangkan Vincentia hanya tersenyum geli. Ya, hanya di depan orang tuanya sajalah Rain bisa bersikap manis dan menggemaskan begini.


“Lalu kau ini kenapa senyum-senyum tidak jelas begitu?" tanya Antonio.


“Aku hanya sedang dalam suasana baik saja, apa itu tidak boleh?!" tanya Rain sedikit sewot.


“Honey, kau tahu, kan bila putra kita itu sangat minim ekspresi, biarkan dia tersenyum. Setidaknya aku masih bisa mengenali jika anakku benar-benar seorang manusia, bukan robot," kata Vincentia.


“Mommy, Rain masih manusia, bukan Doraemon," rajuk Rain.


“Sudah makan sarapanmu, nanti kau terlambat!" perintah Vincentia.


Mereka makan sarapan dengan tenang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sunny coba mencari-cari lowongan pekerjaan, yang sekiranya cocok untuknya, “Semoga saja ada yang masuk dan cocok."


Ya Sunny sudah menemukan lowongan kerja yang cocok untuk dirinya. Ia melamar pekerjaan di salah satu perusahaan, bagian desain grafis.


Ya, ia berusaha semaksimal mungkin agar dirinya mendapatkan pekerjaan yang ia inginkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rain sudah sampai kantor. Kaki jenjangnya melangkah menuju sebuah lift. Dari jauh Aurora melihat kedatangan Rain, senyum misterius tersungging di wajahnya yang cantik.


Dia berjalan mendekati Rain, dengan sangat tergesa-gesa dan kakinya sempat tergelincir hendak jatuh, beruntung Rain dengan sigap menahan pinggang Aurora agar pantatnya tak menyentuh lantai. Sedangkan tangan Aurora secara reflek memegang erat lengan kokoh Rain.


Mata Aurora yang semula terpejam mulai terbuka dan alangkah terkejutnya, ia langsung disuguhi oleh mata indah Rain Jonathan yang terlihat tajam.


Cukup lama Aurora terdiam karena merasa terpesona. Sedetik kemudian dengan kejamnya Rain melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Aurora, sehingga—,


BRUK!


Ya, Aurora jatuh dengan mengenaskan di lantai, tapi Rain sama sekali tidak peduli.


Auch!" erang Aurora.


“Presdir, mengapa kau tega menjatuhkanku?"


“Kaupikir menahan tubuhmu itu tidak berat, lagi pula berjalanlah dengan benar, jangan berlarian seperti itu. Kau kira ini adalah taman kanak-kanak?!" tanya Rain sinis.


Aurora hanya bungkam meski dalam hati ia menggerutu dan memaki Presdir yang tak pernah meliriknya dan tak pernah peka akan perasaannya.


Ia berjalan dengan cepat masuk lift dan meninggalkan Aurora yang masih belum beranjak dari lantai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Galaksi sudah masuk ke ruangan Rain dan membacakan agenda yang harus dilakukan Rain pada hari itu.


“Baiklah kau boleh kembali ke mejamu," ujar Rain. Galaksi hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata.


“Dia masih marah padaku?" gumam Rain.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Triton melihat kondisi Mr. Lee. Tatapan matanya kosong, tak jarang Mr. Lee mengeluarkan air mata walau tak ada suara isakan.


Triton berinisiatif mengajak Mr. Lee berbicara.


“Selamat pagi Mr. Lee, bagaimana kabar Anda hari ini?" tanya Triton.


Tak ada sahutan, hingga akhirnya ia bersuara, “Dia pembunuh, dia pembunuh, dia pembunuh!" serunya.


“Mr. Lee, mohon tenanglah. Dia tidak ada di sini, kau aman sekarang," ujar Triton. Hatinya meringis, melihat kondisi Mr. Lee yang sudah terganggu mentalnya.


Triton terpaksa menyuntikkan obat rutin untuk penyembuhan Mr. Lee, maka saat ia sudah sembuh, semakin cepat dirinya menendang Mr. Lee dari rumah sakit ini.


“Tidak menyangka akan sesulit ini, entah kenapa aku menyesal terlibat ini semua," keluh Triton.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aurora masih menggerutu di mejanya, perlakuan Rain benar-benar membuatnya malu.


“Kau ini kenapa?" tanya salah satu karyawan yang satu divisi dengan Aurora.


“Aku sedang kesal!" seru Aurora.


“Pagi-pagi sudah kesal. Hentikan kekesalanmu itu, kerjaanmu masih banyak yang belum beres dari kemarin, kau ini sebenarnya niat bekerja tidak, sih?!" komentar karyawan lain.


“Aku bekerja kok. Kalian saja yang tak pernah melihatnya!" elak Aurora.


“Pembohong. Kami tahu jika kau itu tak serius dalam bekerja, kau hanya sibuk mengkhayal dan berfantasi liar dengan Presdir sebagai obyek fantasimu. Lagi pula seharusnya kau sadar diri, kalian itu berbeda kasta, mana mau Pak Rain dengan wanita sepertimu?" cibir rekannya pada Aurora.


“Kaupikir kau juga pantas bersanding dengan Presdir?!" marah Aurora.


“Kami menyadari bahwa kami juga tidak pantas, oleh karena itu, kami tidak berambisi mengejar Pak Rain seperti dirimu, yang sangat gencar mengejar meski sudah ditolak beberapa kali," jelas karyawan lain.


Skakmat, Aurora tak bisa membela diri lagi. Ia hanya bisa menahan kesal dan malu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tiga Minggu sudah berlalu, hari itu adalah hari yang menyedihkan bagi Sunny, karena ia tidak lolos interview kerja. Ya, Sunny ditolak di perusahaan tempat ia mendaftar.


“Tak apalah aku masih ada kesempatan di tempat lain, beruntung aku mengajukan lamaran ke beberapa perusahaan. Semoga saja rezekiku ada di salah satu perusahaan itu."


Hingga saat ini Sunny belum satu pun mendapatkan pekerjaan, sebenarnya ia merasa khawatir dan putus asa, karena belum mendapat panggilan interview juga, akan tetapi ia tetap harus optimis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Titan sedang berada di perusahaan keluarganya saat ini. Ia sedang pusing tujuh keliling, berkasnya terus saja menumpuk sedari tadi. Mungkin ia akan menua lebih cepat bahkan sebelum ia menikah. Salahkan kakaknya yang tidak tahu diri, melemparkan tanggung jawab pada orang lain seenaknya.


“Aku yakin di wajahku tumbuh lagi garis halus, ini semua gara-gara Kakak, aku sedang lelah mengurus agensi, ditambah lagi mengurus ini," gerutu Titan.


“Hai, Sayang," sapa Hera pada kekasihnya.


“Oh, hai. Kau membawa makan siang untukku?" tanya Titan.


“Tentu, aku tahu jika kekasihku ini sedang kesal setiap harinya karena pekerjaan yang berlipat ganda, maka dari itu aku sengaja membawa bekal kemari," jawab Hera.


“Kau yang terbaik, Sayang!" seru Titan senang.


“Kau sudah memikirkan usul kakakmu?" tanya Hera.


“Usul yang mana?" tanya Titan balik.


“Mencari orang yang mampu mengurus perusahaan orang tuamu. Aku tahu kau lelah jika menanggung semuanya. Kakakmu pun juga berpikiran begitu, maka dari itu Triton menyarankan mencari seseorang yang bisa mengelola perusahaan daddy," jelas Hera.


“Aku mengerti, tapi kau juga tahu bukan, jika mencari seseorang itu tidak mudah? Apa lagi diberi tanggung jawab besar seperti ini. Aku takut jika aku salah memberi kepercayaan kepada seseorang," jawab Titan.


“Triton akan mencari seseorang, instingnya lebih tajam daripada kalian semua, meski dia lebih banyak diam tapi Triton itu lebih peka sekaligus berbahaya. Itu sebabnya Rain tidak berani macam-macam terhadap kelinci liar itu," jelas Hera.


“Dari mana kau tahu jika Triton akan mencari seseorang? Aku tidak yakin orang itu adalah orang baik-baik. Kau tahu, kan? Bahkan tangan kanannya tersebut tega mengkhianatinya," jelas Titan.


“Akan tetapi kau juga harus tahu bahwa Triton juga yang membunuh orang itu karena kebusukannya sudah tercium," balas Hera.


Titan mengangguk membenarkan. Ya, Triton memang menghabisi nyawa seseorang yang tega mengkhianatinya atau menusuknya dari belakang.


“Kalau begitu kita segera makan bekal kita saja," ujar Titan.


TBC