
Rain mendengus merasa kesal pada perilaku ibu hamil di depannya ini.
“Apa suamimu sudah bangkrut?" tanya Rain pada Galatea.
“Tidak... dia tidak bangkrut dia masih kaya, hanya saja bayi kami menginginkan makanan mahal di tempat Pamannya ini. Ah, bayiku memang cerdas, sudah mengetahui jika Pamannya ini merupakan lumbung uang berjalan."
“Konyol, jika kau bertingkah seperti ini, itu sama saja membuat suamimu seperti seorang pengangguran, tidak bisa memenuhi masa mengidam istrinya, hingga istrinya meminta pada orang lain," ujar Rain sarkas.
Galatea tetap tak peduli dengan ucapan Rain dia tetap melangkah menuju lemari pendingin yang ada di dapur mini.
“Wah, aku tidak tahu jika ada kue di sini!" pekik Galatea senang.
“Jupiter akan mencekikmu, jika kau menghabiskan makanannya."
“Anak tiang itu tidak akan berani macam-macam denganku, lagi pula aku hanya minta satu."
“Adakah minuman dingin, Sayang?" tanya Angelo. Oh sepertinya dia juga ikut tertular virus teman tidak tahu diri.
“Bisakah kalian keluar dari ruanganku, entah kenapa sejak kalian datang ruangan ini jadi terasa sesak," pinta Rain.
“Kau mengusir kami, sopan sekali, kau?!"
“Tidak peduli, silahkan keluar. Pintu keluar ada di sebelah sana, dan aku tidak suka jika ucapanku dibantah!" Rain mengusir dengan tegas kali ini.
“Kurasa dia sudah menunjukkan tanduknya, Sayang," bisik Angelo.
“Tunggu, kueku bahkan belum habis," jawab Galatea sambil cemberut.
Angelo hanya pasrah dia mengelus surai hitam legam milik istrinya, bermesraan di depan seseorang yang tak memiliki kekasih, terkadang membuat orang lain terasa ingin muntah.
“Kalian seperti anak remaja yang sedang mengalami masa pubertas."
“Bilang saja jika kau iri dengan kami, salah sendiri menunda punya pasangan," cibir Galatea.
“Aku memiliki wanita impian yang akan kujadikan sebagai seorang istri," jawab Rain congkak.
“Mau bertaruh, Sayang?" tanya Galatea pada suaminya.
“Bertaruh apa?"
“Aku berani bertaruh jika wanita impiannya tidak akan menerima Rain menjadi pasangan hidupnya."
“Sayang, jangan begitu. Pasti ada seseorang yang mau menerima dia dengan mudahnya, kau tahu, kan jika Rain itu kaya raya, siapa wanita yang berani menolaknya?"
“Pasti ada, aku jamin itu. Siapa yang betah dengan lelaki dingin dan juga arogan macam dia?! Aku yakin semua wanita pasti akan mundur secara perlahan karena merasa tak sanggup hidup satu atap dengannya."
“Akan kupatahkan ucapanmu itu, Nenek Sihir. Tidak ada yang mampu menolak pesona seorang Rain Steve."
“Baiklah kita buktikan, dan jangan memanggilku Nenek Sihir, sialan kau!" pekik Galatea kesal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah Galatea dan suaminya pulang, Rain hanya memijit kepalanya yang mendadak pening. Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya.
Ia menelepon Galaksi untuk membuatkan kopi untuknya.
“Akhir-akhir ini kau selalu mengeluh sakit kepala dan meminta secangkir kopi sebagai obatnya, terlalu banyak kopi tidak baik untuk kesehatanmu, Rain."
“Terima kasih atas perhatianmu, istriku," ujar Rain dengan mata terpejam.
“Menjijikan. Lebih baik aku menjadi suami dari anjing kecil peliharaanku dari pada menjadi istrimu, aku masih straight, kau tahu?"
“Akan tetapi perhatianmu padaku yang kau tunjukkan sudah seperti seorang istri yang peduli pada suaminya, dan omong-omong soal orientasi, aku juga masih straight."
“Baru saja aku mendapat telepon dari Tuan Besar."
“Tumben?"
“Anda diperintahkan untuk pulang kekediaman utama hari ini."
“Tidak biasanya, ada apa memangnya?"
“Beliau tidak mengatakan apa pun lagi selain menyuruh Anda pulang ke kediaman utama, Presdir."
“Baiklah. Semoga saja ini bukan pertanda buruk."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sunny sedang menyeduh Matcha Latte di ruangannya, tiba-tiba Mr. Kendrick memasuki ruangannya.
“Anak Papa sedang bersantai rupanya?"
“Ini jam istirahat Papa. Aku hanya sedang menikmati me time-ku dengan meminum Matcha Latte."
“Papa bangga padamu, kau sudah bekerja begitu keras."
“Ini semua aku lakukan untuk Pangeranku, cinta pertamaku."
Papanya hanya mengelus surai Sunny dengan sayang.
“Kau tidak lupa, kan untuk acara perusahaan kita besok?"
“Tentu aku tidak akan melupakannya, Papa."
“Papa harap Papa bisa melihat Princess kesayangan Papa di hari yang penting besok."
“Aku akan berusaha tampil di depan banyak orang sebaik mungkin."
“Kalau begitu selamat beristirahat. Papa akan kembali ke ruangan Papa." setelah mengatakan itu Mr. Kendrick keluar.
Sunny hanya memandang pemandangan di belakangnya. Pemandangan gedung-gedung yang menjulang tinggi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tidak biasanya Rain pulang untuk makan siang di kediaman utama. Ketika ia masuk pun sudah disambut seruan mommy-nya.
“Akhirnya putraku telah kembali, setelah lama menghilang dan tersesat entah di gua mana?!" ujar Yang Mulia Ratu Jonathan.
Rain memutar bola matanya. Ya Tuhan apakah mommy dan daddy-nya itu bisa bersikap layaknya orang tua normal?
Apakah mungkin dia tertukar dengan bayi lain? Jika benar begitu, ingatkan Rain untuk tes DNA nanti sepulang dari sini.
“Aku mampir sebentar untuk makan siang buatan mommy ku yang paling cantik jelita ini."
“Ah, kau sama saja dengan daddy-mu. Bermulut manis, Mommy, kan jadi tersipu," ujar Vincentia dengan wajah memerah.
“Aku tidak pernah bermulut manis dengan wanita lain selain Mommy, tidak seperti Daddy."
Rain bersikap tak acuh saat Antonio menyindirnya.
“Ayo Mom, Rain sudah lapar. Tinggal saja Daddy." Rain menarik pelan mommy-nya, untuk bergegas ke ruang makan dan meninggalkan sang kepala keluarga.
“Ya, Aish!" kesal Antonio. Putranya sangat kurang ajar sekali memonopoli istrinya.
“Apa saat membuat Rain aku salah tahapan, kenapa dia bisa kurang ajar begitu?" gumam Antonio kemudian bergegas menyusul anak dan istrinya ke ruang makan.
Di meja makan telah tersaji menu favorit Rain. Mata Rain berbinar melihatnya. “Wah!"
“Nah, Mommy sudah memasakkan menu kesukaanmu, Sayang. Sekarang makanlah!"
“Tanpa diperintah dua kali aku akan menghabiskan masakan terlezat di dunia ini, Ratuku."
Sedangkan Antonio hanya melirik sinis. Sejujurnya ia merasa cemburu dengan sang istri yang terlalu memperhatikan putranya dan mengabaikan dirinya.
“Dasar bayi besar!"
Rain diam saja, hanya membalas dengan pandangan congkak, karena berhasil merebut perhatian mommy-nya dari sang daddy.
Mereka makan dengan khidmat. Walaupun mereka kaya raya, tapi untuk urusan perut Nyonya besarlah yang memasak untuk anak dan suaminya.
Para maid hanya menghidangkan di meja makan saja.
“Bagaimana kabar perusahaan?" tanya Antonio memulai obrolan.
“Perusahaan kita baik-baik saja. Ada pula yang menjalin kerjasama beberapa minggu ini."
“Kau selalu cakap dalam bekerja, Daddy bangga padamu."
Rain hanya tersenyum tipis kemudian melanjutkan makan siangnya.
“Malam nanti datanglah lagi kemari. Mommy akan memasakkan lagi untukmu," ujar Vincentia.
“Tentu. Semoga aja aku tidak lembur hari ini."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah makan siang Rain kembali ke kantornya.
“Presdir, ada dokumen dari tim Humas yang harus kau tandatangani. Aku meletakkannya di meja," ujar Galaksi.
“Ya, baiklah." jawab Rain sambil masuk ke ruangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di sebuah rumah sakit tepatnya di ruang kerja dokter ahli jiwa sedang ada kehebohan.
Beruntung saat ini tengah memasuki waktu istirahat, jika tidak seorang wanita yang sedang bercerita dengan heboh pada seorang dokter itu pun pasti akan banyak yang mengira jika dia pasien rumah sakit jiwa.
“Pokoknya aku kesal dengannya, ayolah kita ini sudah bersahabat lama, masa dia tak bisa menyambutku dengan baik?!" kesal Galatea.
“Kita bersahabat bukan sehari, dua hari, Tea. Seharusnya kau paham jika sifatnya seperti itu, bahkan mungkin sejak dia dilahirkan ke dunia," jawab Triton berusaha tenang dan sabar.
Tidak mungkin juga dia langsung membentak, jika ada yang memergokinya pasti akan disangka sudah gila dan statusnya yang menjadi dokter ahli jiwa akan turun kelas menjadi pasien.
“Apakah dia tidak memiliki hati?" tanya Galatea dengan pandangan kosong.
“Aku juga tidak tahu, aku belum pernah membedah tubuhnya untuk memeriksa organ-organnya apakah lengkap atau tidak," jawab Triton asal.
Triton merasa jengah dan ia hanya melirik Angelo yang sedang duduk di sofa sambil makan keripik kentang seolah-olah tidak ada yang aneh di ruangan itu.
“Kapan pernikahanmu?" tanya Galatea.
“Masih beberapa bulan ke depan."
“Kau sudah mengenalkannya pada orang tuamu?"
“Tentu saja dan aku juga sudah beberapa kali makan di rumah calon istriku," jawab Triton.
“Tak kusangka kau akan menjadi saudara kulkas 1000 pintu itu," ujar Galatea.
“Mereka hanya sepupu tidak perlu cemas, kami juga sedang mempersiapkan segalanya untuk pernikahan kami."
“Bilang pada calon istrimu untuk membunuh sepupunya, aku pulang dulu!" ujar Galatea berpamitan.
“Akan aku sampaikan," jawab Triton.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya Rain pulang kembali ke kediaman utama, untuk memenuhi permintaan sang Mommy.
“Kau sudah pulang, Boy?" tanya Vincentia. Rain hanya mengangguk.
Rain mengikuti mommy-nya bergabung di ruang makan. Menu malam ini ada bakso ikan Capcay udah dan ayam gochujang.
Mommy-nya sangat luar biasa jika itu urusan dapur.
Mereka segera menyantap hidangan makan malam yang lezat itu. Rain sangat senang mommy-nya sangat mengerti dirinya.
Setelah makan malam, Antonio membuka obrolan dengan sang putra
“Besok kau gantikan Daddy-mu ini," ujar Antonio.
“Gantikan apa?" tanya Rain.
“Datanglah ke acara ulang tahun perusahaan milik Sullivan. Perusahaan mereka masih dibawah naungan perusahaan kita jika kau lupa."
“Sullivan?" beo Rain, tak lama sebuah senyum tipis tercetak di wajahnya. Kau teringat sesuatu Tuan Muda?
“Baiklah, kalau begitu, tapi memangnya Daddy akan ke mana, apa ada urusan kantor juga?"
“Daddy akan pergi dengan mommy-mu tentu saja."
“Ke mana, apakah perjalanan bisnis?"
“Bulan madu, siapa tahu kau kita masih memiliki peluang dan kau masih bisa memiliki adik bayi," jawab Antonio tanpa dosa.
“Aku tidak mau adik!" teriak Rain kemudian beranjak meninggalkan daddy-nya.
TBC