
Waktu terus berlalu, dan tepat pada hari ini adalah hari yang bersejarah bagi Triton. Tengah malam ia dibuat kalang kabut dengan sang istri yang mengeluh kesakitan dan air ketubannya yang pecah.
Segera saja ia memanggil anggota keluarganya untuk membantu istrinya mempersiapkan persalinan.
Sementara Triton menghubungi Rhea, bahwa istrinya akan melahirkan hari itu juga, tak lupa ia menghubungi anggota Red Stars, untuk berjaga di sekitar Rumah sakit disaat istrinya melakukan persalinan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya di rumah sakit, Cleo segera dibawa ke ruang operasi untuk persiapan melahirkan.
Triton menemani istrinya di ruang melahirkan. Sebelumnya keluarga Stevenson sudah menghubungi orang tua Cleo, dan mengabarkan bahwa Cleo akan melahirkan.
“Ayo mengejan lebih kuat lagi, Cleo, kepalanya sudah terlihat!” ujar Rhea.
“Hngggghh... Triton sa-kith.”
“Ayo, sayang kau pasti bisa, berjuanglah untuk jagoan-jagoan kita.” ujar Triton sambil menggenggam tangan Cleo seolah menyalurkan kekuatan lewat kata-kata penyemangat.
Setelah beberapa waktu lamanya terdengar suara tangisan bayi, bersahutan.
“Puji Tuhan anak kalian telah lahir dengan selamat, dua jagoan tampan Stevenson sudah lahir ke dunia.”
Triton menangis haru, dia berkali-kali mengecup kening sang istri, tak lupa mengucapkan terima kasih karena sudah berjuang melahirkan bayi kembar yang tampan untuknya.
“Kau ingin mencoba menggendongnya, Triton?” tanya Rhea.
Triton menggendong bayinya secara bergantian sembari melantunkan doa dan harapan pada anak-anaknya.
Setelahnya Rhea keluar untuk mempersiapkan ruang rawat inap untuk Cleo.
“Permisi Dokter, kami akan membersihkan bayi-bayi Anda.” ujar perawat tersebut meminta izin.
Akan tetapi, Triton tak menyerahkan bayinya begitu saja, entah mengapa ia merasakan firasat buruk akan terjadi.
“Siapa kau, aku belum pernah melihatmu sebelumnya?” tanya Triton.
Perawat itu, terlihat gelagapan, meski tak begitu kentara.
“Sa-saya adalah perawat baru, Dokter.”
Triton hanya diam seribu bahasa, namun ia masih memasang sikap waspada.
“Benarkah?” tanya Triton sambil berjalan mengitari perawat tersebut. Karena ia menggendong anaknya dengan satu tangan. Ia menyembunyikan tangan satunya dari balik saku.
Tepat di belakang perawat itu ia menodongkan pistol ke arah pelipis perawat tersebut, membuat perawat itu memekik kaget.
“Buka maskermu, atau kau akan merasakan peluru ini bersarang di kepalamu?” ucap Triton dengan penekanan.
Namun sayang, perawat itu tak mengindahkan peringatan dari Triton. Ia justru menyerang Triton. Pistol yang tadinya sempat terjatuh karena serangan mendadak dari perawat tersebut, dengan cepat ia selamatkan.
Reflek Triton menarik pelatuk tersebut dan peluru itu mengenai perut perawat.
Dor!
Suara tembakan nyaring terdengar hingga ke luar. Membuat Rhea dan para orang tua masuk menerobos ke ruang persalinan.
“Apa yang terjadi?” tanya Rhea. Seketika ia terkejut sambil menutup mulutnya kala melihat perawat itu bersimbah darah, dan Triton membuka masker perawat itu dengan paksa.
Benar dugaan Triton. Ia bukanlah perawat rumah sakit di tempatnya bekerja.
“Triton, apa yang kau lakukan?!” pekik Rhea.
“Ada penyusup di rumah sakit ini, dan ia berusaha mencelakai istri dan anakku.”
Tak lama nampak anggota Red Stars termasuk Galaksi dan Jupiter.
“Kalian sisir seluruh bagian rumah sakit ini, cari para penyusup kotor itu. Aku ingin kalian meringkus dan menghabisi semuanya tanpa terkecuali, mengerti kalian?!”
“Siap, kami mengerti, Tuan Muda!” jawab anak buahnya.
“Daddy, tolong jaga anak dan istriku, aku ada keperluan sebentar.” pamit Triton sambil menyerahkan anaknya dan berlalu pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Triton pun melesat pergi, sebelumnya ia menyeringai, “Saatnya kita bersenang-senang, Dione.”
“Dengan senang hati, saudaraku,” jawab Dione.
Dalam sekejap, sorot mata Triton berubah menjadi dingin dan nampak kejam.
Masih menggunakan pakaian khusus saat operasi, Dione mengeluarkan sapu tangan yang sudah dibubuhi dengan obat bius dosis tinggi.
Dengan mengandalkan insting tajamnya Dione mengendap-endap kala ia melihat targetnya bersembunyi.
Tepat di belakang targetnya, tangan Dione yang memegang sapu tangan tersebut menyambar dan langsung membekap mulut si target.
Tak butuh waktu lama target tersebut pingsan.
“Wah, tidak seru. Baru begitu saja sudah pingsan, dasar lemah!” cibir Dione.
Ia memasukan kembali saputangannya ke dalam saku, dan berjalan lagi mencari target berikutnya.
Tidak lama ia melihat target incarannya itu, seperti sedang mengawasi sesuatu. Dengan pelan ia berdiri di belakangnya, kemudian menepuk pelan pundak target.
Awalnya sang target tak menghiraukan tepukan di pundaknya, tapi lama-kelamaan ia merasa terganggu dan menoleh ke belakang.
“Hai, apa kabar sobat?” sapa Dione, kemudian menghantamkan kepala targetnya tersebut, ke tembok berulang kali dengan keras, hingga berdarah dan tak sadarkan diri.
“Cih, begitu saja pingsan, dasar kaum lemah! Aha, lumayan dapat senjata baru. Aku akan mengetesnya nanti.” ujar Dione, kemudian pergi berlalu dan mencari target selanjutnya.
Ditengah perburuannya mencari musuh, tiba-tiba, ada yang menyapanya, insting Dione berkata bahwa ia juga salah satu target yang sedang dicarinya.
“Hai Hero,” seseorang menyapanya.
“Oh, hai pecundang,” balas Dione.
Dengan secepat kilat targetnya menyerang Dione, ia menyerang dengan skill beladirinya, Dione tentu saja tak tinggal diam, dengan cepat ia menangkis serangan-serangan yang dilancarkan musuhnya.
Bahkan ia pun dapat meraih kaki musuhnya kemudian menarik kaki musuhnya tanpa belas kasihan, hingga musuhnya terjungkal dan kepalanya membentur lantai dengan keras.
Tidak hanya sampai di situ, ia juga menyeret musuhnya seperti ia menyeret kantong berisi sampah. Setelah ia puas menyeret musuhnya, ia menembak lutut musuhnya itu dan menginjaknya dengan keras, sehingga membuat musuhnya memekik merasakan sakit yang luar biasa.
“Ah, kenapa kau berteriak, kau tidak tahu, ya jika ini sebuah rumah sakit. Di rumah sakit itu tak boleh berteriak kau tahu?” ujar Dione sok polos.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ya, sepertinya musuh yang melawan Jupiter mengalami patah tulang leher.
“Wow, sobat kau dengar itu?! Tulangmu punya suara nyaring ternyata sampai aku terpukau mendengarnya,” ujar Jupiter.
Tak hanya itu karena pukulan dan tendangan keras yang ia terima dari Jupiter di bagian dada, membuat musuhnya hanya tergeletak dan tak mampu berbicara.
“Adakah pesan terakhir yang ingin kau sampaikan?” tanya Jupiter.
Musuhnya itu pun mencoba berbicara, tetapi sepertinya sulit.
“Kau bicara sesuatu, apa yang kau bicarakan, bicaralah yang keras, aku tidak bisa mendengarnya, kaupikir aku bisa bahasa seekor semut?!” sentak Jupiter.
Belum sampai ia bicara, musuhnya itu sudah pingsan lebih dulu.
“Ah, mengecewakan sekali, padahal aku belum mendengar suara emasnya, dia sudah menyerah lebih dulu,” gerutu Jupiter.
Lain halnya dengan Galaksi, dia masih bertarung saat ini. Bahkan lawannya itu sudah babak belur dan jalan dengan terseok-seok, tetapi masih saja memaksa.
“Sudah tidak bisa berjalan dengan benar masih saja memaksa untuk berdiri tegak. Dasar manusia tidak tahu diri!" cibir Galaksi.
Karena kesabaran Galaksi kali ini sedang setipis tisu basah, Galaksi pun mengambil tindakan. Ia menendang wajah musuhnya dengan keras hingga mungkin rahangnya sedikit bergeser.
Setelahnya musuh tersebut pingsan, dan Galaksi menginjak dadanya dengan keras.
“Kau sudah selesai, Kak?” tanya Jupiter.
“Tentu, tak kusangka aku mendapatkan lawan yang cukup merepotkan,” jawab Galaksi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain Titan juga ikut ke rumah sakit dan menghabisi lawan-lawan kakaknya itu.
Ia sedang bermain-main dengan katana milik sang kakak.
“Hiaaaaaat!” teriak Titan sambil mengayunkan katana ke arah perut musuh.
Sret...
Katana itu menembus perut musuh, kemudian Titan menggerakkan katana tersebut seirama dengan gerakan tangannya. Hingga perut musuh itu robek dengan lebar dan keluar darah serta isi perutnya dan musuh tersebut tergeletak tak sadarkan diri.
“He, dia pingsan, oh my God Sun kenapa menjijikan sekali isi perutnya?” gerutu Titan.
Selepas menghabisi musuhnya, Titan malah bernyanyi dengan riang, “ Kau inginkan, aku, kau jatuh cinta, kau akan gila jika jauh dariku. I got you under my skin.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kita kembali ke Triton dan Dione yang saat ini sedang berada di atap rumah sakit.
“Sudah kuduga jika itu kau, Pecundang.”
“Lama tidak bertemu, Hero.”
“Sampah sepertimu tak perlu sok akrab denganku, kau pikir kau siapa?”
“Mulutmu itu tak sebanding dengan wajahmu yang nampak manis.”
“Kau itu sepertinya banyak bicara sekali, ya. Kau tahu arti tong kosong nyaring bunyinya? Itu ibaratkan dirimu kau tahu, sedikit keahlian, tapi banyak omong kosong.”
“Beraninya kau?!”
Sang musuh merasa tidak terima dengan cibiran yang dilontarkan oleh Dione. Segera saja langsung menghabisi Dione dengan sebuah pisau, beruntung Dione sempat menghindar.
“Ah, kau mengajakku bermain pisau, baiklah, aku juga akan menunjukkan pisauku.” Dione mengeluarkan Machete yang ia ambil dari bagasi mobil Jupiter, sebelum ia menuju ke atap rumah sakit.
“Mari kita bermain!” ucap Dione.
Dengan cepat ia menerjang lawannya dan menebas lawannya dengan sebuah Machete.
Lawannya hanya terkesiap melihat senjata yang digunakan oleh Dione, dan sialnya ia tak ada kesempatan untuk menghindar karena terlalu terkejut. Sehingga Machete itu memberikan sapaan hangat pada kepala sang lawan, atau sederhananya Machete tersebut menebas kepalanya.
Lehernya pun putus karena tebasan Machete, hingga darah tersebut mengalir dengan derasnya dan orang tersebut tewas seketika.
“Pertarungan selesai, segera kau urus jasad- jasad itu, kirimkan ke markas kelompok mereka, dan untuk yang masih hidup bawa ke markas, kita akan eksekusi nanti!” ujar Dione di handy talky.
“Siap laksanakan!” jawab mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu Andy sudah berada di restoran saat ini. Ya ia sudah mulai bekerja kembali setelah lukanya sudah sembuh.
Namun ada yang berbeda kali ini, saat ia sampai di restoran, ia tak melihat Sunny di restoran tersebut, pegawainya bilang Sunny izin keluar sebentar, entah ke mana.
Ya, Andy mengiyakan saja apa yang pegawainya katakan, tapi dalam hati ia merasa gelisah, pasalnya hal ini sudah bukan yang pertama kali Sunny pergi sendirian, tanpa mengajak dirinya.
Ia kemudian memutuskan keluar untuk mencari angin segar, dengan bersepeda santai sambil menikmati angin yang menerpa dirinya, Andy berkeliling.
Namun saat dalam perjalanan matanya menangkap sosok yang tidak asing baginya kala melewati sebuah taman.
Andy melihat Sunny, tapi tidak sendirian saja, dia tengah bersama seorang pria. Melihat itu membuat hati dan pikiran Andy terasa panas dibakar rasa cemburu. Mereka bahkan tertawa bersama.
“Siapa laki-laki itu, mengapa ia nampak dekat sekali dengan Sunny?” batin Andy.
Ia berusaha mendekat tidak jauh dari tempat mereka berdua, namun juga tidak begitu dekat.
“Sunny, terima kasih ya sudah membantuku.”
“Sama-sama senang rasanya dapat membantu.”
“Lain kali bolehkan, aku menghubungimu lagi?”
“Boleh. Kau boleh menghubungiku saat kau memerlukan bantuan, aku akan membantumu semampuku.”
Andy terus mengamati, sedikit terkejut kala melihat pria yang berbicara dengan Sunny.
“Bukankah dia perawat di Panti Jompo itu, mau apa dia menghubungi Sunny?” batinnya.
Beberapa waktu lalu Sunny dan Andy pernah mengunjungi sebuah Panti Jompo dan mengadakan acara berbagi di sana.
“Aku harus mencari tahu tentangnya.” batin Andy lalu pergi dari sana.
TBC