
Pagi ini Rain sangat buru-buru masuk kantor. Dia segera menjelaskan rencana besarnya pada Galaksi.
Ia bahkan sudah berada di ruangannya saat ini padahal Galaksi belum datang, biasanya Galaksi yang datang lebih dulu.
Galaksi yang kemudian datang beberapa menit setelah Rain pun merasa heran, ada angin apa sahabatnya itu mau datang pagi-pagi begini?
“Rain, kau baik-baik saja?" tanya Galaksi mencoba memastikan.
“Aku dalam keadaan baik," jawab Rain.
“Apa yang membuatmu datang sepagi ini?"
“Aku ingin membahas rencanaku, yang kuberitahukan kemarin," jelas Rain.
“Soal tempat tinggal itu?" tanya Galaksi dan Rain mengangguk.
“Sebenarnya, kau membutuhkan untuk apa?"
Rain diam dia masih menimbang akan jujur atau tidak mengenai masalah ini pada Galaksi.
”Begini, akhir-akhir ini aku merasa sedikit stress dan aku butuh suasana baru agar aku bisa menyegarkan pikiranku kembali. Aku juga merasa lelah akhir-akhir ini, mungkin aku akan cuti panjang dari perusahaan, maka dari itu, bisakah kau menggantikanku?" tanya Rain.
“Kau mabuk?"
“Tidak sudah kubilang aku baik-baik saja!"
“Jika kau tidak mabuk bagaimana kau bisa merencanakan cuti dadakan seperti ini?"
“Aku sudah merencanakan itu sejak lama."
“Dusta."
“Aku serius!"
“Bicaralah pada angin. Kaupikir aku anak batita?" sinis Galaksi.
Rain menatap Galaksi tak suka.
“Ada apa?"
“Kau seperti tak suka dengan rencanaku."
“Lebih baik diskusikan dulu dengan daddy-mu sebelum kau mengambil keputusan." Galaksi memberikan saran sebelum dia bersiap-siap untuk hari ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini Aurora berangkat pagi, meski kemarin sudah mendapat peringatan dari Rain, tapi itu semua tak membuatnya jera.
Ia pergi ke kantor menggunakan angkutan umum, hari ini. Walau biasanya ia menggunakan mobil untuk bekerja.
Beberapa rekan sedivisinya mulai menatap heran dirinya, karena tidak biasanya mereka melihat Aurora datang pagi-pagi ke kantor. Paling masuk saat jam sudah menunjukan jam kerja karyawan.
“Tidak biasanya kau datang sepagi ini?"
“Mobilku sedang berada di bengkel, jadi aku menggunakan angkutan umum untuk bekerja," jawab Aurora.
“Apa, angkutan umum?" beo teman-temannya.
“Apa yang membuatmu berubah sedrastis ini?"
“Aku hanya ingin mencoba hal baru."
Mendengar penjelasan Aurora tersebut membuat para rekan hanya melemparkan pandangan satu sama lain.
Aurora, wanita muda itu sangat hidup seperti orang yang berkelas, tidak ingin naik transportasi umum, tak ingin makan di kedai-kedai yang berada di pinggir jalan, dengan alasan tidak higienis.
Maka rekannya merasa aneh dengan perubahan Aurora yang tiba-tiba ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sunny masih merasa sedih, ia merindukan keluarganya, sangat. Akan tetapi ponselnya bahkan tak ada satu pun pesan dari sang mama apa lagi papanya.
“Mereka sedang apa ya?" gumam Sunny sambil memandang langit.
Sunny menghela nafas beberapa kali. Ia tak menyangka hidupnya akan semengenaskan ini dan menjadi seorang pengangguran.
Ia tak boleh menyerah. Ia tetap terus berusaha sampai mendapatkan pekerjaan.
Ia sarapan terlebih dahulu sebelum memulai untuk mencari pekerjaan kembali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suasana di kediaman Sullivan nampak lengang, tak ada lagi percakapan hangat semenjak kepergian Sunny dari rumah besar itu.
Hingga saat ini Tania masih memilih bungkam jika berhadapan dengan sang suami yang sangat keras kepala. Ia tak ingin menyelidiki ulang atas kasus yang menyeret anak semata wayang mereka.
“Lupakan dia Tania, untuk apa kau memikirkan pengkhianat seperti dia, yang bahkan nyaris membuat perusahaan kita gulung tikar?!" ujar Kendrick.
“Aku tidak akan melakukannya, karena aku tidak mungkin melupakan darah dagingku sendiri, Kendrick. Terserah jika kau tak ingin lagi menganggapnya sebagai anakmu, tetapi dia masihlah anakku. Jadi jangan coba-coba menyentuhnya!" ujar Tania kemudian berlalu meninggalkan Kendrick di ruang tamu.
Kendrick hanya mengusap kasar wajahnya. Anaknya itu jelas bersalah dan semua bukti sudah menunjukkan semuanya. Mengapa istrinya itu susah sekali untuk mengerti keadaan?
Tania berdiam diri di kolam belakang guna menenangkan pikirannya. Mengapa suaminya berubah?
Hanya karena perusahaan dia tega membenci putrinya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Triton sedang menghubungi seseorang saat ini. Seseorang yang menjadi kepercayaannya.
“Hello, My Bunny Boo."
“Ck.. tidak adakah sapaan yang lebih bagus untukku?"
“Baiklah-baiklah ada apa, Triton?"
“Kau tahu perusahaan Daddy, kan?"
“Tentu saja aku tahu. Orang tuaku sudah sejak dulu mengabdi dan menjadi kepercayaan keluargamu. Apa ada sesuatu?"
“Bisakah kau menjadi tangan kanan Titan untuk sementara?"
“Bukankah Titan yang memimpin perusahaan saat ini?"
“Sebenarnya akulah yang memimpin perusahaan itu. Aku hanya bekerja di balik layar, tapi Titan sepertinya sudah menyerah. Dia sudah tak sanggup lagi untuk memimpin, karena agensinya juga memiliki jadwal padat."
“Kalau begitu kenapa kau tak kembali?"
“Aku masih ada urusan penting di rumah sakit yang kurasa cukup lama. Jika ada waktu luang aku akan kembali ke perusahaan."
“Baiklah Bos, aku bersedia menggantikan Titan sementara mulai besok."
“Ya," jawab Triton singkat, kemudian mematikan sambungannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain, seorang pemuda hanya menghela nafas pasrah, “Apa boleh buat, aku harus menjalankan perusahaannya mau tidak mau, sebelum nyawaku dicabut olehnya. Sabar Noe."
Noe adalah saudara angkat Triton dan Titan awalnya Noe adalah sahabat dua bersaudara itu semasa kecil. Orang tua mereka berteman, bahkan sangat dekat, tapi naas kedua orang tua Noe meninggal dalam kecelakaan pesawat saat pergi dinas.
Karena tak tega dengan Noe yang menjadi yatim piatu sedari kecil. Andrew dan Belinda melakukan adopsi dan Noe menjadi anak mereka.
“Baiklah sudah saatnya aku pulang, tunggu aku Kakak Kelinci dan Adik Bebek," gumamnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah menghubungi Noe, Triton pun menghubungi adiknya yang bersuara unik itu.
“Halo, Kak," sapa Titan pada sang kakak.
“Minggu depan kau sudah bisa beristirahat dari perusahaan, fokuslah pada artis agensimu, Titan."
“Oh, benarkah, kenapa tiba-tiba sekali. Apa kau akan mengundurkan diri sebagai dokter, Kak?"
“Eh, serius, dia siapa?"
“Nanti kau juga tahu saat dia datang."
“Ah, kau selalu membuatku penasaran! Baiklah kututup teleponnya."
“Hem!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat ini Rain sedang mempersiapkan matang-matang rencananya. Semoga saja Galaksi sudah menemukan hunian yang ia inginkan.
Ponsel Rain tiba-tiba berbunyi, ternyata panggilan dari Galaksi.
“Halo."
“Aku sudah mendapatkan hunian yang sangat sederhana namun nyaman seperti yang kau inginkan di alamat yang kau maksud."
“Benarkah?"
“Ya, modelnya sangat sederhana dan minimalis, tapi masih ada kesan modern."
“Ah, besok akan aku lihat. Thank you, Brother."
“You're welcome."
Rain bisa bernafas lega saat ini. Rencana awal sudah sukses, tinggal ke rencana selanjutnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sunny akhirnya mendapatkan pekerjaan, meskipun menjadi tukang cuci piring di sebuah rumah makan yang tak terlalu besar.
Melelahkan tapi apa boleh buat? Dirinya juga butuh pekerjaan ini untuk bertahan hidup, dari pada ia tidak mendapat pekerjaan sama sekali.
Namun ia masih tidak menyangka bahwa sekarang hidupnya bagai langit dan bumi, yang dulunya tak pernah kekurangan dan serba ada, sekarang semuanya berubah dengan begitu cepat.
“Baiklah, semangat Sunny, jangan pernah mengeluh, kau akan baik-baik saja!" Sunny menyemangati diri sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Titan dapat bernafas lega, akhirnya sang kakak dapat memahami tanggung jawabnya sebagai anak sulung.
Hera yang sedari tadi melihat tingkah kekasihnya pada saat makan siang pun menjadi heran.
“Adakah sesuatu yang membuat kekasihku yang ikut ini merasa senang?" tanya Hera.
“Aku memang sedang senang hari ini, karena Triton akhirnya menemukan seseorang untuk menggantikan aku di perusahaan Daddy."
“Benarkah, siapa dia?"
“Aku sendiri juga belum tahu siapa dia, kalau sudah sampai, Triton akan memberi kabar, ah bukankah itu bagus? Setidaknya aku tidak akan menua lebih cepat karena terlalu banyak berpikir. Lagi pula perusahaan itu bukan bidangku. Triton sebenarnya lebih mampu, tapi sayangnya ia pemalas."
“Dia memang terlalu banyak bersenang-senang tanpa memanfaatkan nama besar keluarga, tapi aku rasa ia akan berubah, bukan menjadi Triton yang seenaknya saja, tapi menjadi Triton yang bertanggung jawab."
“Ya kondisi yang merubahnya saat ini, bagaimana pun dia memiliki keluarga kecil yang harus ia nafkahi."
“Kau benar."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam telah menggantikan siang, Rain bergegas untuk pulang setelah lembur mengerjakan berkas yang dapat membuat tebal kantongnya.
Saat ia sudah memasuki mobilnya dan hendak keluar dari area kantor, tiba-tiba saja mobilnya dihentikan oleh Aurora.
“Presdir, tunggu!" seru Aurora. Mau tak mau Rain menghentikan laju mobilnya.
“Ada apa?"
“Bisakah saya menumpang dengan Anda, Presdir?"
“Kau tak membawa kendaraan?"
“Saya, tak membawanya hari ini, karena sedang dalam perawatan di bengkel, jadi saya naik busway tadi pagi, tapi sepertinya sudah tidak ada malam-malam begini," ujar Aurora dengan nada memelas.
Rain tak langsung menjawab, ia melihat jam yang melingkar di tangannya.
“Masuklah!" ujar Rain tiba-tiba sambil membuka kunci, agar Aurora bisa membuka pintu mobil.
Mendengar jawaban Rain membuat hati Aurora girang bukan main.
“Terima kasih, Presdir!" seru Aurora kemudian masuk ke dalam mobilnya.
“Jangan lupa gunakan sabuk pengamanmu!" suruh Rain.
Aurora pun memakai sabuk pengaman sesuai perintah Rain.
“Kau memiliki ponsel?" tanya Rain pada Aurora.
“Eh, kenapa dia bertanya mengenai ponselku. Apa dia sengaja menanyakan itu, agar dia menyimpan nomornya di kontak ponselku?" batin Aurora terlalu percaya diri.
“Saya memilikinya, Presdir. Akan tetapi untuk apa Presdir menanyakan itu? Maaf saya tidak bermaksud tidak sopan pada Anda," jawab Aurora berusaha tenang.
“Tak apa. Kalau begitu boleh kupinjam ponselmu?" tanya Rain.
“T-tentu, Presdir." jawab Aurora sedikit terbata, ia segera merogoh tasnya dan mengeluarkan ponsel miliknya.
“Ini, Presdir." ujar Aurora kemudian menyerahkan ponsel miliknya yang langsung diterima oleh Rain.
Rain mengotak-atik ponsel Aurora yang sebelumnya sudah dibuka password-nya oleh sang pemilik ponsel.
Aurora yang menunggu ponselnya dikembalikan pun merasa panas dingin dan ingin menjerit kesenangan.
Tidak membutuhkan waktu lama, ponsel tersebut Rain sudah kembalikan pada Aurora.
“Ini kukembalikan ponselmu," ujar Rain.
“Eh, ini sudah, Presdir?" tanya Aurora dan Rain pun hanya mengangguk sebagai balasan. Aurora segera memasukkan ponsel tersebut ke dalam tasnya dengan penuh senyuman.
“Aku baru saja berbaik hati men-download aplikasi taksi online di ponselmu, nah, karena sekarang kau sudah memiliki aplikasinya, silahkan keluar dari mobilku dan pesan taksi online sesuai dengan alamat tujuanmu," ujar Rain tanpa dosa sekaligus menyuruh Aurora untuk keluar dari mobilnya.
Aurora hanya mengangakan mulutnya tak percaya, “T-tapi Presdir, saya—."
“— a-aku tak ingin mendengar alasan apa pun darimu karena aku sangat sibuk dengan segala urusan yang mengantre, jadi silahkan keluar dari mobilku dan pesanlah taksi online secara mandiri. Selamat malam," ucap Rain tanpa dosa.
Aurora terpaksa turun dari mobil mewah Rain dengan perasaan malu bercampur kesal untuk kesekian kalinya. Setelah Aurora keluar, Rain melajukan mobilnya meninggalkan kantor.
“Argh, sial!" teriak Aurora kesal.
TBC
Charlie Thelxinoe Stevenson
Visual kediaman Sullivan
Ruang tamu
Bagian belakang dan kolam
Mobil Rain