Rain & Sunny

Rain & Sunny
Bagian 37



Andy kembali pulang ke restoran, hatinya merasa dongkol karena melihat Sunny bermesraan dengan laki-laki lain.


“Apa ini alasan dia pergi beberapa hari ini tanpa mengajakku?” gumam Andy.


Ia terus memikirkan ini, ia harus mencari cara agar dia tahu apa yang ia lakukan dengan kekasihnya.


Beberapa detik kemudian, ia menyeringai, ia tahu harus melakukan apa.


“Kau ingin bermain-main denganku, Sayang? Tidak semudah itu.”


Ia menghubungi seseorang.


“Halo, Kak.”


“Ah, Rain. Ada apa denganmu, tumben kau menghubungiku, kau bahkan belum melihat anakku, anakku sudah lahir kau tahu?”


“Aku sedang ada misi penting. Jika misinya sudah selesai aku akan mengunjungi anakmu. Oh, iya anakmu perempuan atau laki-laki?”


“Perempuan namanya Stephanie Cordelia Edward.”


“Semoga sifatnya tidak menyebalkan seperti ibunya.”


“Jika ia mendengarnya, kau pasti akan dicincangnya.”


“Dia tidak akan melakukan itu padaku itu hanya gertakan. Oh iya, Kak. Kau masih punya alat penyadap, jika kau memiliki kirimkan padaku, aku akan kirim alamatnya.”


“Aku ada, untuk apa kau membutuhkan alat penyadap?”


“Aku membutuhkannya untuk membuktikan kecurigaanku itu benar atau salah.”


“Galaksi bilang kau sedang dalam misi penebusan dosa, dan ya, aku tahu pada akhirnya. Galaksi menceritakan semuanya ha-ha-ha... Ternyata dugaan istriku sungguh tepat.”


“Ya, tertawalah sepuasmu, aku sedang kesal saat ini.”


“Kau membutuhkannya untuk menyadap gadismu?”


“Bagaimana kau tahu?”


“Tentu aku tahu. Aku pintar dalam hal menebak tentangmu, ya baiklah akan kubuatkan malam ini dan aku akan mengirimnya jika sudah siap.”


“Terima kasih Ayah muda.”


“Tak masalah Anak tua.”


“Sialan kau, Kak ”


“Ha-ha-ha...”


Setelah sambungan terputus Andy segera mengirimkan pesan yang berisi alamat pada Angelo, ya yang tadi dihubungi oleh Andy adalah Angelo.


“Kau tidak akan bisa lepas dari jangkauanku, Sayang.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu Red Stars sedang berpesta dibawah kepemimpinan Triton. Ya, ia kembali ke markas setelah perburuan tikus liar secara besar-besaran di rumah sakit.


“Wow, apa ini. Sebuah kuali raksasa?!” ucap Dione sok terkejut.


“Terima kasih telah menyiapkan ini semua anak-anak, wah aku tidak sabar sekali!”


Dione melihat para korbannya tergeletak berjejer. Dione bertanya pada anak buahnya, “Menurut kalian, mana yang mendapatkan giliran pertama?”


“Bagaimana jika yang lukanya paling parah dahulu dan yang tidak terluka atau hanya pingsan menjadi yang terakhir?” usul Titan.


“Ide bagus. Ya mereka itu masih bernafas walaupun dalam keadaan sekarat. Aku akan dengan senang hati mengantar mereka ke neraka, kalau begitu nyalakan apinya!” perintah Dione.


Anak buah Triton menyalakan api dalam tungku besar, untuk memanaskan air dalam kuali raksasa itu.


Setelah menunggu beberapa lama, air dalam kuali tersebut sudah mendidih dia memerintahkan anak buahnya untuk mengangkut target pertama yang mendapatkan giliran.


Dan—byur... Musuhnya tersebut sudah direbus dalam air mendidih. Dan terus begitu sampai targetnya tewas dalam keadaan matang.


Tiba saatnya giliran target terakhir, sepertinya ia telah terbangun dari tidur panjangnya.


“Ternyata Pangeran tidur kita sudah terbangun dari tidur panjangnya,” celetuk Dione.


Orang itu seperti kebingungan kala melihat sekitarnya, sepertinya dia sudah menyadari bahwa ia sedang tertawan di markas musuh.


“Apa yang kau lihat? Ya, kau saat ini sedang berada di rumah kami.”


Ingin mengeluarkan suara namun lidahnya terasa kelu, pandangannya menjelajah ke setiap sudut, gerak-geriknya dapat dibaca oleh Dione.


“Kau pasti bertanya-tanya di mana kawanmu berada, bukan? Akan kutunjukkan di mana kawanmu berada.” ujar Dione sambil menggandeng tangan musuh, kemudian berjalan ke tempat temannya yang sudah pergi mendahului dirinya.


“Kau bisa lihat temanmu di sebelah sana!” ujar Dione dengan nada perintah sembari menunjuk di mana tawanan yang lainnya berada.


Dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat rekannya sudah dalam keadaan tak utuh dan terdapat luka bakar atau melepuh. Mereka semua sudah berwujud potongan-potongan yang sudah terpisah.


Wajah musuhnya itu berubah menjadi pucat pasi seketika. Berharap jika dirinya tak bernasib sama dengan rekannya yang lain.


Akan tetapi harapan hanyalah tinggal sebuah harapan, karena nyatanya dialah yang akan menjadi korban berikutnya.


Ya dia diseret paksa oleh anak buah Triton atas perintah Dione. Dalam sekejap tubuhnya sudah diceburkan ke dalam kuali raksasa dan direbus hidup-hidup.


Terdengar suara kesakitan dan keputusasaan yang menjadi satu. Berharap mereka berbaik hati melepaskan dirinya, dari siksaan mengerikan ini.


Namun Dione dan yang lainnya seolah menutup telinga mereka dan membiarkan ia tewas dan masuk ke tahap eksekusi selanjutnya seperti rekannya yang lain.


“Setelah selesai mengeksekusi, jangan lupa kirimkan jasad mereka kepada Bosnya!” perintah Dione.


“Siap laksanakan!”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Apa yang terjadi?” gumam Triton.


“Kak, Triton kau sudah sadar?” tanya Titan.


“Titan, apa yang terjadi, mengapa aku berada di sini, bukan di rumah sakit. Cleo sedang melahirkan saat ini?!” pekik Triton.


“Nanti akan kujelaskan, ayo kembali ke rumah sakit! Aku akan mengantarmu,” ucap Titan.


Di dalam sebuah mobil yang sedang dalam perjalanan itu Titan menjelaskan semuanya tentang kekacauan di rumah sakit dan tentang mengapa ia berakhir di sini karena Dione yang mengambil alih tubuhnya.


“Aku menyesal atas kejadian penculikan yang menimpa kita berdua dan Rain puluhan tahun silam, andai peristiwa penculikan itu tak terjadi, mungkin kau tak akan seperti ini,” jelas Titan.


“Kita tak bisa menghapus semua masa lalu yang terjadi dalam kehidupan kita, Titan.”


“Aku tahu, hanya saja ini pasti terlalu berat untukmu.”


“Jangan khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri,” ujar Triton.


Sesampainya di rumah sakit, Triton dan Titan menuju ke tempat resepsionis dan menanyakan di kamar nomor berapa istrinya dirawat.


Setelah mendapatkan informasi dari salah satu perawat mereka bergegas menuju kamar rawat inap di mana Cleo berada.


“Honey, lihat cucu Mommy sangat tampan bukan?” ujar Belinda kala Triton dan Titan masuk kamar rawat inap.


“Tentu. Apa sudah diberi nama?” tanya Triton.


“Belum, Cleo ingin kau yang memberinya nama,” jawab ibu mertuanya.


Ia melihat kedua bayinya, tampan sekali seperti dirinya.


“Hai Jagoan Daddy.” sapa Triton sambil memegang jari-jari tangan bayinya yang mungil.


“Berilah mereka nama,” ucap Cleo pada Triton.


“Yang sedang kugendong ini kuberi nama Cyril Orion Stevenson dan yang satunya adalah Leander Aquila Stevenson,” ujar Triton.


“Aquila dan Orion yang berarti elang pemburu,” jelas Triton lagi.


“Nama yang bagus. Kami menyukainya. Semoga ia tumbuh menjadi anak yang kuat, tangguh, cerdas, berbakti pada orang tua dan memiliki insting yang tajam.” Andrew memberikan doa pada cucunya.


Ya selamat datang ke dunia Aquila dan Orion.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sunny kembali pulang ke restoran setelah pertemuannya dengan seseorang di taman. Dia sedang mencari-cari keberadaan Andy.


Tak lama kemudian Andy keluar dari ruangannya, tapi kali ini dia hanya diam. Bahkan saat ia melihat Sunny. Andy pun masih bungkam.


“Andy kau ini kenapa?”


“Kenapa apanya?”


“Kau mendiamkanku?”


“Aku tidak.”


“Kau iya. Kau berpura-pura tak melihatku dan bersikap tak acuh padaku.”


“Aku hanya sedang merasa lelah saja, sedang tak ingin diganggu.” jawab Andy kemudian berlalu meninggalkan Sunny.


“Aku tahu kau sedang menghindariku, Andy,” batin Sunny.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu di markas VIP, sedang terjadi kekacauan. Zeno tengah murka saat ini karena mendapatkan teror potongan tubuh manusia beserta jasad yang ia ketahui itu adalah jasad anak buahnya yang dikirimkan untuknya.


“Sial, lagi-lagi ia menghabisi anak buahku. Dengan cara sekejam ini?!”murka Zeno.


“Red Stars sialan!” teriak Zeno.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa hari berlalu setelah persalinan sang istri, Triton kembali bekerja ke rumah sakit. Ya dia kembali mengecek kondisi Mr. Lee yang sudah semakin membaik, bahkan ia dapat mengendalikan emosinya, dan dapat berbicara seperti orang normal lainnya.


“Selamat pagi, Mr. Lee,” sapa Triton.


“Pagi, Dokter. Kapan aku boleh pulang dari sini?”


“Kita akan lakukan pemeriksaan dahulu. Jika hasilnya baik, Anda boleh pulang.”


Selama ini Mr. Lee rutin melakukan terapi medis dan juga rajin mengonsumsi obat yang sesuai dosis yang dianjurkan Triton, sehingga kondisinya semakin lama semakin membaik.


“Dari hasil pemeriksaan, Anda sepertinya sudah sehat Mr. Lee, Anda bisa pulang besok.”


“Terima kasih, Dokter.” jawab Mr. Lee.


“Mr. Lee, setelah Anda keluar dari rumah sakit ini, saya harap Anda bisa pergi sejauh mungkin meninggalkan kota ini. Mungkin dengan identitas baru di tempat lain, saya mohon Mr. Lee, turuti permintaan saya sebagai permintaan saya. Anda berhak bahagia, Mr. Lee.”


“Dokter,” panggil Mr. Lee.


“Saya tahu kehilangan seseorang yang sangat kita cintai sangatlah berat, tapi satu hal yang perlu Anda ingat, jika Anda masih dalam keadaan terpuruk dan tidak berusaha untuk bangkit, anak-istri Anda, akan sedih di surga sana.”


Mr.Lee memandang Triton, benar apa yang dikatakan oleh Dokter muda ini, jika ia terus merasa terpuruk dalam sebuah kedukaan yang teramat dalam, istri dan anaknya pasti akan merasa sedih di sana.


“Saya akan hidup sesuai saran Anda, Dokter. Terima kasih sudah berusaha menyembuhkan saya,” ujar Mr. Lee.


Triton tersenyum, dalam hati ia merasa sangat bersyukur dan berterima kasih pada Tuhan, karena telah memberikan kesempatan padanya untuk menebus dosa.


TBC