
Hubungan Sunny dan Andy terus berlanjut. Kini keduanya semakin dekat walaupun belum mengutarakan perasaan satu sama lain.
Terutama Sunny, dia merasa ragu, apakah Andy akan memiliki perasaan yang sama padanya jika ia jujur pada Andy akan perasaannya.
Akan tetapi jika dilihat dari beberapa waktu kebelakang, Andy sangat perhatian padanya, ya hanya padanya. Selama ini ia tak pernah melihat Andy bersama wanita lain. Sekalipun ada pelanggan wanita, ia pun tak pernah mencoba tebar pesona.
Jadi bolehkah dirinya berbangga hati karena merasa dispesialkan oleh Andy?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain Andy pun juga sama gelisahnya seperti Sunny. Ia benar-benar sudah jatuh hati dengan Sunny.
Apa lagi setelah kejadian kemarin, ya ajakan Sunny untuk mengunjungi Panti asuhan benar-benar membuka mata hatinya, ternyata masih banyak orang yang kurang beruntung, dan masih banyak yang membutuhkan uluran tangan untuk meringankan beban mereka.
Dari kunjungannya kemarin Andy untuk pertama kalinya mengucap syukur kepada Tuhan, bahwa ia masih bisa hidup layak dan berkecukupan.
Kembali ke permasalahan perasaan dirinya dan Sunny. Jika ia menyatakan perasaannya sekarang, apa Sunny akan menerimanya, atau justru terlalu cepat?
“Ternyata mengejar cinta itu sulit sekali, sangat berbeda saat berada di club, kita tak perlu bersusah payah mencari, para perempuan itu sudah bersedia melemparkan dirinya dan membuka kakinya dengan senang hati, bahkan tanpa diminta,” gumam Andy.
Ingatkah Andy bahwa Sunny dan para perempuan itu berbeda kelas?
“Akan tetapi bukankah perempuan itu butuh yang namanya kepastian, jadi tidak salah, kan jika aku menyatakan perasaanku, sekarang?” gumam Andy seraya berpikir.
Ya, aku akan mengutarakannya nanti.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam sebuah mobil van ada 3 orang anak yang sedang duduk ketakutan diapit oleh beberapa orang dewasa.
Entah ke mana orang dewasa tersebut membawa. Bahkan salah satu anak kecil itu sudah menangis.
“Bisakah, kau diam?!” sentak orang dewasa itu pada anak tersebut. Anak yang tengah menangis tersebut meremat tangan anak satunya.
Tak lama kemudian mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di sebuah rumah kosong. Mobil pun berhenti dan mereka turun ketiga anak kecil itu digiring memasuki rumah tua yang kosong, sesekali anak kecil itu meronta karena tidak ingin masuk ke dalam rumah yang mirip dengan rumah hantu itu.
Rumah itu tampak menyeramkan lantai rumahnya sangat kotor berselimutkan debu tebal, dengan langit-langit rumah, berhiaskan sarang laba-laba yang mengerikan.
Mereka duduk di kursi dalam keadaan tangan terikat.
“Ha-ha-ha... Akhirnya kita bisa mendapatkan uang sebentar lagi, kudengar keluarga Jonathan dan keluarga Stevenson adalah keluarga kaya raya,” ujar salah satu dari komplotan penculik itu.
“Kita bisa kaya dalam.waktu singkat, dengan menjadikan mereka untuk meminta uang tebusan.”
Ketiga anak tersebut masih menampilkan reaksi yang berbeda yang satu meronta, satunya menangis, dan satunya lagi hanya diam.
“Lepaskan kami!” pekik salah satu bocah itu.
“Diam! Kalian sangat berisik, jika kalian masih berisik aku akan menghabisi kalian,” ujar penculik itu.
Mereka kembali diam. Sementara satu anak kecil masih berusaha melepaskan ikatan tali. Ada penculik yang berjaga di sana.
Selang beberapa waktu, penculik itu pun tertidur. Anak kecil yang berusaha melepas ikatan tali pun sudah berhasil melepaskan diri.
“Bisa kau lepas ikatanku, Rain?” pinta anak kecil yang sedari tadi diam.
“Tentu,” jawab Rain, dengan cepat Rain membuka ikatan tali temannya tersebut serta ikatan tali yang membelit adik temannya.
“Sudah,” ujar Rain pada anak pendiam tersebut.
“Berikan tali itu padaku!” pinta si anak pendiam.
“Untuk apa?” tanya Rain bingung.
“Berikan saja!” pinta anak tersebut memaksa, Rain memberikan tali tersebut pada temannya.
“Kau, bantu aku, dengan mengikat kakinya!” perintah temannya itu. Rain hanya menurutinya meski ia belum begitu paham dengan kemauan temannya tersebut.
Rain sudah selesai dengan tugasnya. Ia sudah mengikat kaki si penculik itu dengan kencang.
“Jangan lupa tangannya juga!” perintahnya lagi pada Rain. Lagi-lagi Rain menurutinya, dia mengikat tangan penculik itu dengan kencang.
Setelah menerima tali, anak tersebut berjalan pelan agar tak menimbulkan suara ke arah penculik yang sedang tidur dalam posisi duduk.
Begitu dekat anak tersebut melilitkan tali pada leher si penculik dengan beberapa lilitan supaya kencang.
Setelah dirasa kencang anak tersebut menyeringai kemudian menarik kedua ujung tali agar tali tersebut mencekik leher si penculik.
Penculik itu merasa kaget kala ada yang menjerat lehernya, ia merasa sesak nafas, namun tak bisa bergerak akibat anggota tubuhnya terikat menjadi satu dengan kursi.
Bocah itu pun terus menarik tali, hingga si penculik pingsan. Setelah penculik itu pingsan bocah itu pun merogoh saku si penculik tersebut, mengeluarkan ponsel dan sebuah pisau.
“Hubungi orang tua kita, apa kau tahu tempat ini?” tanya bocah itu. Rain menggeleng.
Bocah itu menghela nafas, ia mengambil pisau tersebut.
“Triton, kau mau apa dengan pisau itu?” tanya Rain, Bocah berpipi gembil itu tak menjawab malah menyeringai.
Segera saja, ia menikam perut penculik itu dengan pisau berkali-kali hingga darah dari perut itu mengucur dengan deras. Membuat Rain dan bocah kecil lainnya itu memekik ngeri.
“Triton hentikan, apa yang kau lakukan?!”
“Diam, segera hubungi saja orang tua kita, atau pun polisi. Kau masih ingat nomor polisi, kan, jika tidak aku akan membunuhmu?!” ujar Triton.
Dengan tangan gemetar, Rain kecil menghubungi polisi, dan memberitahu ciri-ciri lokasi tersebut, agar polisi mudah mengetahui keberadaan mereka.
Melihat temannya bertingkah seperti monster Rain buru-buru melepaskan ikatan tali yang membelit tubuh penculik. Setelahnya ia mengedarkan pandangan dan menemukan botol berisi air mineral.
Ia mengguyur pisau yang masih menancap di dada penculik dengan air serta membasuh tangan Triton. Kemudian menyeret Triton pergi dari rumah tua itu bersama dengan bocah adik temannya.
Mereka lari sejauh-jauhnya untuk menyelematkan diri.
“Kenapa kau membawaku lari? Aku belum puas,” ujar Triton.
“Triton, apa yang terjadi padamu, mengapa kau melakukan itu, seperti yang dilakukan orang dewasa?!” marah Rain.
Triton hanya menunduk dan diam. Kemudian tertawa mengerikan seraya berkata, “Bukan Triton yang melakukannya, tapi aku. Hai Rain, aku Dione.”
“A-apa kau siapa, dan apa maksudmu?”
“Aku adalah Dione. Triton memiliki dua orang dalam satu tubuh.”
“Ba-bagaimana bisa, lalu di mana Triton?”
“Triton tengah tertidur saat ini.”
Tak lama kemudian polisi pun datang bersama orang tua mereka. Rain hanya diam saja, dia masih merasa takut dengan sahabatnya yang tiba-tiba bertingkah aneh.
Polisi pun meringkus pelaku penculikan. Dan membawanya ke kantor polisi sementara penculik yang dinyatakan meninggal dunia tersebut, jasadnya dibawa untuk di autopsi.
Setelah kejadian penculikan tersebut, Rain dan Titan memberitahu Andrew dan Belinda jika Triton sempat bertingkah aneh dan tak wajar. Tentu saja, mereka percaya dan khawatir. Karena anak kecil tak mungkin berbohong bukan?
Andrew dan Belinda segera menghubungi psikiater untuk menangani Triton. Berbagai upaya mereka lakukan untuk kesembuhan putra sulung mereka. Hingga pada akhirnya, Triton dinyatakan sembuh oleh Dokter.
“Ah sial, mimpi itu lagi. Aku sudah sembuh, ya aku sudah sembuh,” ujar Triton kala tersadar dari mimpi buruknya.
“Sayang, ada apa denganmu?” tanya Cleo.
“Aku tak apa, hanya mimpi yang tak penting,” jawab Triton.
“Ini masih siang dan kau bermimpi di saat jam istirahat?” ujar Cleo tak percaya.
“He-he-he.. tapi aku bukan mimpi yang jorok kok, sungguh,” ujar Triton meyakinkan sang istri.
“Hmm.. Sayang aku sebentar lagi mengambil cuti ya, kandunganku sudah membesar, kasihan dua jagoan kita,” ujar Cleo.
“Aku setuju lebih baik kau istirahatlah di rumah, atau mungkin tinggal di rumah Daddy? Agar ada yang menjagamu,” ujar Triton.
“Ya baiklah. Itu lebih baik,” jawab Cleo.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Andy tengah berselancar di internet mencari tempat makan yang enak. Dia sudah terbiasa makan, makanan pinggiran karena Sunny.
“Aku bingung ingin makan di mana nanti malam, apa nanti jalan-jalan saja?” gumam Andy.
Ya, sepertinya dia akan jalan-jalan dan jajan lagi nanti malam bersama Sunny.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya, Andy benar-benar mengajak Sunny jalan menikmati berbagai kudapan yang di jajakan di pinggir jalan. Sambil mengobrol ringan. Mereka mencoba ini dan itu sembari menghabiskan waktu bersama.
Hingga perut mereka kenyang, mereka hanya duduk di bangku taman tepat di bawah pohon rindang.
“Terima kasih sudah mengajakku jalan-jalan hari ini,” ujar Sunny.
“Sama-sama, aku senang kau menikmati jalan-jalan tadi,” jawab Andy.
Hening, suasana menjadi hening sejenak.
“Sunny.” panggil Andy sambil memegang tangan Sunny, membuat Sunny terkejut.
“Iya?”
“I love you, Will you be my lover?” ujar Andy, membuat Sunny terkejut, dan menatap matanya seakan mencari kebohongan di sana.
“Kau serius?” tanya Sunny, Andy hanya mengangguk.
“Jadi apa jawabanmu?” tanya Andy.
“Tentu saja aku mau!” pekik Sunny senang dan langsung memeluk Andy.
Andy pun tak kalah bahagia, karena cintanya tak bertepuk sebelah tangan.
“Love you, Darling.”
“Love you more,” jawab Sunny.
Andy menatap Sunny dalam, isyarat matanya mengatakan seakan meminta izin pada sang kekasih.
“Bolehkah aku?" tanya Andy, dan Sunny mengangguk.
Segera saja Andy mencumbu Sunny dengan lembut dan hati-hati, hanya ada cumbuan tulus dan penuh kasih di sana.
Malam itu adalah malam terindah bagi Andy dan Sunny, karena mereka resmi menjadi sepasang kekasih.
TBC