
Saat ini Andy dan Sunny sedang sibuk-sibuknya, melayani pelanggan. Ya, restoran mereka semakin hari semakin ramai.
Meski begitu, keduanya tetap memiliki waktu untuk keluar bersama.
Ya hubungan Andy dan Sunny semakin lama, semakin dekat seiring berjalannya waktu, meski masih sedikit canggung di antara mereka, namun mereka mampu mengubah suasana menjadi lebih menyenangkan untuk membunuh kecanggungan tersebut.
Saat ini Andy sedang berada di ruangannya karena sedang mengerjakan pembukuan. Sesekali ia mengecek ponselnya untuk memantau perusahaannya dari jauh.
“Ah, ternyata dia bersedia meng-handle pekerjaan gelapku, kupikir dia tidak sudi karena sudah menikah," gumam Andy.
Ruangan Andy, adalah ruangan yang kedap suara. Dilengkapi dengan keamanan CCTV. Andy tengah menghubungi seseorang saat ini.
“Halo."
“Apa aku kenal denganmu, mengapa kau menghubungiku?"
“Sialan kau Kelinci, beginikah perlakuanmu padaku setelah kita menjadi keluarga?!"
“Memang siapa kau?"
“Ah, lupakan! Aku menghubungimu untuk mengucapkan selamat atas kehamilan adik sepupuku itu, kudengar dia mengandung calon bayi kembar."
“Terima kasih, ya bersyukurlah bibitku ini adalah jenis bibit unggul. Sehingga proyek pasangan ganda akan segera terealisasikan."
Andy hanya mendengus mendengar jawaban sombong dari ipar sepupunya tersebut.
“Sombong sekali, calon ayah ini."
“Tidak ada larangan untuk dilarang sombong di depan iblis sepertimu, jadi apa salahnya?"
“Mohon berkaca terlebih dahulu, sebelum mengatakan sesuatu."
“Bagaimana dengan misi penebusan dosamu? Wah! rasa-rasanya kau seperti tidak tahu berterima kasih, ya. Melimpahkan tanggung jawabmu pada orang lain dengan sesuka hati."
“Apa salahnya meminta bantuan pada saudara sendiri."
“Dasar Beruang jahat."
“Sudahlah. Ah, aku ingin bertanya, bagaimana kondisi Mr. Lee?"
“Kondisi mentalnya sangat parah, setelah kau membunuh anggota keluarganya, dia seperti mayat hidup saat ini. Ya, raga tanpa jiwa."
“Bukan, aku yang membunuhnya, Nak, melainkan dirimu."
“Lalu kaupikir itu atas perintah siapa, seenaknya saja kau melemparkan tanggung jawab dan dosamu pada kami. Haruskah kuingatkan padamu jika ini semua masalah ini berawal darimu, tentang Mr. Lee dan masalah keluarga Sullivan?!"
Andy hanya mengusap kasar wajahnya. Jika berhadapan dengan orang ini.
“Mengapa kau diam, tidak bisa menjawab, huh?"
“Dengar, untuk masalah keluarga Sullivan, aku mengakui, jika aku bersalah, tapi untuk masalah Mr. Lee, kau tahu dia orang yang seperti apa bukan?"
“Lupakan tentang Pak Tua itu. Aku ingin memberitahumu sedikit bahwa selama ini kita menyimpan musuh dalam selimut, beruntung Jupiter bergerak cepat dan memberitahuku, lewat Galaksi—,"
“—kalau pengkhianat itu mengambil senjata khusus kita, dan memberikannya pada kelompok lain."
“Siapa?"
“VIP."
“Ah, para sekumpulan sampah tak berguna itu. Bisa-bisanya dia bekerjasama dengan mereka, jika itu soal senjata khusus, kuserahkan mereka padamu. Kau yang lebih berhak mengadili mereka, karena semua senjata Red Stars adalah senjata buatanmu."
“Tentu semua itu sudah kubereskan, aku tidak suka jika mahakaryaku diambil dan menjadi hak milik orang lain."
“Kuserahkan Red Stars padamu, Kelinci. Keluarga Stevenson yang lebih mengetahui dan lebih berpengalaman dalam hal membasmi tikus tak berguna itu."
“Bukankah memang begitu dari dulu?"
“Ya, itu benar. Red Stars memang milikmu, sejak awal kau yang memiliki ide yang mendirikan kelompok kita, hebatnya kau hanya bermain di belakang layar."
“Ha-ha-ha... Kau tahu aku tidak suka pamer. Biarlah kau yang menjadi wajah Red Stars saat ini."
“Sialan kau!"
“Oh jangan marah sobat. Bukankah itu cocok untukmu? Aku berusaha membuatkan peran yang sesuai dengan dirimu, dan menjadi pemimpin Red Stars adalah salah satunya."
“Mengapa kau tak ingin mengambil posisi itu?"
“Kau tahu jawabanku dengan jelas, Rain. Kita bahkan sudah mengenal sejak kecil. Aku tak ingin kejadian itu terulang."
“Konyol. Itu tidak mungkin terjadi lagi, kau sudah sembuh, total!"
“Aku melakukannya lagi Rain."
“A-apa?"
“Kau bohong, kau tidak melakukannya lagi bukan?"
“Aku melakukannya saat menghabisi pengkhianat itu "
“Oh God, bagaimana bisa?"
“Galaksi ingin aku yang mengeksekusinya. Kau tahu? Meskipun kau arogan, tapi kau masih lebih baik dari pada aku, Rain. Sudah dulu ya kututup teleponnya."
Sambungan tersebut diputuskan sepihak, oleh sang lawan bicara saat ini.
“Halo, hei!"
Tak ada sahutan teleponnya benar-benar mati saat ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di tempat lain Triton hanya memijit pelipisnya, “Maaf aku melakukannya lagi, maaf."
Ia butuh whiskey saat ini untuk memenangkan pikirannya. Ia menghubungi seseorang.
“Siapkan private room, untukku. Aku akan ke Red Sun malam ini!" ujar Triton.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Andy sudah keluar dari ruangannya. Dia bertingkah biasa seperti tak terjadi apa-apa.
“Hai Andy," sapa Sunny.
“Ada apa?"
“Bukankah besok restoran ini libur?"
“Lalu?"
“Bagaimana jika kau ikut denganku?"
“Ke suatu tempat aku yakin kau akan menyukainya, tapi sebelum itu kita harus masak yang banyak. Bahkan dimulai saat pagi-pagi buta."
“Apa kau merencanakan sesuatu?"
“Ya, dan beberapa pegawai kita sudah menyetujuinya."
“Baiklah. Asal jangan aneh-aneh."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Triton mengunjungi Red Sun malam ini. Percakapannya dengan Rain pun masih menghantui pikirannya.
“Tidak mungkin jika aku kambuh lagi dan dia muncul kembali," gumam Triton, seperti merasa cemas.
“Oke tenang, Triton. Tenang, dia tidak akan muncul dan mengacaukan hidupmu kembali." Triton mensugesti diri sendiri.
Ia meneguk whiskey-nya, hal itu membuatnya sedikit tenang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi telah menyapa, hari telah berganti, pagi ini restoran Andy sudah sibuk. Mereka telah mempersiapkan menu dalam jumlah yang begitu besar.
Sunny sangat antusias mempersiapkan ini semua. Andy, sih setuju-setuju saja, meski ia tak begitu paham, semua ini untuk acara apa?
Saat semuanya sudah siap, mereka mengangkut makanan tersebut, untuk dibawa ke suatu tempat menggunakan mobil box, yang sudah disewa Sunny entah sejak kapan.
“Kau bisa mengendarai mobil box, bukan?" tanya Sunny.
“Aku bisa," jawab Andy.
“Kalau begitu ayo kita pergi ke alamat ini!" ujar Sunny semangat sambil menyodorkan secarik kertas yang berisikan sebuah alamat yang akan mereka tuju.
Andy hanya mengangguk. Ia segera melajukan mobilnya menuju alamat tersebut.
“Aku masih bingung kapan kau mempersiapkan semuanya, dan kau tak memberitahuku?" tanya Andy.
“Maaf. Aku tak memberitahumu sebelumnya, tapi aku yakin kau akan menyukainya, nanti."
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di sebuah Panti asuhan. Andy, merasa terkejut. Ia tidak menyangka jika yang ia datangi adalah sebuah panti asuhan.
Mereka turun dari mobil sembari mengeluarkan barang bawaannya, kemudian mereka masuk ke area panti tersebut.
Sunny menyampaikan maksud kedatangan pada pemilik panti, dan tentu saja hal itu disambut baik oleh suster pengelola panti dan anak-anak panti asuhan tersebut.
Sunny dan Andy membagikan makanan pada anak-anak panti dibantu dengan beberapa pelayan restoran lain.
Kegiatan berbagi dengan terjun langsung seperti ini, merupakan pengalaman baru bagi Andy, sebelumnya ia tak pernah mengikuti acara amal seperti ini, atau ia hanya mengikuti acara lelang dan hasilnya nanti akan disumbangkan pada orang yang lebih membutuhkan, tapi ia tak pernah sekalipun mengunjungi Panti asuhan dan berbagi langsung.
Ia ikut membagikan makanan walaupun masih merasa canggung. Beberapa anak panti menyalami Andy, yang disambut Andy dengan senyum kaku.
Andy tidak begitu suka dengan anak-anak, karena menurutnya anak-anak sangat berisik dan menganggu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selesai membagikan makanan mereka duduk melingkar sambil bercengkerama sesekali mereka bercanda satu sama lain, pun dengan Sunny yang ikut berbaur dengan mereka.
Saat Andy sedang memperhatikan Sunny ada yang menepuk pelan tangannya.
“Nama Kakak siapa?"
“Andy, panggil saja Kak Andy. Siapa namamu?"
“Namaku Cheryl," jawab gadis kecil itu.
Gadis kecil bermata bulat dan berpipi gembil yang menepuk tangan Andy, hanya terus melihat Andy dengan tatapan polosnya.
“Kak Andy, boleh Cheryl minta sesuatu?"
“Apa, hmm?"
“Boleh kakak gendong Cheryl? Cheryl ingin digendong," pinta gadis itu.
Andy tak menjawab, membuat gadis itu menunduk sedih sesekali mengerucutkan bibirnya, seperti hendak menangis.
Andy beranjak bangun dari duduknya dan mengangkat gadis itu tinggi-tinggi, membuat gadis itu terkejut dan memekik girang.
“Nah, aku sudah menggendongmu, apa kau senang, Cheryl?"
“Hi-hi-hi..." gadis itu hanya terkikik.
“Apa Cheryl berat?" tanya gadis kecil itu.
“Kau sangat berat Cheryl, apa kau makan banyak tadi?" tanya Andy.
“Cheryl makan banyak karena makanan yang Kakak bawa sangat lezat," jawab gadis itu.
“Oh benarkah? Itu bagus, makanlah yang banyak agar kau bisa tumbuh tinggi dan sehat," ujar Andy seraya tersenyum.
“Kak Andy sangat tampan. Cheryl suka!" pekiknya.
“Sungguh?"
“Hmm.. Kak Andy sangat tampan seperti Pangeran yang menjemput sang putri. Apa Kak Andy pangeran berkuda yang menjemput sang putri, seperti yang diceritakan suster?" tanya Cheryl polos.
“Ha-ha-ha..." pertanyaan polos itu mengundang tawa Andy. Kali ini tawa Andy terdengar lepas dan tulus, membuat siapapun yang mendengar merasa hangat.
“Iya, aku adalah seorang Pangeran yang ingin menemui Putri Cheryl yang cantik ini. Apa Putri senang?" tanya Andy. Cheryl mengangguk senang.
Kegiatan itu terus berlanjut hingga Andy memainkan gitar sambil menyanyi dengan merdu.
Hal itu tak luput dari perhatian Sunny yang semakin jatuh hati pada Andy.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selesai acara tersebut mereka pun berpamitan pulang, tentu saja banyak anak-anak yang tidak rela jika mereka pergi, terutama Andy. Mereka senang bermain dengan Andy. Bahkan Cheryl pun langsung menangis histeris kala Andy berpamitan.
Di dalam mobil box Andy terus tersenyum.
“Bagaimana tentang acara tadi?"
“Sangat menyenangkan. Mereka sangat lucu dan menggemaskan, anak-anak yang manis, selain itu mereka juga hiperaktif, tapi aku menyukainya, terima kasih untuk hari ini, Sunny," ucap Andy tulus seraya tersenyum.
Sunny merasa gugup melihat senyum Andy yang mampu menggetarkan hatinya.
“Tolong selamatkan jantungku, Ya Tuhan!" batin Sunny memekik.
TBC