Rain & Sunny

Rain & Sunny
Bagian 44



Tania benar-benar merasa tak tenang, ia yakin akan terjadi sesuatu pada sang putri. Ia segera menghubungi Ariel dan mengajaknya untuk bertemu.


“Halo, Ariel?”


“Iya, Aunty?”


“Bisakah kita bertemu, ada yang ingin Aunty bicarakan denganmu.”


“Kita bertemu di Cafe biasa ya, Aunty?”


“Iya.”


Selepas menelepon Ariel, Tania langsung berangkat menuju Cafe menggunakan mobilnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu Triton sedang bersiap untuk mengumpulkan anak buahnya. Ia sedang mengajukan cuti, maka dari itu dia tidak membuka praktek hari ini.


“Sayang, apa kau jadi membantu Beruang itu?”


“Tentu, Sayang. Bagaimana pun juga dia itu keluarga kita, dia adalah kakak sepupumu, dan musuh yang ia hadapi bukanlah musuh biasa,” jelas Triton.


“Jika musuh yang akan kalian hadapi, bukan seseorang yang tidak bisa dianggap remeh, berjanjilah padaku kalian akan baik-baik saja, terutama kau,” ujar Cleo.


Triton memandang lembut istrinya kemudian memeluk pinggangnya dengan mesra, “Tidak biasanya kau manja, apa kau hamil lagi, setelah kelahiran si kembar?”


“Jangan sembarangan, si kembar bahkan masih bayi merah. Aku belum ada rencana untuk menambah anak lagi, dasar kau ini!” gerutu Cleo. Triton hanya terkekeh mendengarnya.


“Aku, kan hanya bertanya, mengapa kau marah? Aku tak akan memaksamu, bahkan jika kau hanya ingin dua anak saja aku tak masalah dengan itu, Sayang,” ujar Triton lembut.


Cleo memeluk suaminya, ia merasa beruntung memiliki suami yang pengertian dan tidak pernah menuntut ini dan itu.


“Hari ini kau memasak apa?” tanya Cleo.


“Yang sederhana saja, untuk sarapan aku memasak nasi goreng, dengan potongan daging kambing, kau mau?” tanya Triton.


“Apa pun yang kau masak aku pasti akan menghabiskannya, aku jadi iri padamu, mengapa masakanmu lebih enak dari pada masakanku?” kesal Cleo.


“Kau itukan baru belajar, sabarlah. Jika sudah terbiasa pasti rasanya akan lezat,” ujar Triton berusaha menenangkan dan memberi semangat pada istrinya.


Memang selama ini yang sering memasak adalah Triton, dari pada Cleo, tapi Triton tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Justru ia sabar dalam membimbing sang istri dan mengajari sang istri memasak.


Bagaimana Cleo tidak cinta jika begitu? Ia benar-benar diperlakukan seperti seorang ratu di rumah, meski begitu terkadang Cleo menjadi tak enak hati pada suaminya.


Ia tahu jika suaminya itu bekerja sangat keras, jika pulang ke rumah masih saja harus memasak, dan sekarang tugasnya bertambah membantu Cleo dalam mengurus buah hati mereka.


Mungkin banyak di luar sana yang mencibir Cleo karena mau-mau saja diperistri oleh Triton yang terkenal playboy, memiliki banyak kekasih, kemudian mencampakkan mereka begitu saja dalam waktu sebulan paling lama.


Akan tetapi yang orang tidak tahu Triton adalah sosok suami sempurna, lembut, penyayang, pengertian, dan tidak pernah menuntut.


“Ayo kita sarapan bersama, baru setelah itu aku akan mengantarmu,” ajak Triton.


Mereka pun menuju ruang makan hendak sarapan bersama, dengan doa yang dipimpin oleh Triton pastinya, sungguh kepala keluarga idaman.


“Selamat makan, Sayang.” ujar Triton pada istrinya, saat hendak menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya tiba-tiba ponselnya berdering.


“Ck, orang gila mana yang menelepon pagi-pagi begini?” gerutu Triton.


“Halo, kaum jomlo meresahkan,” sapa Triton kala ia sudah menjawab panggilan telepon.


“Sombong sekali kau Kelinci, iya aku tahu jika kau sudah memperistri adikku dan kalian sudah sah sebagai suami istri, aku sangat tahu, tidak perlu kau pamer seperti itu,” jawab seseorang di seberang telepon.


Triton hanya menggeram kesal jika seseorang yang sedang meneleponnya ini bukanlah sepupu dari istrinya, sudah ia tenggelamkan juga ke palung Mariana dari dulu.


“Bicaralah dengan jelas, atau aku akan menghabisi nyawamu!” peringat Triton.


“Oke-oke, dasar Ibu-Ibu, aku hanya ingin tanya, kau jadikan mengirim pasukan hari ini?!”


“Memangnya mereka belum sampai, seharusnya sudah, ya, atau kau yang tak bisa mengenali orang-orang kita karena sudah lama tidak bertemu?!”


“A-aku lupa ciri-cirinya, he-he-he...”


“Lupakan saja, dasar otak pentium rendah, lagi pula aku sudah mendapat kabar jika mereka sudah sampai dan menyamar menjadi tetangga kekasihmu itu!”


“Oh, benarkah, baiklah terima kasih kalau begitu?!”


Sambungan terputus, Triton benar-benar, habis kesabaran karena Rain, “Aku tarik lagi kata-kataku, memiliki saudara sepertinya adalah sebuah bencana bagiku.”


“Bukankah kau yang selalu bilang harus bersabar jika berhadapan dengan Beruang?” tanya Cleo sembari menahan tawa.


Triton hanya berdecak kesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tania dan Ariel sudah bertemu di sebuah Cafe.


“Apa yang ingin Aunty bicarakan denganku?” tanya Ariel.


“Aunty hanya merasa tidak tenang sejak kemarin, entahlah sejak kemarin Aunty memikirkan Sunny, Aunty merasa akan terjadi sesuatu pada Sunny, Ariel,” jelas Tania.


Ariel menggigit bibirnya, apakah benar akan terjadi sesuatu pada sahabatnya itu?


“Aunty jangan membuatku khawatir,” ujar Ariel.


“Apa kau punya nomor ponsel pemuda kemarin?” tanya Tania.


“Sayangnya aku tidak punya, Aunty,” jawab Ariel.


“Tolonglah apa kau tak memiliki satu pun nomor mereka?”


“Tidak, Aunty. Ah, apa kita ke perusahaan milik Rain saja, kita minta nomornya Rain di sana?” usul Ariel. Jujur, hanya ini satu-satunya ide yang terlintas di pikirannya.


“Akan tetapi itu merupakan hal yang sulit, Aunty tidak yakin resepsionis di sana nanti akan langsung memberikannya,” ujar Tania gelisah.


“Kalau belum dicoba belum tahu, ayo kita ke Jonathan company sekarang, Aunty!” putus Ariel, sambil menggandeng tangan Tania.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat Sunny sedang bekerja datanglah segerombolan orang merusak butiknya. Mereka merusak barang-barang di butik dengan brutal.


Sunny yang melihat kekacauan itu seketika menjadi panik, “Berhenti, apa yang kalian lakukan?!”


Akan tetapi sayang, pekikan Sunny tidak diacuhkan oleh orang-orang yang berusaha merusak dan memporak-porandakan butiknya itu.


Karena merasa kesal Sunny, buru-buru mengeluarkan ponselnya hendak memberitahu kepada pihak kepolisian, tetapi terlambat, saat ia menelepon polisi tiba-tiba tangannya ditarik dengan kencang oleh seseorang hingga ponselnya melayang, ia pun juga juga jatuh ke pelukan seorang pria yang sama sekali tidak ia kenal.


“Siapa yang ingin kau hubungi cantik?” tanyanya pada Sunny dengan memeluk erat pinggangnya.


“Si-siapa kau lepaskan aku!” pekik Sunny.


“Kau ingin tahu siapa aku? Aku adalah—,”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tania dan Ariel sudah berada di perusahaan milik Jonathan. Beruntung mereka bisa masuk dengan mudah karena Tania yang menggunakan nama besar Sullivan.


Dan di sinilah mereka sekarang sedang berbincang dengan Antonio.


“Tentang Sunny, serahkan semua itu pada kami, kami yang akan mengurus semuanya,” ujar Antonio.


“Tidak bisakah kami menghubungi Rain sebentar saja?” pinta Tania, perasaannya belum tenang sedari tadi.


Melihat Tania gelisah Antonio pun merasa tak tega, ia lantas menelepon putranya. Beruntung Rain langsung menjawabnya.


“Dad, ada apa meneleponku, tumben sekali?”


“Rain, ada yang ingin bicara padamu,”


“Huh siapa? Aku sedang bekerja mengurus restoranku saat ini.”


“Nyonya Sullivan.”


“Eh, Nyonya Sullivan?”


“Halo nak, Rain.”


“Apa kau sedang bersama Sunny saat ini?”


“S-saya—”


“Aku tahu jika kau kekasih anakku, Nak. Dan aku juga tahu jika kau menyamar menjadi pemuda biasa bernama Andy.”


“Nyonya, maaf—”


“Lupakan, aku ingin bertanya padamu untuk memastikan bahwa anakku baik-baik saja saat ini. Aku takut jika hal buruk terjadi padanya. Kau percaya ikatan batin seorang ibu, kan?”


“Baik Nyonya. Aku akan ke tempat Sunny sekarang!”


“Rain bolehkah aku menyimpan nomor ponselmu?”


“Tentu. Mintalah pada Daddy, tapi jangan sampai orang lain mengetahui nomor ponselku, Nyonya.”


“Baiklah. Terima kasih.”


“Tentu.”


Sambungan terputus. Tania dan Ariel menghela nafas lega, “Terima kasih, atas bantuannya, Tuan.”


“Sama-sama. Anda bisa minta pada Galaksi perihal nomor ponsel Rain nanti. Galaksi tolong tuliskan nomor ponsel Rain pada Nyonya Sullivan, ya!”


“Baik, Pak!” jawab Galaksi.


Tania dan Ariel keluar dari ruangan Antonio.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat Andy hendak keluar dan pergi menuju butik Sunny, datanglah anak buahnya dengan tergopoh-gopoh.


“Maaf Tuan Muda, saya ingin melaporkan, jika VIP Gangster sedang memporak- porandakan butik Nona Sunny,” lapornya.


“VIP, lalu mengapa kalian diam saja, bukankah kalian juga berjaga di sana huh, dasar bodoh?!”


Andy hanya berdecak dan ia langsung menyambar kunci mobil yang digunakan oleh anak buahnya tersebut.


Ia mengendarai dengan kecepatan tinggi. Dan hanya membutuhkan waktu 3 menit untuk sampai ke butik milik Sunny.


“—Zeno, senang berkenalan denganmu, cantik,” ujar Zeno dengan senyuman mautnya.


“Dasar Bajingan, sialan. Lepaskan kekasihku!” teriak Andy kemudian melayangkan bogem mentah pada Zeno.


Bugh!


Zeno yang tidak siap pun jatuh tersungkur. Sehingga cekalannya pada Sunny terlepas.


Melihat ada peluang melarikan diri, Sunny kemudian segera berlari menjauhi Zeno, menuju Andy.


Melihat orang-orang masih berusaha memporak-porandakan butik milik Sunny, Andy langsung memerintahkan orang-orangnya.


“Habisi mereka!” perintahnya.


“Baik, Bos!”


“Berani-beraninya, kau menghajarku?!”


“Birini-birininyi kii menghijirki, memangnya kenapa, tidak boleh ya?” cibir Andy dengan bibir yang sedikit dimajukan.


“Dasar kurang ajar!” pekik Zeno tak terima dan hendak menghajar Andy, tetapi sayangnya pukulannya meleset.


“Eits, tidak kena, sayang sekali ternyata pukulanmu itu meleset, Bung. Kau ini bisa berkelahi tidak, sih?!” tanya Andy.


“Jangan mempermainkanku!”


“He, siapa juga yang mempermainkan dirimu, bermain denganmu saja aku tidak pernah sudi, percaya diri sekali, kau?”


“Matilah kau!” teriak Zeno kemudian bersiap menyerang Andy, hendak memberi bogem mentah kembali, namun dengan cepat Andy merubah posisinya menjadi posisi kayang. Sehingga Zeno hanya meninju udara.


“He-he-he ada untungnya rajin olahraga dan latihan dance tiap hari sebelum mandi, badanku jadi lentur seperti ini,” gumam Andy.


Ia merubah posisinya menjadi berdiri seperti semula.


“Kau sudah, kan, sekarang giliranku, terima ini!” ujar Andy sambil menendang wajah Zeno.


Tak hanya itu ia juga mengangkat tubuh Zeno dan membantingnya ke lantai.


Bruk!


Bugh!


Bugh!


Krak!


Argh!


“Wah nyaring sekali!” ujar Andy dengan nada sing a song.


Tak lama rombongan Red Stars mulai berdatangan. Terlihat di sana ada Galaksi, Triton, Titan, dan juga Jupiter.


“Butuh bantuan?” tanya Triton.


“Dasar otak seperlima, ke mana saja kalian mengapa baru datang, sial pasukan mereka banyak sekali?!” marah Andy.


“Aku sedang menikmati quality time dengan istri,” jawab Triton dengan tampang tanpa dosanya.


“Mari kita mulai!” ujar Triton dengan seringai ia sudah bersiap dengan machete andalannya.


Ia mulai mengayunkan machete-nya ke arah musuh.


“Dengan kekuatan besi aku akan membunuhmu!” ucap Triton.


“Bulan kali, sejak kapan ganti menjadi besi?” tanya Andy.


“Terserah aku dong, kenapa kau protes?!” ujar Triton.


Andy memutar bola matanya dengan malas, ia memutuskan melanjutkan menghajar musuhnya dari pada berdebat dengan Triton.


Jupiter pun juga melakukan hal serupa, ia membawa katana.


“Hai Bung, kau ingin bertarung dengan tangan kosong?” tanya Jupiter dengan santai.


“Bagaimana dengan tangan kosong?” jawab musuhnya.


“Baiklah terima salam damai dariku ini!” ujar Jupiter kemudian—,


Bugh!


Krak!


Brak!


“Wow, Nak lagi-lagi kau meremukkan tulang seseorang,” ujar Galaksi.


“Aku hanya tidak sengaja,” jawab Jupiter tak acuh.


Mereka terlalu fokus pada pertarungan, hingga tak menyadari Zeno yang sudah bangkit berdiri dibantu beberapa anak buahnya dan membekap Sunny dengan obat bius serta membawanya pergi.


Titan yang melihat sekilas segera berteriak, “Rain, Bajingan itu membawa kekasihmu pergi dalam keadaan tak sadarkan diri!”


“Kurang ajar!” umpat Rain.


“Siapa yang menyuruhmu dan rekan-rekanmu memporak-porandakan tempat ini?” tanya Triton.


“Mr. Ken-Kendrick Sullivan,” jawab anak buah Zeno, yang sudah babak belur itu sebelum pingsan.


“Apa?!” pekik mereka.


TBC